oleh

“TERSANDERA” 500 WARGA OLEH MASSA PERUSUH SELAMA 10 JAM DI WAMENA

-Artikel, News-16.587 views

Kitorangpapuanews.com – Gejolak kerusuhan anarkis terjadi di Wamena ,Kabupaten Jayawijaya, Papua pada Senin (23/9/2019). Sekelompok massa perusuh melakukan aksi merusak sekolah, membakar 50 rumah warga di jalan Homhom, menjarah 150 kios masyarakat, merusak gedung PLN, dan membakar kantor Bupati Jayawijaya, akibat kerusakan tersebut mengalami kerugian material milyaran rupiah

Peristiwa berdarah ini juga menyebabkan sejumlah warga dari jawa, sumatera, sulawesi dan NTT yang lahir, besar dan berdomisili di Kota Wamena menjadi korban jiwa, terdapat 35 orang warga yang tewas dalam kerusuhan di antaranya terjebak dalam bangunan yang terbakar, sementara 65 orang lainnya menderita luka-luka parah. Korban yang tewas rata-rata mengalami luka bacok, luka bakar, tusukan dan luka akibat terkena benda tumpul..

Sebagian warga dengan panik menyelamatkan diri ke beberapa tempat pengungsian di tengah kota seperti kantor DPRD, Polres, Kodim dan Koramil yang sudah disiapkan oleh aparat keamanan setempat dan ada juga warga yang terjebak di tengah-tengah aksi anarkis perusuh tepatnya di wilayah pinggiran kota Wamena (Pike).

Sejumlah warga dari jawa, sumatera, sulawesi dan NTT yang berada di pinggiran kota berjumlah 500an orang berusaha menyelamatkan diri ke tempat pengungsian yang ada di tengah kota akan tetapi saat mereka berusaha mengungsi ke arah kota mereka dihadang oleh massa perusuh yang berada di pinggir kota tersebut.

Massa perusuh menyandera 500an orang yang terdiri balita, anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak sebagai jaminan pertukaran dengan tersangka 6 orang massa perusuh yang diamankan aparat keamanan, 500an orang yang tersandera ditahan dalam Gereja Kibaid dan Honai.

Tuntutan dari massa perusuh yaitu membebaskan tersangka 6 orang massa perusuh yang di amankan oleh aparat keamanan. Sekitar pkl 12.00 WIT negosiasi dilakukan oleh 2 orang negosiator perwakilan TNI/POLRI tanpa membawa senjata berlangsung alot. Pihak aparat keamanan tidak diijinkan masuk ke wilayah tersebut oleh massa perusuh karena sudah diblokade dan mengancam pihak aparat keamanan apabila melintasi wilayah yang di blokade tersebut maka keselamatan 500an orang yang tersandera jadi taruhannya.

Proses penyerahan pada pkl 16.30 masih saja berlangsung alot meskipun 6 tersangka massa perusuh sudah di hadirkan untuk ditukarkan dengan 500 warga koban sandera. Tahap pembebasan warga tersebut belangsung dalam 2 gelombang.

Gelombang pertama penyerahan sandera pukul 19.00 sekitar 400 orang terdiri balita, anak-anak, ibu-ibu dan bapak- bapak yang disandera dihadirkan untuk diserahkan ke aparat keamanan. Setelah penyerahan gelombang I selesai dilaksanakan, proses penyerahan gelombang ke dua dengan 100 warga yang masih tersandera di gereja Kibaid dan Honai dilaksanakan pada pkl 22.00 WIT.

Situasi 10 jam tersandera oleh massa perusuh sangat mencekam sehingga banyak anak-anak, ibu-ibu yang menangis ketakutan dan banyak juga yang berdoa karena mereka tahu ajal mereka sudah di depan mata.

Setelah 500 warga berhasil dibebaskan, satu persatu warga koban sandera melintasi blokade disambut haru oleh keluarga yang menunggu di seberang blokade. Para korban sandera tersebut langsung dievakuasi untuk dibawa ke tempat pengungsian, terlihat pancaran raut muka bahagia, tangis ketakutan dan trauma yang mendalam terpancar dari raut wajah mereka.

News Feed