oleh

PSU Puncak Jaya Menelan Korban Jiwa, Sampai Kapan Akan Begini??

-Artikel, Kriminal, Sosial-1.739 views

Puncak Jaya – PSU yang dilaksanakan pada 15 Juni 2017 yang lalu untuk 6 Distrik, baru dapat dilakukan pada 5 Distrik, yaitu Distrik Dagai, Ilamburawi, Molanikime, Lumo dan Yambi, namun perolehan suara yang telah diterima oleh KPU Provinsi (Pleno tingkat Distrik) baru 4 Distrik yaitu Distrik Dagai, Ilamburawi, Molanikime dan Lumo.

Sementara itu, perolehan suara dari Distrik Yambi (Pleno tingkat Distrik) saat itu terlambat dilakukan karena setelah pelaksanaan PSU, 10 kotak suara dari 14 Kotak suara di Distrik Yambi, diambil oleh massa pendukung Paslon No. 3.

Saat ini 10 kotak suara tersebut telah dikembalikan ke Kantor KPUD Puncak Jaya. Massa pendukung Paslon No. 3 mengatakan bahwa pengambilan tsb dilakukan karena massa pendukung Paslon No. 1 terlebih dulu mengambil 4 kotak suara.

Kemudian PSU di Distrik Yamoneri tdak dapat dilaksanakan tepat waktu pada 15 Juni 2017, karena adanya aksi saling serang antara massa pendukung Paslon No. 1 dan massa pendukung Paslon No. 3 saat proses pemungutan suara akan dimulai.

Saat itu berlangsung aksi saling serang antara sekitar 300 orang massa pendukung Paslon No. 1 dengan sekitar 200 orang massa pendukung Paslon No. 3, menggunakan panah, parang dan batu. Aparat keamanan kewalahan dalam mengendalikan massa, karena massa semuanya bersenjata.

Aksi tersebut dipicu oleh adanya sengketa pembagian suara PSU di Distrik Yamoneri yang menggunakan sistem Noken, dimana massa Paslon No. 1 menghendaki keseluruhan suara di Distrik Yamoneri diberikan kepada Paslon No. 1. Sedangkan massa pendukung Paslon No. 3 meminta suara di Distrik Yamoneri dibagi kepada masing-masing Paslon sesuai dengan kesepakatan kepala Kampung.

Aksi saling serang tersebut menelan korban dari pihak Kepolisian, antara lain Bripka Pol Buhari (anggota Polda Papua) yang mengalami luka panah pada lengan kanan, Brigpol Steven (anggota Timsus Polres Puncak Jaya) mengalami luka di bagian punggung telapak kaki bagian kiri, serta Bripka Fredy terkena panah di tangan kiri.

Sementara itu, korban dari pihak masyarakat adalah Dimanus Wonda (laki-laki, 45 tahun, massa pendukung Paslon No. 1) yang meninggal dunia terkena panah di bagian pelipis atas kanan, perut sebelah kiri dan bokong sebelah kanan.

Arogansi masyarakat di wilayah pegunungan sangat tinggi dan rentan terprovokasi, sehingga seringkali suatu permasalahan di selesaikan dengan perang antar suku/kelompok. Sehingga akhirnya mengakibatkan saudaranya sendiri meninggal dunia, selain itu dari pihak keamanan pun banyak yang menjadi korban. Hal tersebut diperparah oleh adanya indikasi bahwa massa di tunggangi oleh kelompok separatis Papua.

Seolah-olah tidak peduli dengan nyawa saudaranya sendiri, massa tega melakukan perang hanya untuk membela pasangan calon Kepala Daerah. Semoga Para tokoh masyarakat dan tokoh adat dapat meredam arogansi massa, dan berpikir lebih panjang dari pada harus melepaskan anak panah dengan dalih menyelesaikan permasalahan. (Dees)

News Feed