Surat Pembaca, Disambut Hangat Penduduk Asli Papua di Desa Suroba

oleh

Wamena, Kitorang Papua – Keramahan penduduk asli Papua memikat para turis. Salah satunya bisa traveler temui di Desa Suroba. Di sini kamu akan disambut Tari Perang dan Bakar Batu.

Ada perubahan rencana mendadak pada hari itu. Saya dan 8 turis lainnya yang sudah siap dan semangat berburu gambar di hari kedua Festival Lembah Baliyem harus pasrah diboyong menuju tempat lain.

Perjalanan selama dua jam menempuh jalan berbatu dengan pemandangan padang ilalang di kiri kanan seperti tidak berujung. Sopir pun hanya memberi petunjuk minim soal tujuan kami. Katanya, “Kita mau ke desa suku asli Papua”.

Lewat dua jam, mata saya menangkap papan penunjuk di kanan jalan bertuliskan Desa Suroba. Sebelah kanan papan itu meruncing menunjukkan arah menuju desa tersebut.

Tak jauh sehabis sopir membelok, mobil pun diparkir di bawah pohon besar yang rindang. Dua lelaki berkostum khas papua dan seorang bocah lokal menyambut kami dengan senyum. Pemandu wisata bercakap-cakap dengan mereka, lalu mengajak kami untuk mengikutinya.

Dari tempat parkir, kami harus berjalan kaki melewati jalur becek, menyeberang jembatan dari batang kayu hingga sampai di sebuah lapangan rumput. Beberapa lelaki dewasa dan remaja tanggung tampak memenuhi lapangan tersebut.

Sementara di belakang mereka, berdiri tegak sebuah menara penjaga etnik khas Papua. Seorang pria sepuh duduk di puncak menara dengan panah di genggamannya.

Saya pun bertanya-tanya, apakah mereka akan menyajikan tarian penyambutan? Ternyata oh ternyata, dugaan saya keliru. Alih-alih menari, mereka mempertontonkan adegan adu tombak dan saling panah. Rupanya simulasi peranglah yang jadi atraksi penyambut tamu.

Yang membuat pertunjukkan ini makin seru, beberapa di antara mereka sengaja mendekati penonton sambil mengarahkan busur panah seolah-olah mengincar kami. Sangat sesuatu sekali pertunjukkan berdurasi 15 menit ini.

Biarpun ini tontonan perang, ada pesan moral yang ingin disampaikan yaitu berakhir dengan perdamaian, karena perang hanya menyebabkan kehancuran bukan solusi. Catat ya!

Selepas atraksi sambutan, sang kepala suku yang sedari tadi duduk di puncak menara penjaga, turun dan menyapa kami dengan sangat ramah. Pria berusia 50-an yang bernama Pak Yali ini malah lancar berkomunikasi dengan bahasa Inggris saat mengobrol dengan turis asing.

Momen selfie dan foto-foto pun tidak terhindari. Hingga Pak Yali mengajak kami menuju pemukiman warga, yang sebelumnya hanya saya lihat di internet dan layar kaca.

Di sini, penduduk wanita dan anak-anak bergabung dengan para pria untuk menyambut kami. Dan kali ini dengan tarian khas yang membuat saya gatal untuk turut berjoged.

Satu hal yang menarik perhatian saya saat berada di Desa Suroba adalah tradisi bakar batu. Awalnya, saya berpikir apa gunanya membakar batu. Ternyata, batu-batu panas itu berguna untuk memasak bahan makanan dengan cara ditanam di dalam tanah.

Sungguh proses yang menguras tenaga dan waktu. Tapi selama proses ini berlangsung, sangat tampak semangat gotong royong para penduduk setempat.

Setelah para lelaki membakar batu lalu membenamkannya di dalam tanah, para wanita lalu melapisi batu dengan daun dan menghampar ubi-ubian, jagung, dan ayam di atasnya. Semua lalu ditutup oleh daun dan dibiarkan selama 1 jam. Sejam kemudian, Voila! makanan pun dipanen dan siap disantap.

Usai memanjakan perut dengan hidangan yang dimasak di dalam tanah, saya meminta ijin untuk bertamu ke salah satu Honai atau rumah ada Papua. Rumah yang menjadi ciri khas tanah Papua ini terbuat dari jerami dan memiliki tinggi hanya 2.5 meter.

Saya pun harus merangkak untuk bisa masuk ke dalamnya. Hangat dan gelap, karena hanya mengandalkan celah dari pintu untuk membiarkan cahaya matahari masuk.

Di tengah hamparan lantai jerami, terlihat lingkaran hitam seperti abu dan arang. Rupanya untuk perapian. Layaknya bertamu, saya diajak mengobrol ngalor ngidul oleh pemilik Honai, mulai kondisi desa sampai kebiasaan sehari-hari.

Kurang afdhol kalau tidak foto-foto saat berada di dalam Honai. Beberapa batang rokok pun saya sodorkan sebagai tanda terima kasih.

Lima jam di Desa Suroba sepertinya kurang buat saya. Saat Pak Yali sang kepala suku sedang asyik memamerkan foto-foto ketika dia berkeliling dunia mengenalkan budaya Papua, tim pemandu memberi aba-aba untuk segera pulang.

Untunglah saya sempat membeli sedikit cinderamata hasil karya tangan penduduk, juga mengabadikan suasana dan momen-momen tak terlupakan bersama para bocah papua. Beberapa turis asing malah mengabaikan jadwal Festival Lembah Baliyem keesokan harinya, untuk datang kedua kalinya ke desa ini.(*)