Trans Papua dibangun, Warga Papua menuai hasil

oleh
Bentangan jalan trans Papua (Dok. PU)

Jayapura – Salah satu faktor penyebab meningkatknya perekonomian masyarakat di Papua adalah telah tersambungnya Jalan Trans Papua khususnya di Papua Barat yang memiliki panjang 1.070 km dari total 4.330,07 km.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Papua, Mikael Kambuaya mengatakan, taraf ekonomi masyarakat Papua sedikit demi sedikit membaik.

“Saya kira yang pertama menghubungkan satu daerah yang terisolir dengan kota, contoh kasusnya dulu di Kabupaten Maybrat belum ada jalan, dengan ada jalan berarti orang kampung situ bisa ke kota dengan menggunakan jalan Trans Papua,” kata Mikael kepada awak media, Selasa (16/5/2017).

Jalan Trans Papua di Provinsi Papua Barat untuk segmen I dengan ruas Sorong-Kambuaya-Manokwari sepanjang 594,81 km sudah tersambung 100%. Sedangkan segmen II dari Manokwari-Wasior-Batas Provinsi Papua dengan panjang 475,81 km masih ada 12 km lahan hutan yang belum dibebaskan.

Meski belum 100% tersambung, namun Mikael memastikan, perekonomian masyarakat yang dilalui Jalan Trans Papua sudah meningkat. Buktinya, kata dia, banyak masyarakat yang membangun rumah semi permanen.

Salah satu faktor masyarakat Papua yang mampu membangun rumah semi permanen juga karena biaya angkut yang jauh lebih berkurang dibandingkan dengan belum tersambungnya jalan Trans Papua.

“Tentunya dengan biaya angkut yang lebih murah sekarang mereka sudah mulai membangun semi permanen, kalau dulu kan rumah kayu, sekarang sudah lihat dengan adanya jalan sudah ada rumah semi permanen, pakai asbes, semen, jadi material langsung,” tambahnya.

Perputaran ekonomi masyarakat Papua, kata Mikael, karena adanya pilihan transportasi. Mulai dari pesawat, kapal, dan juga kendaraan mobil. Selain lebih murah, jalan darat pun dapat dilakukan beberapa kali dalam satu hari.

“Naik pesawat itu memang cepat, tapi ongkosnya lebih mahal dan tergantung cuaca, jadi tidak setiap hari beroperasi,” tukasnya.

Dia melanjutkan, sebelum tersambungnya Jalan Trans Papua, banyak masyarakat yang harus merogoh biaya lebih besar untuk menggunakan pesawat dan kapak jika ingin ke kota. Bahkan, pesawat dan kapal juga pengoperasiannya terkadang ditentukan oleh faktor cuaca. (Dees)