oleh

Temui Kapolda Papua, Mahasiswa Eksodus di Timika Jelaskan Situasi “Mahasiswa eksodus di Timika Pecah Dua Kelompok, Ada Kembali ke kampus dan Ada Yang Gabung Simpatisan Kelompok Papua Merdeka”

-Artikel, News-1.104 views
Kitorangpapuanews.com – Mahasiswa eksodus hampir menyebar di sejumlah kabupaten di Papua dan saat ini Polda Papua menduga mahasiswa eksodus yang masih bertahan di Papua akan menggagalkan pelaksanaan PON Papua yang diselenggarakan pada Oktober 2020.
Tak hanya itu saja, banyak mahasiswa eksodus memilih menetap di Papua dan menikah, ada juga yang sudah meninggal dunia karena sakit. “Mahasiswa eksodus di Timika sudah pecah menjadi dua kelompok. Ada yang kembali ke kampusnya dan ada mahasiswa eksodus yang yang ikut gabung simpatisan kelompok Papua merdeka. Akhirnya, kami sudah berbeda pendapat,” jelasnya.
 
Perwakilan mahasiswa Papua eksodus bertemu dengan Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw. Empat orang perwakilan mahasiswa menyatakan ingin kembali melanjutkan kuliah ke kota studi masing-masing. Saat bertemu Kapolda Papua, perwakilan mahasiswa ini mengadu tentang kondisinya.
 
Raymon Nerigi, salah satu mahasiswa Papua eksodus menyebutkan tersisa 200 orang mahasiswa dari sebelumnya terdapat 900 orang mahasiswa eksodus yang bertahan di Timika sejak Agustus 2019. “Sampai hari ini, pemerintah tidak melihat keberadaan kami, padahal pemerintah adalah orangtua bagi kami. Kami bingung mau buat apa,” jelasnya, Kamis (20/2) di Timika.
 
Raymon mengaku mahasiswa Papua eksodus telah tiga kali menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, bahkan dalam menyampaikan aspirasi selalu nyaris bentrok dengan kepolisian. “Kami ingin mendengar sendiri, apa langkah yang akan diambil pemerintah,” katanya.
 
Raymon menyebutkan sebagian mahasiswa yang kembali ke kota studi asal, berangkat pakai dana pribadi. Terakhir ada sekitar 45 orang mahasiswa yang kembali ke kampusnya dengan bantuan Yoris Raweyai, anggota DPD RI perwakilan Papua. “Masalah lainnya, setelah kembali ke kota studi, banyak anak Papua yang tinggal dalam satu tempat dihuni oleh 15 orang. Ini dikarenakan dana beasiswa ada yang diputus, pasca ramai-ramai mahasiswa kembali ke Papua,” jelasnya.
 
Sementara itu, Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw menyebutkan mahasiswa eksodus harus belajar dari pengalaman, bahwa setelah meninggalkan kota studi, maka yang bisa menentukan nasib seseorang kedepan adalah kembali kepada diri sendiri.
“Mahasiswa putus sekolah tak ada yang bisa diharapkan, sebab untuk membangun Papua dibutuhkan sumber daya manusia yang handal. Jangan terpengaruh dengan pihak yang sengaja mengajak mahasiswa untuk tetap bertahan,” katanya.
 
Kapolda Papua menyebutkan Gubernur Papua, Lukas Enembe telah menggelontorkan dana sekitar Rp1,5 miliar dalam tahap pertama untuk memulangkan kembali mahasiswa eksodus ke kota studi masing-masing.
“Sayangnya, ada orang yang diduga menyalahgunakan dana ini, sehingga perlu diproses hukum,” ujarnya.
 
Kapolda Papua berharap dengan komunikasi yang baik, akan ditemukan solusi memulangkan mahasiswa eksodus untuk kembali kuliah.Pada Agustus 2019, lebih dari 2.000 mahasiswa eksodus kembali ke Papua dan meninggalkan kota studinya, karena dipicu masalah rasisme di Surabaya.
 
Pasca mahasiswa eksodus kembali ke Papua, terjadi kerusuhan pada sejumlah tempat, Kepolsian menduga mahasiswa eksodus menjadi dalang kerusuhan di Papua yang berafiliasi dengan kelompok Papua merdeka.

News Feed