oleh

PON XX Sejarah untuk Papua Ajang Memupuk Persaudaraan dan Persatuan

Kitorangpapuanews.com – Gagasan awal dan dilaksanakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) sebagai gelaran olahraga di Indonesia adalah mencari bibit-bibit atlit berbakat di setiap cabang olahraga di seluruh penjuru negeri ini untuk mempersiapkan diri dalam keikutsertaan Asian Games pertama 1951 dan Olimpiade Musim Panas Helsinksi 1952. Selain itu, semangat yang digelorakan melalui PON adalah memupuk persaudaraan, persatuan untuk membangun karakter bangsa melalui olahraga.

Undang-Undang No. 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN), hadir  dengan tujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa. Lebih lanjut, pada pasal (17) UU SKN dijabarkan bahwa ruang lingkup olah raga meliputi: olahraga pendidikan,  olahraga rekreasi dan olahraga prestasi. Setiap lingkup olahraga tersebut memerlukan pembinaan dan pengembangan oleh seluruh pemangku kepentingan dengan melibatkan seluruh anggota masyarakat.

Tak terkecuali olahraga pendidikan maupun olahraga rekreasi, olahraga prestasi wajib mendapatkan pembinaan dan pengembangan, terutama bagi para olahragawan, secara terencana, berjenjang dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi, dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan. Hasil capaian olahraga prestasi akan terlihat pada saat kejuaraan olahraga mulai dari tingkat kab/kota, wilayah, provinsi, nasional, regional hingga internasional.

Kejuaraan olahraga multi even tingkat nasional, yaitu Pekan Olahraga Nasional (PON), adalah pesta olahraga nasional di Indonesia yang diadakan setia per empat tahun sekali oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan diikuti seluruh provinsi di Indonesia. Sejak pertama kali diadakan di Kota Surakarta tahun 1948, PON telah diselenggarakan 19 kali kecuali PON ke-4 yang gagal diselenggarakan karena G30S tahun 1965. DKI Jakarta tercatat sebagai penyelenggara PON terbanyak, yaitu 9 (sembilan) kali, disusul Jawa Barat dan Jawa Timur masing-masing 2 (dua) kali, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Riau, masing masing 1 (satu) kali. Penyelenggaraan PON ke-20 tahun 2020, Provinsi Papua berhasil memenangkan bidding untuk tuan rumah penyelenggara, mengalahkan Bali dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Provinsi Papua memperoleh 66 (enam puluh enam) suara pada Rapat Anggota Tahunan KONI. Tuan rumah PON ditetapkan melalui SK Menteri Pemuda Olahraga Nomor 0110 tahun 2014. Provinsi Papua pertama kali ikut adalah pada penyelenggaraan PON VII Tahun 1969 di Jawa Timur.

PON XX Sejarah untuk Papua

Menjadi tuan rumah PON XX Tahun 2020 adalah sejarah untuk Papua, mengingat selama ini pelaksaaan PON hanya berputar di wilayah barat Indonesia dan pulau Jawa. Penyelenggaraan PON di Papua dinilai memiliki nilai strategis dari sisi percepatan pembangunan di wilayah Provinsi Papua yaitu, pertama, dari sisi ekonomi akan semakin berkembang melalui pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, bandar udara dan semakin meningkat sektor informal seperti hotel, restoran dan jasa pariwisata. Kedua, dari sisi sosial-budaya, akan terjadi interaksi sosial yang massive, dimana masyarakat Papua akan dikunjungi dan berinteraksi dengan saudara-saudara sebangsanya dari seluruh wilayah Tanah Air. Ketiga, dari sisi politik, akan mengembalikan kepercayaan masyarakat Papua terhadap pemerintah nasional sekaligus mengukuhkan rasa nasionalisme Indonesia di kalangan masyarakat Papua. Meskipun fasilitas olahraga di Papua masih tertinggal ketimbang daerah lainnya yang juga mencalonkan diri sebagai tuan rumah, namun penyelenggaraan PON di Papua dinilai lebih sebagai upaya untuk memperkuat identitas kebangsaan dan solidaritas nasional.

Sebanyak 37 cabor yang ditetapkan yaitu Aerosport, Akuatik, Atletik, Anggar, Angkat Berat, Baseball, Biliard, Bermotor, Bola Basket, Bola Tangan, Bola Voli, bulutangkis, Catur, Kriket, Dayung, Gulat, Hoki, Judo, Karate, Kempo, Layar, Menembak, Muaythai, Panahan, Panjat Tebing, Pencak Silat, Rugby 7s, Selam, Senam, Sepak Bola, Sepak Takraw, Sepatu Roda, Taekwondo, Tarung Derajat, Tenis, Tinju, dan Wushu.

Untuk mengejar sukses penyelenggaraan, penyelenggaraan PON tahun 2020  harus mempersiapkan secara ekstra tentang tenaga akomodasi bagi seluruh atlet, official, volunter, pemangku kepentingan olahraga, tamu dan seluruh penggembira yang hadir pada PON XX Papua. Jumlah atlet diperkirakan sebanyak 6.442 orang, official  sebanyak 3.221 orang dan SDM pertandingan (panitia pelaksana, wasit/juri, dewan hakim, technical delegate) sebanyak 2.860 orang, total keseluruhan sebanyak 12.523 orang. Sebagaimana hasil keputusan Ratas 13 Agustus 2019, standar akomodasi khusus atlet dan official sesuai peraturan KONI, minimal dengan standar pelayanan hotel bintang tiga.

Selain sukses penyelenggaraan, PON Papua diharapkan sukses administrasi tanpa meninggalkan masalah hukum, sukses ekonomi dengan memanfaatkan momen PON XX sebagai pembangkit peningkatan ekonomi masyarakat setempat, dan sukses pasca-event dengan penguatan rencana pengelolaan venue-venue pertandingan pada pasca penyelenggaraan PON XX Papua 2020, sehingga infrastruktur olahraga yang telah terbangun tidak terbengkalai dan dapat bermanfaat secara maksimal bagi kemajuan olahraga di daerah.

Saya akan menutup dengan mengajak semua elemen masyarakat; pertama mari kita dukung suksesnya PON XX di Papua, kedua kita jadikan olahraga sebagai sarana membangun karakter bangsa dan mempererat persaudaraan dari sabang sampai merauke. Dengan diselenggarakannya PON ini tidak hanya mecari bibit-bibit atlit berbakat saja, akan tetapi bersama-sama membangun bangsa dan Negara melalui olahraga.

“PON XX Papua: Torang Bisa”!!.

 

News Feed