PERAN MEDIA LOKAL DAN LSM LOKAL PENYEBAR HOAX

oleh

Nduga, Kitorang Papua – Perkembangan kasus pembantaian Nduga berbuntut panjang. Sejumlah hoax, beterbaran di media mainstream lokal Papua. Pemberitaan di-framing oleh media tersebut dengan membiaskan inti kasus pembantaian Nduga. Berikut hoax yang disebar:

  1. Bom fosfor di Nduga. Faktanya aparat hanya menggunakan granat asap dan itu bukan bom fosfor. Granat asap berbeda dengan bom fosfor. (lihat: GRANAT ASAP YANG DISANGKA BOM FOSFOR)
  2. Warga Nduga yang mengungsi di hutan dan kelaparan. Faktanya warga Nduga merayakan Natal dan Tahun Baru 2019 bersama aparat. Warga sangat senang dan mendukung upaya aparat. (lihat: NATAL BERSAMA APARAT DAN MASYARAKAT DI NDUGA)
  3. Pembunuhan sadis terhadap Pendeta Nirigi oleh aparat. Faktanya hal ini hanyalah pengakuan yang belum tentu benar adanya karena berbicara tanpa adanya bukti. (lihat: KEMANA PENDETA GEMINI NIRIGI)

Rangkaian hoax itu semakin kuat menunjukan adanya tokoh-tokoh intelektual di balik kasus pembantaian Nduga. Media mainstream lokal Papua mempolakan bahwa Nduga tertekan dengan kehadiran aparat.

Bahkan sejumlah LSM HAM dan punggawa media di tanah Papua berbondong-bondong ke Papua. Mereka ingin melihat sendiri kondisi Nduga sebenarnya.

Setelah mereka di sana, adakah LSM HAM menelusuri kasus pelanggaran HAM Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Egianus Kogoya?

Adakah punggawa media mainstream lokal Papua membantu mengabarkan berita yang sebenarnya?

Rupanya kebenaran yang terjadi di Nduga itu tidak berarti bagi mereka. Mereka seolah mendukung KKB. Padahal sudah jelas, kasus pembantaian Nduga harus segera diinvestigasi dan ditegakan hukum bagi para pelaku seadil-adilnya.

Apakah peran media mainstream lokal dan LSM lokal ini hanya bertujuan mencari uang, popularitas murahan, dan menyebarkan kecemasan dan ketakutan untuk menakuti masyarakat Papua?

Kitorang Papua harus cerdas melihat ini, jangan sampai terbodohi dan termakan isu hoax. (*)