oleh

Pertuanan Arguni di Fakfak, Papua Barat

 

Kitorangpapuanews.com – Memiliki pasir putih dan banyak anggrek liar tumbuh di pulau ini. Arguni merupakan sebuah pulau karang unik di Teluk Berau, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.Kenapa unik? Pulaunya berlekuk-lekuk dengan banyak tanjung dan teluk. Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto menyebutkan keunikan Pulau Arguni tersembunyi di ceruk dan tebing karstnya. Pulau Arguni sendiri mulai dikenal di Eropa ketika pada tahun 1678, pelaut Eropa Johannes Keyts berlayar di Teluk Berau dan membuat sketsa gambar-gambar tebing prasejarah di Teluk Berau. 

Selanjutnya pada1937-1938, tim ekspedisi the Forschungsinstitut fur Kulturmorphologie of the University of Frankfurt melakukan eksplorasi di Pulau Arguni. 

Hasil eksplorasi di Pulau Arguni ditulis oleh J. Roder dengan judul Ergebnisse einer Probegrabung in der Hohle Dudumunir auf Arguni, Mac Cluer-Golf (Holl. West Neuguinea) (1940), yang menyebutkan keberadaan situs gua penguburan, situs hunian prasejarah dan situs lukisan tebing prasejarah berwarna merah di Teluk Berau, Fakfak.

Masyarakat setempat mempercayai warna merah pada gambar tebing prasejarah berasal dari darah dan terabadikan di bagian tengah dinding batu karang.  

“Simbol berwarna merah itu sudah ada ribuan tahun lalu. Untuk cap tangan berwarna merah, kisah lisan menuturkan, telah ada ketika nenek moyang mereka tenggelam dan sempat memegang Pulau Arguni,” katanya.

Tidak hanya itu saja, pesona bawah air sekitar Arguni sangat bagus untuk wisata bawah laut, snorkeling, atau diving.

Pusat Pertuanan Arguni

Pulau Arguni juga menjadi pusat Pertuanan Arguni yang dipimpin oleh seorang raja yang memiliki marga Pauspaus. Rumah Raja Arguni ada di pulau ini.

Ciri khas rumah Raja Arguni dikenal dengan dinding pelepah sagu. Oleh masyarakat setempat sang raja dikenal juga dengan nama Raja Bule karena secara turun temurun memiliki ciri khas albino atau berkulit putih.

Penduduk Arguni secara keseluruhan beragama Islam. Rumah warga Pulau Arguni berderet di samping jalan yang terbuat dari semen. Kumpulan rumah makin ke atas bukit mengikuti kontur topografi daratan.

Sehari-harinya, penduduk Arguni hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih untuk dikonsumsi. Sedangkan untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK) mengandalkan air sumur yang payau.

Dengan hasil perikanan yang melimpah, selain dijual ke British Petroleum LNG Tangguh, nelayan Arguni sangat kreatif, mereka mengolah ikan menjadi ikan asin dan abon ikan.

Dibandingkan dengan kampung-kampung lainnya di Teluk Berau, Arguni cukup beruntung karena pulau ini mendapat akses sinyal telepon seluler.

Bulan Juli setiap tahunnya, Pulau Arguni menjadi destinasi wajib bagi bule-bule kapal pesiar dari Bali yang menuju Raja Ampat.

Populasi Kambing

Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke Pulau Arguni mungkin akan heran dengan banyaknya populasi kambing di pulau itu yang banyak berkeliaran.

Kambing merupakan hewan peliharaan favorit masyarakat Arguni. Populasi kambing di pulau ini lebih banyak daripada jumlah penduduk Arguni. Saat ini penduduk Arguni sekitar 300 kepala keluarga.  

Kambing-kambing di Pulau Arguni oleh pemiliknya dibiarkan bebas berkeliaran begitu saja. Untuk menandai kepemilikan masing-masing kambing, biasanya oleh pemilik diberikan identitas kalung warna-warni dari tutup botol minuman.

Kambing-kambing ini biasa masuk-keluar halaman rumah mencari rumput dan sisa sayur-sayuran, serta nasi yang terbuang. Tidak jarang, ada saja kambing yang lompat jendela masuk ke dalam dapur mencari nasi. 

Pada umumnya, kambing-kambing Arguni berukuran tubuh kecil dan kurus karena harus berebut makanan dengan yang lain.

Yang lebih fantastis lagi, komunitas kambing mampu memanjat dinding karang yang terjal untuk mencari makan. Bahkan sangat lincah meloncat dari tebing karang yang satu ke tebing karang yang lain.

Walau begitu, harga kambing di Pulau Arguni cukup fantastis, berkisar Rp 6 juta hingga Rp 8 juta untuk seekor kambing jantan siap potong.

News Feed