oleh

Tepatkah KKB Papua Dilabeli Teroris

Kitorangpapuanews.com – Pernyataan langsung Menko Polhukam, Mahfud MD menetapkan secara sah dan resmi bahwa KKB papua sebagai teroris pada tanggal 29 April 2021 . Pernyataan tersebut merupakan reaksi keras pemerintah terhadap aksi kekejaman Kelompok Separatis Teroris (KST) Papua selama ini.

Pernyataan tersebut tentunya mendapat tanggapan positif dari masyarakat Papua dan hanya kelompok pro-KST saja yang menolak pelabelan teroris kepada KST tersebut. Dimana Pihak pro-KST selalu menolak label teroris tersebut dengan menyuarakan persoalan yang  bersumber pada rasa ketidak adilan serta ada pula alasan-alasan lain yang bertumpu pada HAM.

Teroris termasuk kedalam kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Dimana dalam angka 2 pasal 1 Undahan-Undang nomor 5 tahun 2018 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme dibagi menjadi dua perbuatan. Pertama berbuat kekerasan dan yang kedua, ancaman melakukan kekerasan.

Dimana dalam definisi tersebut terdapat 3 syarat sebuah aksi kekerasan sendiri dikategorikan sebagai terorisme.

  1. Dampak terhadap manusia, yakni menimbulkan suasana teror atau rasa takut bersifat meluas dan bisa menimbulkan korban masal.
  2. Dampak terhadap lingkungan yakni menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital strategis, fasilitas publik, lingkungan hidup atau fasilitas internasional.
  3. Ada motif ideologi, politik atau gangguan keamanan.

Berdasarkan definisi diatas, maka aksi KST di Papua termasuk telah menimbulkan suasana teror sekaligus tidak nyaman kepada warga, siapapun warga itu, apakah warga asli Papua atau pendatang. Dimana Memasuki tahun 2021, rangkain aksi teror KST telah berlangsung meluas.

Tentu ingatan kita masih jelas terasa pada tanggal 2 Desember 2018 tentang aksi pelanggaran HAM berat yang dilakukan KST di Papua. Dimana berdasarkan Kepala Bidang Humas Polda Papua, sebanyak 31 orang meregang nyawa karena akibat aksi kekejaman yg dilakukan KST pada saat itu.

Pembakaran pesawat MAF pada tanggal 2 Januari 2021 di Kampung Pagamba Kabupaten Intan Jaya. Pembakaran tower BTS di Distrik Mabu Kabupaten Puncak Pada tanggal Januari 2021. Pembakaran sokolah dan pembunuhan terhadap dua orang Guru pada awal bulan April 2021 di Distrik Beoga Kabupaten Puncak.

Fakta ini membuktikan cara yang digunakan KST merupakan teror dengan melakukan pembunuhan terhadap warga sipil dan pengrusakan terhadap fasilitas publik sehingga mengakibatkan munculnya rasa takut terhadap aksi tersebut. Rangkaian aksi kekejaman KST tidak hanya berdimensi pada gangguan keamanan saja, melainkan juga dimuati dengan motif ideologi dan politik didalamnya yang tentunya bertujuan untuk memisahkan diri dari NKRI.

Sebagai contoh, salah satu kajian terhadap lima kategori kelompok teroris pada 2018, dari Ranya Ahmed sudah memasukan OPM (yang kini disebut KST) sebagai kelompok teroris berbasis separatisme. Kajian ini mengaitkan ideologi dengan pilihan taktik kelompok teroris . Menurut ranya, sumber ideologi OPM yang menghendaki negara Papua merdeka berasal dari kecenderungan pengikut OPM untuk memisahkan diri dari Indonesia, ini merupaka kecenderungan laten yang mewujud dalam Gerakan separatisme dengan menggunakan aksi teror. Dalam journal of applied security research pada 2018, Ranya menegaskan kelompok separatis merupakan jenis kelompok perlawanan yang berusaha menyingkirkan pemerintah yang sah.

Sebagai tambahan dari berbagai kajian atau literatur tentang terorisme menyebutkan, keberadaan kelompok teroris tidak tergantung pada kuantitas anggota kelompoknya. Berapapun jumlah anggota kelompok terkait hal tersebut bisa dikategorikan kelompok teroris. Dikaitkan dengan KST yang jelas-jelas merupakan kelompok yang berideologikan separatisme dan menggunakan aksi kekerasan sebagai alat perjuangannya. Dengan kata lain berapapun jumlah KST, maka KST tetap dilabeli sebagai teroris.

News Feed