Pria Ini Selamat dalam Kerusuhan Wamena Setelah Merayap dan Sembunyi di Semak

oleh -10 views
Pria Ini Selamat dalam Kerusuhan Wamena Setelah Merayap dan Sembunyi di Semak
Widodo (57) (bertopi)/Foto: Ardian Fanani
Kitorangpapuanews.com – Banyuwangi – Kerusuhan di Wamena, Papua Barat menyisakan trauma mendalam bagi keluarga Widodo (57) yang tiba di Banyuwangi. Bersama istri dan empat anaknya, ia diselamatkan keluarga dari Biak, Papua.Warga Banyuwangi dari Dusun Tegalgondo, Desa Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru ini mengaku, nyawanya bisa selamat lantaran merayap dan bersembunyi di semak-semak. Tak hanya itu, harta bendanya berupa mobil dan beberapa motor miliknya hangus dibakar massa.
“Saya merayap di semak-semak, bersembunyi dan melompat pagar. Hingga akhirnya sampai di Kantor Polisi. Mobil dan 10 sepeda motor milik saya dan teman di rumah hangus dibakar,” kata pria yang 27 tahun tinggal di Wamena, Jumat (4/10/2019).Sejak 1970, Widodo kecil tumbuh besar di Papua hingga menikahi warga Banyuwangi dan dikaruniai empat anak. Di sana, Widodo bekerja sebagai driver hingga memiliki rumah-toko (ruko) beserta kontrakan. Yakni di kawasan Pikie, Wamena atau berdekatan dengan Jalan Trans Papua.

Kerusuhan yang terjadi Senin (23/9) terekam jelas oleh Widodo. Saat kejadian sekitar pukul 09.00 WIT, sekelompok orang berdatangan dan langsung mengamuk mencari para pendatang. Saat itu dirinya baru saja pulang dari pasar.

Siapa pun pendatang dilukai. Bahkan dibunuh. Tempat tinggal miliknya pun dibakar habis tak bersisa.

“Saya ditelepon untuk segera pulang, ada keributan. Ternyata betul, saat tiba di rumah memang sudah kacau,” katanya.

Widodo mengaku terkejut dengan kericuhan di mana-mana. Api berkobar, banyak warga dipukul dan motornya dibakar. Rumah dan pertokoan juga dibakar. Melihat api yang melahap rumahnya, ia bergegas berlari masuk untuk memeriksa keadaan keluarganya. Saat itu dia teringat betul, anaknya yang masih berusia 10 tahun berada di dalam ruko.

“Semua dibakar, ada korbannya di dalam juga dibakar. Termasuk ruko saya juga dibakar. Beruntung anak saya bisa keluar dengan melompat ke belakang ruko,” katanya.

Anaknya, lanjut Widodo, diselamatkan oleh warga Papua, tapi bukan asli Wamena. Melainkan warga Papua asal Biak yang juga bermukim di sana. Seluruh keluarganya masuk ke rumah orang Biak.

Tak lama berselang, bersama anggota keluarganya akhirnya memutuskan berpindah tempat untuk mencari perlindungan. Hingga ia tiba di kantor Polisi setempat. Di tempat ini, Widodo berkumpul dengan ratusan pengungsi lainnya.

“Ada juga yang dari Banyuwangi lainnya, tapi mereka ada di kota. Banyak orang di sana, kita sudah panik dan ketakutan,” katanya.

Saat tiba di Banyuwangi yang merupakan kampung halaman, ia mengaku sangat bersyukur. Meskipun hasil jerih payah yang selama ini dikumpulkan sirna dan tertinggal semua di Wamena. Ia mengaku pulang ke Banyuwangi hanya dengan baju yang melekat di tubuhnya.

“Yang tersisa dari kami ya hanya nyawa kami ini, dan sepasang baju melekat ini. Rumah, mobil, motor semua hangus dibakar,” katanya.

Keluarga Widodo merupakan enam dari sekian pengungsi korban kerusuhan Wamena yang pulang, diangkut menggunakan pesawat militer Hercules TNI AU, via Bandara Abdulrahman Saleh, Malang, Rabu (2/10).