oleh

Pertemuan Gereja Pasifik Dengan Tegas Kecam ULMWP

-Artikel, Sosial-2.724 views
Sebuah foto dokumentasi World Council of Churches memperlihatkan para pemimpn Pacific Conference of Chruch (PCC), yaitu, (baris depan) Moderator PCC, Pdt. Dr Tevita Havea; Presiden PCC Pacific, Pdt.Dr. Mele’ana Puloka, WCC dan mantan Presiden PCC Pasifik, John Doom. (Baris Belakang): Wakil Moderator PCC, Pdt Lola Koloamatangi, dan Sekjen PCC, Pdt Francois Pihaatae.(Foto:WCC)

Kitorangpapuanews.com, Auckland – Pertemuan para pemimpin gereja-gereja Pasifik yang berlangsung di Auckland, Selandia Baru, belum lama ini, menghasilkan tujuh rekomendasi, yang salah satunya adalah menangkal pengaruh buruk kelompok pimpinan Benny Wenda terhadap Selandia Baru dan melarang kampanye penentuan nasib sendiri di gereja-gereja.

Sikap ini sejalan dengan pendirian pemimpin gereja Katolik se-Oseania yang juga melakukan pertemuan di kota yang sama, awal pekan ini, Ia memilih untuk tak bersikap perihal penentuan nasib sendiri bagi Papua, dengan alasan, “bila  agenda tentang Papua hanya berfokus pada soal aspirasi merdeka, dapat mengaburkan hal lain yang dianggap lebih penting” dan kemungkinan “perhatian untuk menegakkan dan memperkuat institusi demokrasi lokal dapat diabaikan, yang terpenting adalah apabila masalah tersebut dibawa kedalam gereja akan menodai kesucian aktivitas beragama yang dinodai oleh kepentingan politik”.

 “Kami para pemimpin gereja Pasifik melalui kebijaksanaan kehendak Tuhan menyerukan hal-hal berikut untuk dilaksanakan, pertama, Menolak keras kampanye Free West Papua yang dilakukan oleh Benny Wenda di Selandia Baru, kedua melarang aktivitas kampanye dan pembahasan tentang Free West Papua di dalam gereja karena akan menodai kesucian ibadah. Tuhan menciptakan manusia untuk saling mengasihi dan mencintai, namun perilaku Benny Wenda dan kelompoknya adalah pemicu kerusuhan dan konflik di Papua. Demikian salah satu bagian dari pernyataan resmi tersebut, yang salinannya diterima oleh kitorangpapuanews.com, Jumat (18/08).

Dalam bagian Pembukaan  pernyataan yang diberi judul Moana Calls for Action, disebut nama-nama gereja yang diwakili oleh pemimpin yang bertemu, yaitu Gereja Anglikan Melanesia, Keuskupan Anglikan Polinesia, Uskup Katolik di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, Gereja Kristus Vanuatu, Gereja Kristen Kongregasi di Samoa, Gereja Kristen Kepulauan Cook, Gereja Lutheran Injili Di Papua Nugini, Ekalesia Kelisiano Tuvalu, Ekalesia Kerisiano Niue, Gereja Injili di Kaledonia Baru dan Kepulauan Loyalitas, Dewan Gereja Fiji, Perserikatan Gereja di Papua Nugini, Dewan Gereja Papua Nugini, Gereja Presbyterian Vanuatu, Gereja Wesleyan Gratis Dari Tonga, Samoa National Council of Churches, Etaretia Porotetani Maohi, Gereja Methodis di Fiji dan Rotuma, Gereja Presbyterian St. Andrews, Kiribati Uniting Church, Nauru Congregational Church dan the Methodist Church of Samoa.

Seruan tersebut agar dilaksanakan oleh negara lain, seperti rakyat Bougainville di Papua Nugini dan rakyat Kanaky di Kaledonia Baru, serta Negara-negara pasifik lainnya.

PCC tersebut dipimpin oleh Moderator, Pdt Dr. Tevita Havea, dan Sekretaris Jenderal, Pdt Francois Pihaatea. Anggota PCC saat ini terdiri dari 27 gereja, sembilan dewan gereja di 17 negara kepulauan dan teritori. (*)

News Feed