Tipu Muslihatnya Terbongkar, Ajudan Goliat Tabuni Ajak Rekan-rekannya Kembali ke NKRI

oleh -311 views

“Semua itu tipu-tipu saja, bertahun-tahun hidup menderita di hutan, kepanasan, kedinginan, kehujanan, kelaparan dan lain-lain. Tiap hari hanya makan petatas dan keladi ambil dari kebun warga, sementara pembangunan di kampung-kampung dan di kota-kota semakin maju dan warga hidup sejahtera”

 

Puncak Jaya, Kitorangpapuanews.com – Seorang ajudan Goliat Tabuni, tokoh utama Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) yang sering menebar teror di wilayah pegunungan tengah Papua khususnya wilayah Puncak Jaya, Telangga Gire (30 th) Sabtu (8/6) di Kampung Wurak, Distrik Illu, Kabupaten Puncak Jaya, Papua menyerahkan diri pada aparat keamanan dan menyatakan kesetiaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena merasa dikhianati dengan dibohongi berulang kali oleh Goliat Tabuni.

Keinginan penyerahan diri yang dilakukan Telangga Gire telah berlangsung sejak 5 Mei 2019 setelah menjalin komunikasi dengan seorang anggota Kodim 1714/PJ, Sertu Jefri May, namun saat itu dirinya tidak tahu bagaimana caranya dan takut ditembak oleh aparat TNI/Polri.

Berselang sebulan menjalin komunikasi dengan Sertu Jefri baik via telepon maupun bertemu langsung dan mendapat kepastian bahwa TNI menjamin keselamatan mereka bila ingin menyerahkan diri secara langsung oleh Dandim 1714/PJ Letkol Inf Agus Sunaryo akhirnya Telangga Gire beserta tiga orang rekannya yakni, Piningga Gire (25 th), Tekiles Tabuni (30 th) dan Perengga (27 th)menyerahkan diri dan menyatakan kesetiannya pada NKRI sekaligus menyerahkan satu pucuk senjata api jenis Mosser dan sejumlah munisi kaliber 7,62 yang dirampas kelompoknya saat melakukan penyerangan Polsek Karubaga Kabupaten Tolikara tahun 2013.

Selama mengikuti jejak Goliat Tabuni, dirinya selalu dijanjikan bahwa Papua akan merdeka dan akan diberikan jabatan tinggi. “Itu semua tipu-tipu saja. Kami bertahun-tahun hidup menderita di hutan, kepanasan, kedinginan, kehujanan, kelaparan dan lain-lain. Tiap hari hanya makan petatas dan keladi ambil dari kebun warga, sementara pembangunan di kampung-kampung dan di kota-kota semakin maju dan warga hidup sejahtera, ujar Telangga menyesal.

Disamping merasa dikhianati, Telangga juga memiliki tanggung jawab moral terhadap keempat istrinya dan 13 anaknya yang masih kecil dan harus bersekolah agar masa depan mereka lebih baik dari pada dirinya.

“Kami juga pikir anak-anak, mereka harus sekolah agar nanti hidupnya lebih baik tidak seperti Saya. Kami mau kerja yang baik-baik agar anak-anak diurus menjadi orang yang berhasil, katanya.

Telangga juga berpesan pada rekan-rekannya yang masih berada di dalam hutan agar segera kembali ke pangkuan NKRI dan hidup normal sebagai warga Negara Indonesia. Dirinya menganggap perjuangannya selama ini hanya mimpi-mimpi kosong. “Kasihan anak keturunan kita. Mereka harus kita siapkan agar dapat hidup lebih baik di masa yang akan datang”, imbaunya.

“Semua itu tipu-tipu saja, bertahun-tahun hidup menderita di hutan, kepanasan, kedinginan, kehujanan, kelaparan dan lain-lain. Tiap hari hanya makan petatas dan keladi ambil dari kebun warga, sementara pembangunan di kampung-kampung dan di kota-kota semakin maju dan warga hidup sejahtera,” sesalnya.