oleh

Rakyat Papua Tolak Petisi Kemerdekaan yang Digalang Benny Wenda dan Antek-anteknya

-Artikel, Sosial-2.528 views
Warga Skowpro Keerom dalam aksi penolakan terhadap petisi Benny Wenda (Foto : Dok. Istimewa)

Jayapura – United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) salah satu kelompok gerakan separatis pimpinan Benny Wenda yang bermukim di Inggris, setelah gagal menggalang petisi online untuk kemerdekaan Papua, kini ia mulai berkeliling menggalang petisi secara manual. Sejumlah rakyat Papua menolak petisi itu. Mereka menyatakan dengan tegas bahwa Papua sudah final menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Aksi penolakan puluhan warga Papua itu digelar di perbatasan RI-Papua Nugini, tepatnya di Kampung Skowpro Keerom, sekira 200 meter dari Markas Kelompok Separatis  Viktoria Papua Nugini, pada Senin, 15 Mei 2017.

“Kami menolak segala kegiatan kelompok-kelompok separatis, termasuk pembuatan petisi untuk kemerdekaan Papua, karena Papua merupakan bagian NKRI yang sah dan diakui dunia,” kata Herman Yoku, mantan anggota kelompok separatis, saat memimpin puluhan warga menggelar aksi menolak petisi kemerdekaan Papua.

Rakyat Papua, katanya, tidak lagi menginginkan janji-janji dari sekelompok orang tentang kemerdekaan Papua. “Yang kami mau hanya sentuhan pembangunan, bukan janji-janji yang tak jelas dan tak berujung,” ujarnya.

Ia juga meminta jangan lagi ada kelompok tertentu yang mengatasnamakan rakyat Papua untuk menyuarakan kemerdekaan Papua. Rakyat Papua adalah rakyat Indonesia.

Soleman Krom, warga setempat yang lama bermukim di Papua Nugini dan sudah kembali ke Indonesia, mengatakan bahwa rakyat Papua saat ini menginginkan pembangunan dan tidak lagi memikirkan kemerdekaan.

“Jadi, kalau ada yang mengklaim bahwa rakyat Papua menginginkan kemerdekaan, itu hanya klaim segelintir orang yang tergabung dalam kelompok-kelompok separatis. Sesungguhnya seluruh rakyat Papua mengakui bagian dari NKRI, dan hanya ingin ada pembangunan,” katanya.

Peserta aksi pun menghimbau kepada seluruh masyarakat Papua agar tidak mengikuti ajakan untuk menandatangani petisi tersebut, karena jika ditandatangani sama saja seperti menggadaikan Papua kepada dunia Internasional.

Seruan untuk Benny Wenda

Soleman juga menyatakan bahwa rakyat Papua menolak petisi yang digagas Benny Wenda di Inggris untuk mencari dukungan kemerdekaan Papua. “Jangan jual-jual kami, rakyat ini, di luar negeri, padahal kami tidak tahu apa-apa. Kalau memang peduli Papua, mari pulang kampung dan bangun Papua.”

Yakub Kamar, warga Skowpro, berpendapat serupa. Hal yang diinginkan adalah pembangunan, bukan yang lain-lain. “Kami hanya mau kampung kami dibangun. Kami tidak ada pikiran lagi untuk merdeka. Puluhan tahun pikirin itu, hasilnya nol; tidak terbukti,” katanya.

Benny Wenda, tokoh pejuang gerakan separatis Papua yang sekarang tinggal di Inggris, dianggap sebagai pengkhianat oleh masyarakat Papua, pasalnya Benny Wenda telah membuka peluang Negara-negara asing untuk kembali menjajah Papua.

Target Benny mencapai 10.000 tanda tangan dari berbagai Negara termasuk di dalam negeri pada Agustus 2017. Selanjutnya petisi itu akan dibawa berenang sejauh 69 kilometer di Danau Jenewa untuk disampaikan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Bernard, tokoh Skowpro, menyampaikan “Benny Wenda telah melukai hati rakyat Papua, secara tidak langsung Benny Wenda sudah membuka peluang kolonialisme model baru untuk masuk ke Papua”.

“Tidak dapat dipungkiri, setiap Negara yang mendukung petisi akan meminta balas budi kepada Papua, kita orang Papua hanya akan jadi budak, berhenti sudah Pace Benny Wenda, jangan siksa kami!!”, tambahnya. (DS)

News Feed