oleh

VIRUS MAHASISWA EKSODUS, MENCORENG KESUCIAN MAHASISWA PAPUA !

Kitorangpapuanews.com – Pernyataan Wakil Bupati Mimika, Papua, Johannes Rettob dengan tegas menyatakan bahwa mahasiswa eksodus yang melakukan aksi demo di Kantor Pusat Pemerintah Kabupaten Mimika Senin (10/2) lalu tidak jelas. “Karena mahasiswa yang mau sekolah itu sudah kembali semua untuk sekolah dan kuliah. Sedangkan yang demo, tidak jelas,”

Ada satu fenomena yang saya lihat belakangan ini kelompok yang mengatasnamakan MAHASISWA EKSODUS adalah sebuah tamparan dan mencoreng kesucian jas almamater mahasiswa Papua. Apa yang terjadi dengan kelompok yang mengatasnamakan mahasiswa Eksodus ini, mereka melakukan unjuk rasa hanya menyuarakan kepentingan kelompoknya dan melakukan teror dengan ancam akan GAGALKAN PON XX dimana masyarakat Papua sebagai tuan rumah. Apakah mahasiswa eksodus ini tekena virus separatis?, menyeruakan dengan menggunakan ancaman kepada masyarakat. Selain itu kelompok mahasiswa eksodus dalam melakukan aksi unjuk rasa tidak pernah menggunakan jas almamater, yang dimana satu simbol dari sebuah perguruan tinggi dalam kerangka Tridarma perguruan tinggi : Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Apakah sekarang ini jaket almamater mengalami devaluasi (penurunan nilai)? Apa benar mahasiswa eksodus ini para Drop Out yang menjual harga diri dengan membawa nama sebuah Mahasiswa?. Tindakan-tindakan yang digunakan mahasiswa eksodus membuat antipati masyarakat Papua.

Mahasiswa Eksodus telah merendahkan derajat mahasiswa terutama perguruan tinggi tempat mereka menuntut ilmu. Perguruan tinggi adalah institusi pendidikan yang mengutamakan nalar, berpikir analitis dan menjunjung prisinsip-prinsip ilmiah dan mahasiswa adalah intelektual muda yang dididik untuk itu berpikir besar, rasional, dan ilmiah. Mereka  tidak menyadari bahwa bisa kuliah karena adanya subsidi dari negara. Perlu diingat juga bahwa negara memberikan subsidi kepada perguruan tinggi untuk menyelenggarakan proses pendidikan tidak lain adalah dari uang rakyat. Tidak peduli rakyat itu miskin atau kaya. Mahasiswa harus berpikir, bahwa subsidi itu berasal dari ibu-ibu penjual kangkung di pasar, buruh tani yang berkerja panas-panasan, para nelayan yang berjuang di lautan lepas, dan lain sebagainya. Melalui pajaklah mereka menyalurkan uangnya untuk memberikan subsisdi kepada perguruan tinggi.

Masyarakat Papua sudah trauma dengan aksi mahasiswa yang berujung kerusuhan, korban jiwa dan akhirnya membuat Papua tidak damai. Yang Masyarakat inginkan sekarang kepada mahasiswa bukan demo tapi bukti pemberdayaan riset keilmuan, pemikiran dan ide yang diharapkan untuk kemajuan Provinsi Papua.

Aksi yang dilakukan mahasiswa eksodus apabila terus dibiarkan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti mahasiswa Papua yang benar-benar mencari ilmu terkena virus separatis, mereka selalu berkedok kebebasan penyampaian pendapat sebagai bentuk Hak Asasi Manusia tetapi dibalik itu melakukan makar dengan maksud untuk memisahkan Provinsi Papua dan Papua Barat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aparat keamanan harus dengan cepat mengambil langkah tegas terhadap para mahasiswa eksodus yang mengancam akan gagalkan PON XX ini.

Saya menuliskan hal ini karena seperti yang kita tahu, disetiap peristiwa apa pun, mahasiswa selalu tampil sebagai subjek Guardian of Value adalah penjaga nilai-nilai di masyarakat, berpikiran kritis, analitis, hingga mereka terjun menyuarakan keadilan, demokrasi, dan kesejahteraan demi aspirasi rakyatnya walaupun status masih belajar tapi ada pelekatan kata MAHA dalam identitas mereka, jadi mereka bukanlah orang sembarangan, jadi Stop Provokasi Mengatasnamakan Mahasiswa !

Salam Mahasiswa, Mari Jaga Kesucian Jas Almamater Mahasiswa Papua.

News Feed