Putra Daerah Asli Papua di Jajaran Pimpinan PT Freeport Indonesia

oleh

Hengky Rumbino baru berusia 38 tahun. Ia putra tanah Papua, provinsi paling ujung timur Indonesia.

Tetapi, tapak kariernya yang setia di PT Freeport Indonesia (PTFI) sejak lulus dari Intitut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Geologi tahun 2003 sampai sekarang, telah membawanya dalam salah satu posisi puncak di sana.

Sekarang, ia Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia. Dalam kartu bisnisnya tertulis, ia Vice President (VP) PTFI untuk Underground Deep Ore Zone and Deep Mill Level Zone, spesialisasi keahlian teknik geologi untuk tambang tembaga bawah tanah di Tembagapura, Papua.

Sebagai informasi, saat ini hanya Hengky satu-satunya putra Papua yang duduk sebagai VP untuk keahlian tambang bawah tanah.

Enam orang VP putra Papua yang lain dalam bidang yang berbeda adalah: Napoleon Sawai, Klaus Wamafma, Arnold Kayame, Benny Johannes, Silas Natkime dan John Rumainum.

Ditulis dalam situs resmi PTFI yang merupakan perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan, perusahaan ini menambang, memproses dan melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas dan perak.

Beroperasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika Provinsi Papua, Indonesia. PTFI memasarkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak ke seluruh penjuru dunia.

Kompleks tambang PTFI merupakan salah satu penghasil tunggal tembaga dan emas terbesar di dunia. Tambang PTFI juga mengandung cadangan tembaga yang dapat diambil terbesar di dunia, selain cadangan tunggal emas terbesar di dunia.

Grasberg berada di jantung suatu wilayah mineral yang sangat melimpah, di mana kegiatan eksplorasi yang berlanjut membuka peluang untuk terus menambah cadangan yang berusia panjang.

Saat ini seluruh karyawan PTFI berjumlah kurang lebih 32.000 orang, dengan 99 persen karyawan adalah WNI dan 35-40 persennya adalah warga asli Papua.

Jadi, hanya 1 persen yang ekspatriat atau pekerja WNA. Kedudukan PTFI di Indonesia, sama seperti perusahaan penanaman modal asing yang lain misalnya Caltex, Total dan sebagainya.

Mengenal Freeport sejak kanak-kanak

Perawakan Hengky sedang saja, dan wajahnya selalu dihiasi senyum berlesung pipit. Ramah dan cepat akrab. Bicaranya cepat dan bersemangat, tetapi tak lupa selalu senyum di akhir kalimat.

Pembawaannya selalu membuat lawan bicara segera menjadi sahabatnya. Sungguh tidak tampak bahwa ia bekerja di dunia yang keras, dunia tambang bawah tanah.

“Mbak, saya itu suka sekali mengambil contoh dari setiap orang yang ngobrol dengan saya. Setiap orang selalu jadi panutan saya,” demikian ia membuka obrolan.

Lahir di Wamena tahun 1979, Hengky dibesarkan dalam keluarga yang berdisiplin baik dan terpelajar. Ayah dan ibunya guru SD yang sering bolak-balik mengajar di pedalaman.

Jarak rumah keluarga Hengky hanya satu jam perjalanan dari Tembagapura, kota pusat penambangan bijih tembaga PTFI di Pegunungan Tengah, Papua.

Wamena berada di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, Indonesia, yang sekaligus merupakan ibu kota kabupaten tersebut. Wamena juga satu-satunya kota terbesar yang terletak di Pegunungan Tengah Papua.

Berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Papua, seperti Timika, Jayapura, Sorong, dan Merauke, Wamena selaksa surga dan mutiara yang belum banyak tersentuh.

Kota yang terletak di lembah Baliem dan dialiri oleh sungai Baliem serta diapit pegunungan Jayawijaya di sebelah selatannya yang memiliki ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut. Udaranya segar dan jauh dari polusi udara seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Dalam usia kanak-kanak, Hengky kecil sering melihat keluarga ayah juga ibunya yang bekerja di Freeport, datang ke rumah dan membawa banyak oleh-oleh untuk keluarganya. Ia lalu berkesimpulan sederhana, bekerja di Freeport itu makmur.

Ia bercita-cita bekerja di sana, apalagi sudah sejak sekolah menengah ia tertarik mengetahui seluk-beluk kekayaan tambang di tanah kelahirannya ini.

“Sejak sekolah dasar saya selalu ingin jadi yang teratas, yang nomor satu. Semuanya supaya saya bisa sekolah di perguruan tinggi terbaik yang bisa memuluskan cita-cita saya menjadi insinyur tambang,” kenang Hengky.

Kiat Hengky untuk selalu nomor satu di kelas, rupanya betul. Hengky menyelesaikan sekolah dasar dan SMP-nya di Wamena dengan nilai sangat baik.

Ketika di awal tahun 1990-an Pemerintah Daerah Jayapura membangun konsep sekolah unggulan SMAN 3 Jayapura, Hengky terpilih untuk bergabung di sekolah itu tahun 1996.

Pada tahun terakhir menjelang kelulusan, ia masuk dalam kelas inti, kelas yang dipersiapkan untuk mereka yang akan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).

Cita-citanya untuk berkarya di Freeport membuatnya membidik satu kursi di Jurusan Teknik Geologi ITB.

Ia berhasil! Di angkatannya ada tujuh orang yang lolos UMPTN ke berbagai perguruan tinggi negeri dalam berbagai kejuruan.

Ia mengenang, sulit sekali menyesuaikan diri bersekolah di tanah Jawa. Mereka bertujuh mengalami pahit dan getir itu bersama. Ada juga yang tidak mampu dan akhirnya menyerah, pulang ke Papua.

Henky berhasil lulus dan menyandang gelar Insinyur Geologi/Pertambangan dari ITB tahun 2002. Satu tahun setelahnya ia mengikuti tes untuk lolos Graduate Development Program, program rekrutmen untuk karyawan baru PT Freeport Indonesia lulusan sarjana. Sangat tegang, ia ingat, karena saingannya banyak dan berat.

Ia lulus dan bergabung dalam program itu. Artinya, ia sedang dipersiapkan untuk menjadi karyawan PTFI dengan jenjang karier sampai ke puncak, sesuai dengan pretasinya. Setelah resmi menjadi karyawan, ia bekerja di tambang bawah tanah Tembagapura.

“Saya ingat, sesama putra Papua hanya ada Pak Heno Kondi, senior saya. Ia kira-kira berumur 50 tahun ketika saya masuk,” tutur Hengky.

Penerimaan besar-besaran putra Papua, khususnya dengan spesifikasi Insinyur Pertambangan, dimulai tahun 2006.

Programnya masih sama dengan yang diikuti Hengky: Graduate Development Program. Hasilnya, pada tahun 2013 telah ada 100 orang Insinyur Pertambangan berketurunan Papua yang bekerja di sini.

Selalu mencari panutan

Saat ini, Hengky tak putus bersyukur. Buah kerja keras dan ketekunannya bersekolah dan mencintai dunia pertambangan, membuatnya sudah menjadi Kepala Teknik Tambang dalam usia yang relatif muda.

“Saya pikir, saya baru akan sampai di posisi ini pada usia 50 tahun. Ternyata Freeport betul-betul menghargai seseorang dari karya dan kerja kerasnya. Siapa yang mampu dan punya kapasitas, meskipun masih muda, pasti maju,” ceritanya.

Kini, Hengky juga menjadi inspirasi para putra dan putri Papua lainnya. Ia panutan untuk anak-anak Indonesia mencintai dunia pertambangan, seperti mencintai tanah kelahiran dan mencintai Indonesia. Seperti ia dulu juga selalu mencari panutan untuk mewujudkan cita-citanya.

Bangga ada putra Indonesia yang gigih belajar dan berjuang untuk mengejar cita-citanya seperti dia!.

Sumber : Kompas.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *