Pesan Pendeta Benny Giay dalam rangka menyambut hari Paskah

oleh

Jayapura, www.kitorangpapuanews.com. Dalam kesibukannya sehari-hari sebagai pendeta, tim redaksi menemui Pendeta Benny Giay yang sudah terkenal sebagai Pendeta yang sering memberikan Khotbah di gereja-gereja. Dalam kesempatan tersebut Pendeta Benny Giay menuturkan bahwa :

Dalam suasana kehidupan bermasyarakat yang penuh tantangan saat ini, dengan penuhnsukacita umat Kristen di seluruh dunia, termasuk Indonesia dan khususnya di Papua, memasuki Hari Raya Paskah, peringatan Kebangkitan Kristus dari kematian. Paskah selalu membangkitkan pengharapan dan kekuatan guna menjalani kehidupan masa kini menuju masa depan, kendati kenyataan hidup di sekitar kita tidak selalu mudah. Khususnya di negeri kita, Indonesia dalam kaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pesan Paskah ini ditempatkan di bawah tema: “BANGKIT DAN BERITAKANLAH TERANGNYA” (Kisah Para Rasul 26:23). Tema ini memberi inspirasi dan sekaligus memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kita kepada makna Kebangkitan Kristus di masa kini, khususnya dalam kenyataan kehidupan kita di negeri ini.

Peristiwa Paskah memiliki makna teramat dalam bagi kita. Kebangkitan Kristus tidak pernah mempunyai analoginya di dalam sejarah. Ia adalah ciptaan baru, yang memperlihatkan secara amat nyata betapa Allah mempedulikan kehidupan sejati manusia. Dalam peristiwa Kebangkitan itu, manusia sebagai gambar dan citra Allah (Imago Dei, Kej.1:26-27) diperlihatkan secara utuh.

Manusia Kebangkitan adalah manusia baru yang memiliki motivasi dan harapan yang kuat dalam membangun dan memberikan manfaat untuk seluruh umat di muka bumi khususnya di Papua. Manusia yang saling mengasihi dan menyayangi dalam kasih-Nya.

Peristiwa Paskah juga menyingkapkan secara sangat jelas betapa Allah setia dengan janji-Nya. Ia adalah Allah yang berintegritas, yang menggenapi apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia konsisten dengan rancangan damai-sejahtera bagi kita, kendati realitas dosa selalu membayang-bayangi kehidupan kita. Pengorbanan Diri Putra-Nya sebagai perbuatan penebusan dan penyelamatan yang membawa pemulihan, adalah wujud integritas dan kesetiaan Allah itu.

Maka sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah itu melalui kehidupan kita sehari-hari. Kita yang telah dianugerahi hidup baru melalui Kebangkitan Kristus didorong untuk membuktikan kesungguhan kita sebagai “anak-anak terang” (Ef. 5:8b).

Karena itu, di dalam menyambut dan merayakan Paskah 2017 ini, kami mengajak saudara/i seiman, baik para pemimpin gereja maupun anggota-anggota jemaat untuk makin memperlihatkan integritas dan kesetiaan sebagai manusia kebangkitan, manusia baru di dalam Kristus yang telah bangkit dengan tindakan-tindakan nyata, khususnya meningkatkan semangat membangun melalui hal-hal berikut:

  1. Perayaan Paskah hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja dan umat beriman guna memastikan diri sebagai yang berada di garda terdepan untuk berbuat kebaikan.
  2. Semangat Paskah hendaknya mendorong gereja-gereja dan umat beriman memperlihatkan secara konsisten pola hidup sederhana, kerja keras, saling berbagi, dan menjadi contoh dalam kebaikan dan sikap toleransi.
  3. Semangat Paskah hendaknya menginspirasi gereja-gereja dan umat beriman guna melakukan pendidikan yang efektif antara lain, di samping khotbah-khotbah, juga melalui kurikulum pengajaran Sekolah Minggu dan Katekisasi, sehingga pemahaman semangat membangun untuk kesejahteraan sudah ditanamkan sejak dini.
  4. Melalui semangat Paskah diharapkan gereja-gereja menempatkan diri sebagai mitra kritis pemerintah. Bersama-sama membantu pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah untuk kesejahteraan.
  5. Dengan semangat Paskah, menolak dengan keras bentuk kampanye gelap dalam bentuk apapun, tolak kepentingan politik kelompok tertentu dengan berkedok doa syukur.
  6. Semangat Paskah, pada akhirnya hendaknya mendorong gereja-gereja menjauhkan diri dari berbagai godaan, seperti misalnya mendukung pasangan tertentu dalam perhelatan Pemilu dan Pemilukada yang ditengarai melakukan money politik, dan sebaliknya memberi penghargaan kepada pemimpin yang takut akan Allah dan benci kepada pengejaran suap (Kel. 18:21).

Di akhir pesannya kepada tim redaksi, Pendeta Benny Giay menutup dengan sebuah Firman yang sangat menyentuh “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef.5:11). “Mari membangun dan membangun, jangan berbuat sesuatu yang sia-sia yang justru akan menyengsarakan kita khususnya orang Papua” tutupnya. (KR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *