oleh

Tamparan Diplomat Muda Ainan Nuran untuk Negara-negara Pasifik

-Artikel, Sosial-2.510 views

Kitorangpapuanews.com, Jayapura – Setelah Diplomat muda Indonesia yang mendapatkan apresiasi dari para peserta sidang ke 72 PBB, karena secara terang-terangan menampar pernyataan palsu Solomon dan Vanuatu. Beberapa waktu lalu malah muncul pernyataan palsu dari Benny Wenda terkait petisi yang diselundupkan ke sidang PBB.

Mengapa pernyataan Benny Wenda tentang petisi rahasia yang diselundupkan tersebut disebut palsu? Bagaimana tidak? Pernyataan presiden Solomon dan Vanuatu tentang isu HAM dan Dekolonisasi saja terbantahkan oleh seorang Diplomat Muda Indonesia di hadapan seluruh peserta sidang PBB ke 72, apalagi hanya sebatas pernyataan sepihak seorang Benny Wenda.

Dan yang perlu kita ketahui bersama bahwa PBB merupakan badan atau lembaga dunia yang resmi dan tidak sembarangan, sehingga sangat tidak mungkin adanya petisi penentuan nasib sendiri yang katanya bersifat rahasia yang diselundupkan ke PBB. Seperti disampaikan oleh Jason Macleod dari Departemen Studi Perdamaian dan Konflik di Universitas Sydney, mengatakan bahwa sangat tidak mungkin adanya penyelundupan petisi ke PBB.

Jason Macleod menilai bahwa pernyataan penyelundupan petisi tersebut adalah hanya akal-akalan dari Benny Wenda saja. Jason juga menanggapi pernyataan Benny Wenda tentang adanya juru kampanye petisi yang mendapatkan kekerasan dari aparat, Jason menegaskan bahwa itu tidak benar. Karena selama Jason melaksanakan penelitian di Papua tentang Perdamaian dan Konflik, tidak pernah terjadi adanya pengumpulan petisi dan tidak benar adanya tindakan kekerasan dari aparat kepada juru kampanye petisi.

Seperti pernyataan Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Manasseh Sogavare, usai pernyataannya dibantah oleh Diplomat Muda Indonesia, ia memberikan pernyataan bahwa memang benar tidak ada petisi penentuan nasib sendiri yang dikirimkan ke PBB. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa sidang PBB ke 72 sama sekali tidak membahas tentang penentuan nasib sendiri rakyat Papua.

Dikabarkan oleh RNZ sesaat setelah pernyataan PM Kepulauan Solomon, Ketua ULMWP Buchtar Tabuni menyatakan sudah tidak sejalan dengan juru bicaranya yaitu Benny Wenda yang dirasa sudah melampuai batas kedudukan sebagai juru bicara, dilansir dari siaran RNZ bahwa Buchtar Tabuni akan segera memanggil Benny Wenda untuk memberikan teguran keras karena telah memberikan informasi palsu sehingga semakin memperburuk citra ULMWP dimata Negara-negara pasifik. (**)

News Feed