oleh

Sebuah renungan: Satukan hati dan pikiran untuk membangun Papua

Sejenak kita menyimak sejarah perjuangan rakyat Papua pada 47 tahun silam.  Masih segar dalam ingatan dan benak kita, tanggal 1 Mei 1963 telah terjadi peristiwa bersejarah penting bagi rakyat Papua dan Indonesia pada umumnya, yaitu proses kembalinya Irian Barat (Papua) ke pengakuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui cara, prosedur yang sah dan demokratis serta diterima Dunia Internasional.

Peringatan kembalinya Papua ke pangkuan NKRI, memiliki arti penting dan nilai historis bagi masyarakat, bangsa Indonesia, khususnya bagi pendidikan politik dan perluasan wawasan kebangsaan generasi muda. Hal ini disampaikan tokoh masyarakat Papua, pada jumpa pers tentang kembalinya Papua ke NKRI, di Jayapura.

Dijelaskan, November 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag, namun pada saat itu masalah Irian Barat masih belum terselesaikan.  Ketika itu, status politik Irian Barat hanya disetujui dan akan dituntaskan melalui perundingan dalam waktu satu tahun setelah penyerahan kedaulatan tersebut.

Namun, proses perundingan penyelesaian Papua tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Selain melalui perdebatan yang cukup sengit, diwarnai pula ancaman akan adanya konfrontasi senjata.  Namun pada akhirnya dicapai suatu kesepakatan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah kerajaan Belanda melalui persetujuan New York Agreemen, tanggal 15 Agustus 1962, mengenai masalah Irian Barat yang selanjutnya disahkan Sidang Majelis Umum PBB ke-17 pada tanggal 21 September 1962 dalam bentuk Resolusi nomor 1752.

Sesuai persetujuan New York, hak menentukan nasib sendiri penduduk Irian Barat telah dilaksanakan melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang berlangsung dari tanggal 14 Juli hingga 12 Agustus 1969.

Hasil Pepera menyatakan penduduk Irian Barat tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari NKRI yang dikukuhkan Majelis Umun PBB ke-24 melalui Resolusi 2504 tanggal 19 November 1969. Terlihat bahwa pelaksanaan penentuan nasib sendiri Papua telah dilakukan secara demokratis dan transparan.

“Apabila ada masyarakat Papua yang masih di luar garis perjuangan, mari bersama-sama membangun bumi Cendrawasih ini untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, bermartabat serta berpendidikan,” menurut salah satu tokoh.

“Hilangkan perbedaan di antara kita, supaya Papua tidak tertinggal dengan daerah lain sebab kita tahu Papua masih mempunyai aset dan kekayaan alam yang sangat melimpah,” imbuhnya.

Para tokoh masyarakat menghimbau, sejarah kembalinya Papua ke pangkuan NKRI jangan dipolitisir kelompok-kelompok ataupun oknum-oknum yang mempunyai kepentingan politik tertentu karena masuknya Papua ke NKRI benar-benar murni, melalui tahapan-tahapan perjuangan kehendak masyarakat Papua pada jaman itu.

Kita patut berterima kasih kepada para pejuang, baik yang telah mendahului kita maupun masih berdampingan dengan kita saat ini beserta segenap keluarga para pejuang. Karena mereka semua, telah dengan total dan tanpa pamrih mendarma bhaktikan tenaga, pikiran dan jiwa raganya demi keutuhan bangsa dan Negara Indonesia.

Mari bersama-sama melanjutkan tongkat estafet perjuangan para pahlawan dengan ikut serta dalam pembangunan, menjaga stabilitas keamanan, mengedepankan kegiatan yang dapat mengedukasi masyarakat serta membantu masyarakat daerah terpencil dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan agar Papua aman, tertib, damai dan sejahtera. (DS)

News Feed