oleh

RANGKAIAN KEBIADABAN KKB EGIANUS KOGOYA

-Artikel, Kriminal, Sosial-1.936 views

Jayapura, Kitorang Papua – Rangkaian kriminalitas yang dilakukan oleh Kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya yang terjadi dalam kurun waktu satu tahun terakhir di Kabupaten Nduga, Papua.

Kebiadaban KKB Egianus Kogoya tercatat tidak hanya membunuh aparat, warga pendatang, tetapi juga warga asli Papua. Selain itu KKB Egianus Kogoya menyandera tenaga guru dan kesehatan kemudian memperkosanya. Mereka juga melakukan perusakan terhadap alat-alat berat yang digunakan untuk membangun jalan trans Papua.

Berikut sejumlah catatan kriminal yang dilakukan oleh Egianus Kogoya bersama pengikutnya:

 – 22 Juni 2018

Penembakan terhadap pesawat Twin Oter PK-HVU milik maskapai Dimonim Air rute Timika-Kenyam di lapangan terbang Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga.

Akibatnya, pesawat yang mengangkut masyarakat sipil rusak. Kopilot Irene Nur Fadila mendapat luka tembak.

– 25 Juni 2018

Penembakan tehadap pesawat Twin Oter milik Trigana yang mengangkut logistik pemilu dan pihak aparat keamanan ditembak.

Akibatnya, pilot pesawat Kapt Ahmad Kamil terkena luka tembak di punggung.

Pada hari yang sama, kelompok kriminal ini kembali menyerang masyarakat sipil di Kota Kenyam.

Akibatnya, tiga orang meninggal dalam peristiwa itu, yakni Hendrik Sattu Kolab (38) dan istrinya, Martha Palin (28) serta teman mereka, Zainal Abidin (20). Sedangkan anak Hendrik yang berusia 6 tahun bernama Arjuna Kola mengalami luka parah di wajah akibat dibacok dengan parang.

– 3 hingga 17 Oktober 2018

Sebanyak 15 orang guru dan tenaga kesehatan disandera di Distrik Mapenduma. Salah satu di antaranya seorang tenaga kesehatan diperkosa.

– 1 hingga 2 Desember 2018

Puluhan karyawan PT Istaka Karya yang bekerja untuk melakukan pembangunan jembatan jalan Trans Papua di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi disandera oleh kelompok ini.

Sebanyak 25 pekerja pembangunan jembatan itu dikumpulkan dan dibawa ke Puncak Kabo dan kemudian dieksekusi.

Sebanyak 4 orang berhasil melarikan diri dari eksekusi, 2 orang tak diketahui keberadaannya dan 19 orang dipastikan meninggal dunia.

– 3 Desember 2018

Kelompok ini mengejar karyawan yang melarikan diri menuju Distrik Mbua. Kemudian ketika mereka berlindung di Pos TNI 755/Yalet, kelompok ini melakukan penyerangan. Akibatnya, 1 anggota TNI, Serda Handoko gugur dan 1 lagi luka-luka.

– 4 Desember 2018

Kelompok KKB ini masih menduduki Distrik Yigi yang jaraknya 2 jam berjalan kali dari Distrik Mbua. Belum ada kabar dari para karyawan PT Istaka Karya yang belum bisa dievakuasi dari Puncak Kabo.

Sementara aparat penegak hukum dari TNI dan Polri sampai sejauh ini mendapat perlawanan dari kelompok KKB. Bahkan hari ini helikopter yang digunakan TNI ditembaki dan 1 anggota terkena tembakan saat baku kontak di Puncak Kabo.

– 5 Desember 2018

Satu anggota Brimob atas nama Bharatu Wahyu dan baling-baling helikopter terkena tembakan di Puncak Kabo.

– 7 Maret 2019

Kelompok ini kembali menyerang Distrik Mugi, Tiga anggota TNI gugur, yakni Serda Mirwariyadin, Serda Yusdin dan Serda Siswanto Bayu.

– 20 Maret 2019

Tiga anggota Brimob ditembak dan salah satunya gugur, yakni Bharada Aldi. Korban mengalami luka tembak pada bahu kiri kanan. Sedangkan korban luka-luka adalah Ipda Arif Rahman, mengalami luka tembak pada bahu kiri tembus punggung dan Bharada Ravi Fitrah Kurniawan, terkena tembakan di dada kanan bawah ketiak sebanyak 2 kali. Kini keduanya dalam kondisi kritis.

Pangdam XVII/Cenderawasi Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring menegaskan, negara tidak akan mundur terhadap ancaman teror dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Menurutnya, keberadaan kelompok KKB saat ini membuat rakyat trauma, terutama atas tindakan kekerasan yang mereka lakukan.

“Anda bisa membayangkan bagaimana rakyat sipil diikat tangannya dari belakang, dikumpulkan jadi satu kemudian ditembak dan dibantai secara sadis tampa prikemanusiaan,” kata Yosua.

“Guru-guru dan tenaga kesehatan yang sedang bertugas di Mapenduma dianiaya dan diperkosa pada bulan Oktober 2018 lalu. TNI tidak mungkin dan tidak akan pernah melakukan tindakan biadab seperti itu,” paparnya.

Tidak hanya itu, penelusuran kitorang menemukan banyak sekali warga masyarakat Nduga yang mengungsi ke Wamena. Sangat menyedihkan, anak-anak tidak bisa mendapat pendidikan yang layak. Akibat ulah KKB yang menyandera dan memperkosa guru dan tenaga kesehatan di Nduga. Masyarakat semakin trauma.

Kitorang berharap KKB ini ditangkap dan diadili dengan seadil-adilnya. Tanah Papua adalah tanah Injil yang penuh kedamaian. (*)

News Feed