ULAH KKB MEMBAKAR SEKOLAH, ANAK-ANAK PAPUA TERLANTAR TIDAK BELAJAR

oleh

Timika, Kitorang Papua – Buntut dari aksi pembakaran gedung sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua di Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua pada Maret 2018 lalu, menyebabkan 300-an anak usia SD-SMP terlantar. Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Mimika, Papua, AKBP Agung Marlianto.

“Laporan dari kepala sekolah, di sana ada sekitar 300-an anak usia SD dan SMP. Sekarang mereka tidak sekolah karena gedung sekolahnya sudah terbakar. Kalau dibiarkan terus, berarti mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Ini sangat memprihatinkan dan perlu segera dicarikan solusi secepatnya, tidak boleh ditunda-tunda,” jelasnya, di Timika, Jumat (16/11) pagi.

Belum lama ini Ia bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mimika, Jeny O Usmani sempat mengunjungi jajaran Kemendikbud di Jakarta untuk membicarakan rencana rehabilitasi gedung SD-SMP Negeri Banti.

Pihak Disdikbud Mimika memutuskan menangguhkan pembangunan kembali gedung sekolah yang terbakar itu dengan alasan faktor keamanan yang belum kondusif di Banti dan sekitarnya.

“Satgas, baik TNI maupun Polri yang ada di sana meyakinkan bahwa saat ini KKB tidak ada lagi di selasar atas area Freeport, baik dari Banti sampai Aroanop. Daerah itu sekarang steril dari KKB sebab anggota TNI dan Polri ada di sana. Kami memastikan bahwa wilayah Banti dan sekitarnya kini aman. Kami menyayangkan kalau ada pernyataan seolah-olah wilayah Banti tidak aman,” tandas Kapolres.

Dia menegaskan, saat pertemuan dengan jajaran Kemendikbud di Jakarta baru-baru ini, telah memberi jaminan bantuan pengamanan penuh kepada pihak kontraktor maupun pekerja yang akan membangun kembali gedung SD-SMP Negeri Banti.

Selain membakar gedung SD-SMP Negeri Banti, KKB juga membakar gedung Rumah Sakit Waa-Banti milik Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) dan sejumlah rumah penduduk saat kelompok bersenjata separatis itu menguasai kawasan Banti dan sekitarnya pada Maret 2018 lalu.

Kitorang Papua harus maju dan pintar. Jangan sampai ulah KKB ini membuat kita semakin tertinggal. Anak-anak Papua harus cerdas agar menjadi pemimpin Indonesia masa depan. (*)