oleh

Melawan Lupa Kisah Jimmy, Pekerja Istaka Karya yang Selamat dari Pembantaian KST

Kitorangpapuanews.com – Sebanyak 31 pekerja PT Istaka Karya yang sedang membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga dibantai Kelompok Separatis Teroris (KST) Papua pada 2 Desember 2018. Dari tragedi tersebut ternyata ada karyawan PT Istaka Karya yang selamat yang bernama Jimmy Aritonang.

Pria ini selamat setelah pura-pura mati setelah KST membantai puluhan rekannya sesama karyawan PT Istaka Karya yang sebelumnya telah disandera.

Jimmy Aritonang menceritakan kronologi peristiwa yang dia alami selamat dari pembantaian KST, bahwa pada Sabtu 1 Des 2018 seluruh karyawan PT Istaka Karya memutuskan untuk tidak bekerja karena pada hari itu ada upacara peringatan 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaan KST dan dimeriahkan dengan upacara bakar batu bersama masyarakat.

Jimmy menuturkan, sekitar pukul 15.00 WIB kelompok OPM mendatangi Kamp PT Istaka Karya dan memaksa seluruh karyawan berjumlah 25 orang keluar selanjutnya digiring menuju Kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat dikawal sekitar 50 orang OPM bersenjata campuran standar militer.

Keesokan harinya, kata Jimmy, Minggu 2 Desember 2018 pukul 07.00 WIT seluruh pekerja dibawa berjalan kaki dalam keadaan tangan terikat menuju bukit puncak Kabo, di tengah jalan mereka dipaksa berbaris dengan formasi 5 shaf dalam keadaan jalan jongkok.

“Tidak lama kemudian para anggota KST dalam suasana kegirangan menari-nari sambil meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua, mereka secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian pekerja tertembak mati di tempat sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah,” ungkapnya.

Setelah itu. lanjut dia, KST meninggalkan para korban melanjutkan perjalanan menuju bukit Puncak Kabo. Lalu sebanyak 11 orang karyawan yang pura-pura mati berusaha bangkit kembali dan melarikan diri.

“Namun malangnya mereka terlihat oleh sejumlah anggota OPM sehingga mereka dikejar. Kemudian lima orang tertangkap dan digorok oleh KST (meninggal di tempat), enam orang berhasil melarikan diri ke arah Mbua, dua orang diantaranya belum ditemukan sedangkan empat orang satu diantaranya saya selamat setelah diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/Yalet di Mbua,” ujarnya.Jimny kembali menceritakan, bahwan pada Senin 3 Desember 2018 sekitar pukul 05.00 WIT Pos TNI 755/Yalet tempat dia dan rekan lainnya diamankan diserang oleh anggota KST bersenjata standar militer campuran panah dan tombak.

“Rupanya mereka tetap melakukan pengejaran. Serangan diawali dengan pelemparan batu ke arah Pos sehingga salah seorang anggota Yonif 755/Yalet atas nama Serda Handoko membuka jendela sehingga tertembak dan meninggal dunia. Anggota pos membalas tembakan sehingga terjadi kontak tembak dari jam 05.00 pagi hingga 21.00 WIT. Karena situasi tidak berimbang dan kondisi medan yang tidak menguntungkan, maka pada Selasa 4 Desember pukul 01.00 WIT, Danpos memutuskan untuk mundur mencari medan perlindungan yang lebih menguntungkan, saat itulah salah seorang anggota atas nama Pratu Sugeng tertembak di lengan,” jelasnya.

Kemudian, menurut Jimmy pada hari Selasa 4 Des 2018 pukul 07.00 WIT Satgas gabungan TNI-Polri berhasil menduduki Mbua dan melaksanakan penyelamatan serta evakuasi korban.

Apa yang diceritakan Jimmy merupakan sepenggal kisah, bagaimana kekejaman KST Papua melakukan suatu pelanggaran HAM berat. Dimana sampai saat ini KST Papua tetap melakukan aksi kekejamannya di Papua. Seperti dari pembunuhan terhadap warga sipil, aparat TNI-Polri dan pengrusakan terhadap fasilitas publik. Berdasarkan pernyataan Menkopolhukam Mahfud Md pada tanggal 3 Mei 2021, tercatat dalam kurun waktu 3 tahun terakhir 95 orang meninggal dunia dengan rincian 59 warga sipil, 27 prajurit TNI, dan 9 personel Polri serta terdapat 110 korban luka-lukadiantaranya 53 warga sipil, 51 prajurit TNI, dan 16 personel Polri.

News Feed