oleh

Rakyat Papua Bersatu dalam Paguyuban Nusantara : Tolak Anarkisme dan tangkap Provokator Aksi Unjuk Rasa !!!

-Artikel-1.011 views

Kitorangpapuanews –  Pengerahkan sejumlah truk untuk memulangkan 1000-an massa aksi di Jayapura Sebelumnya pihak TNI (30/08/2019). Pemulangan aksi unjuk rasa itu didasari alasan adanya massa Paguyuban Nusantara yang menolak Aksi Unjuk Rasa (AUR) yang berada di Jayapura. Hal ini dikarenakan massa tersebut bertindak anarkis dengan melakukan pelemparan kaca dan pembakaran.

Dalam hal ini, pihak TNI berupaya memulangkan massa Aksi Unjuk Rasa (AUR) berjumlah 1000-an orang yang menduduki kantor Gubernur Papua, di Jayapura. Pemulangan massa itu dilakukan sehari usai Aksi Unjuk Rasa (AUR) ribuan massa berujung pada kerusuhan di Jayapura. 

Letkol Infanteri Eko Daryanto (Kapendam XVII/Cendrawasih) menyatakan 10 truk dikerahkan untuk memulangkan 1000-an massa di Kota Jayapura tersebut, pada hari ini. “Sebanyak 10 truk TNI/Polri dikerahkan untuk membantu mengevakuasi (mengantar pulang) sekitar 1000 orang massa aksi aksi unjuk rasa yang semalam menduduki kantor Gubernur Papua,” kata Daryanto.

Menurut Daryanto, pengerahan 10 truk tersebut dimulai Jumat pagi pada pukul 09.15 WIT. Massa aksi unjuk rasa dipulangkan ke sejumlah wilayah, seperti Waena dan Sentani, Kabupaten Jayapura. Dalam hal ini, pemulangan massa Aksi Unjuk Rasa (AUR) tersebut untuk mencegah bentrok dengan massa lainnya dari kelompok yang bernama Paguyuban Nusantara. Massa dari Paguyuban Nusantara disebut menolak aksi unjuk rasa di Jayapura.

Daryanto menambahkan Kodam XVII/Cenderawasih mengimbau massa dari Paguyuban Nusantara untuk tidak melakukan sweeping terhadap massa demonstran di Kota Jayapura. Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal (Kabid Humas Polda Papua) membenarkan keterangan Kodam XVII/Cenderawasih soal upaya pemulangan massa di kantor Gubernur Papua. “Hanya sebagai transportasi dan pengawalan,” kata Mustofa.

Irjen Pol Rudolf Rodja (Kapolda Papua) juga meminta warga di Jayapura, termasuk para pendatang, menahan diri dan tak membuat persoalan baru. “Saya sudah berkomunikasi dengan Gubernur Lukas Enembe dan menyampaikan agar kita semua bekerja sama agar Jayapura dan Papua secara keseluruhan aman,” ujar Rodja, hari ini. Rodja mengklaim situasi di Jayapura hari ini kondusif meski sejumlah polisi masih berjaga-jaga di beberapa lokasi. Kata dia, Polda Papua sudah mendapatkan bantuan personel dari Mabes Polri. Paguyuban Nusantara Pernah Deklarasi Tolak Rasisme Hingga Kamis sore, belum ada informasi soal apa yang sebenarnya dilakukan massa Paguyuban Nusantara di Kota Jayapura. Meskipun demikian, organisasi pendatang bernama Paguyuban Masyarakat Nusantara tercatat juga pernah menggelar deklarasi menolak rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Deklarasi itu digelar di Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada 22 Agustus lalu, seperti diberitakan Antara. Dalam deklarasi itu, pernyataan sikap disampaikan oleh pengurus paguyuban yang mewakili warga pendatang asal Jawa Timur, Jawa Barat dan Banten, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Gorontalo, NTT, Sulawesi Selatan, Kawanua Biak serta ormas Bhineka Tunggal Ika.

“Kami masyarakat Nusantara menyesalkan aksi rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Kami meminta Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menindak tegas oknum-oknum provokator rasisme,” kata Asep, perwakilan Ormas Bhinneka Tunggal Ika dalam deklarasi itu yang dihadiri Bupati Biak Herry Ario Naap, pimpinan dewan dan Dandim setempat. Sementara itu, Iwan Ismulyanto (Perwakilan Masyarakat Jawa Timur) menegaskan menolak tindakan aksi rasisme dan akan menjaga toleransi kehidupan beragama dengan masyarakat asli Papua.

News Feed