oleh

Warga Papua Jadi Pengungsi di Negeri Sendiri

-Artikel-414 views

Warga Papua telah menjadi pengungsi di negeri sendiri. Hingga 7 ribu warga Papua tinggal di desa-desa pengungsi, terpisah dari tanah air mereka oleh Sungai Fly yang luas dan tercemar.

Kitorangpapuanews.com -Sudah 35 tahun sejak Agapitus Kiku memutuskan dia tidak menginginkan masa depan tanpa kebebasan.Sejak ia masih muda, ia telah terpaksa bekerja keras di bawah pengawasan tentara Indonesia yang berwenang atas sukunya di sudut tenggara provinsi yang dulu disebut Irian Jaya.

Dia tidak memiliki prospek untuk bekerja di bidang yang diinginkannya, yaitu di kehutanan atau pertambangan. Pekerjaan-pekerjaan itu hanya untuk tentara, katanya, atau untuk para pendatang dari Jawa yang masuk ke daerah itu melalui program transmigrasi. Program ini telah dimulai sejak pemerintahan Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintahan Indonesia.

Pada Februari 1984, pemberontakan oleh kaum nasionalis Melanesia di ibu kota provinsi Jayapura memicu pembalasan brutal dari tentara Indonesia selama berbulan-bulan.

Kiku, istrinya, dan dua anak mereka yang masih kecil mengungsi menuju perbatasan Papua Nugini, bersama dengan sekitar 11 ribu orang Papua lainnya. Mereka berjalan kaki atau berlayar menggunakan sampan. Eksodus itu berlanjut selama hampir 18 bulan, memicu pengerahan pekerja bantuan PBB dan jurnalis internasional, The Guardian melaporkan.

Keluarga Kiku berjalan kaki selama seminggu, di malam hari, mereka bersembunyi dari tentara. Satu anaknya, yang berusia dua tahun, meninggal di perjalanan. Mereka menyeberangi Sungai Fly yang berkelok-kelok, yang membelokkan lurusnya garis perbatasan yang digariskan kartografer kolonial antara Papua dan Papua Nugini.

Di sana, di tanah antah-berantah, para pengungsi menyatakan mereka tidak akan pulang sampai mereka mendapat “kemerdekaan”.

Sampai saat ini, mereka masih menunggu, terpisah dari tanah air mereka oleh sungai yang lebar, dengan air yang berwarna cokelat dan tercemar, yang telah menjadi saluran pembuangan lumpur beracun dari tambang Ok Tedi.

‘Mereka memiliki agenda mereka sendiri: kemerdekaan’

Sesuai sensus terakhir tahun 2014, jumlah orang yang tinggal di desa-desa pengungsi sepanjang Sungai Fly adalah 5.500 jiwa. Salah satu pejabat imigrasi Papua Nugini yang baru-baru ini berada di lapangan, memperkirakan populasinya mendekati 7 ribu jiwa.

Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang menjadi inti dari gerakan 1984, kebanyakan dari suku Muyu yang tanah adatnya membentang di kedua sisi perbatasan, ditambah anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Mereka telah menolak relokasi ke pemukiman badan pengungsi PBB (UNHCR) yang terletak jauh dari perbatasan.

“Ketika saya bersama UNHCR, kami mencoba yang terbaik untuk menarik mereka keluar dari desa dan pergi ke (permukiman) East Awin,” kenang Robin Moken, lelaki Muyu dan mantan pejabat di ibu kota provinsi Kiunga, dikutip dari The Guardian.

“Mereka berkata ‘tidak, kami sedang memperjuangkan hak kami, dan kami akan tinggal di sini’. Mereka akan tetap di sana, mereka memiliki agenda sendiri, yaitu kemerdekaan.”

Namun, keputusan mereka mendatangkan konsekuensi, mereka kehilangan pengakuan, akses untuk mendapatkan pendidikan bagi anak-anak mereka, dan perawatan kesehatan.

News Feed