Pentolan OPM Benny Wenda Grasa-grusu di Sidang Umum PBB, tapi Dapat Kesempatan Bicara di Forum PBB

oleh -139 views
Pentolan OPM yang kembali ke NKRI Nicolas Meset (paling kanan) menjadi anggota Delegasi RI di Sidang Umum PBB New York

Kitorangpapuanews.com- Pentolan separatis OPM, Benny Wenda, pemimpin ULMWP, ternyata turut menghadiri Sidang Majelis Umum PBB yang berlangsung pekan ini di New York.Dia sibuk melobi agar komisioner HAM PBB dapat berkunjung ke Papua.

Sementara itu Pemerintah Australia menyatakan prihatin dengan kerusuhan yang terjadi dan akan terus memantau situasi.

Pemerintah Indonesia telah menuduh Benny Wenda berada di balik kerusuhan di Propinsi Papua dan Papua Barat yang meletus sejak Agustus lalu hingga saat ini.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengisyaratkan bahwa rangkaian kerusuhan ini terkait dengan momentum pertemuan tahunan Dewan HAM PBB di Jenewa serta Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Namun tuduhan itu telah dibantah, baik oleh Benny Wenda maupun oleh Sebby Sambom, jurubicara West Papua National Liberation Army, sayap militer Gerakan Papua Merdeka.

Dalam wawancara dengan stasiun TV SBS Australia, Benny Wenda mengaku sedang berada di New York untuk mengupayakan jalan bagi kunjungan Komisioner HAM PBB ke tanah airnya, Papua.

“Pesan saya ke masyarakat internasional, kami sangat membutuhkan pasukan penjaga perdamaian PBB untuk masuk ke Papua,” ujarnya.

Hal itu, katanya, didorong oleh pertimbangan krisis kemanusiaan yang kini terjadi di sana.

Laporan resmi versi Pemerintah RI mengenai kerusuhan terbaru di Wamena menyebutkan lebih dari 32 orang tewas, kebanyakan warga pendatang.

“Total sudah 32 korban tewas sampai malam ini. Yang ditemukan hari ini terbakar, ditemukan di puing-puing rumah,” ujar Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Candra Dianto, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (25/9/2019) malam.

Dikatakan bahwa sebagian besar korban itu ditemukan dalam keadaan hangus terbakar, serta apa pula yang terkena sabetan benda tajam, panah, dan benda tumpul.

Minta dukungan Australia

Semakin meningkatnya kekerasan dan jumlah korban tewas di Papua mendorong kelompok separatis untuk meminta bantuan masyarakat internasional termasuk Australia.

Menurut Benny Wenda, aksi di Wamena dan Jayapura tadinya berlangsung damai namun aparat keamanan Indonesia menindakinya secara keras sehingga menimbulkan pertumpahan darah.

“Kejadian ini sangat mengkhawatirkan dari segi kemanusiaan. Mereka ini siswa SMA di Wamena, mereka masih anak-anak,” katanya.

Kepada SBS, Benny meminta Australia untuk mendukung intervensi internasional dalam menyelidiki situasi yang terjadi di lapangan.

“Saya mendesak Pemerintah Australia agar bertindak cepat. Kita tidak ingin mengulangi sejarah yang sama dengan yang terjadi di Timor Timur,” ucapnya.

Sementara itu saat konferensi pers di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, PM Scott Morrison dan Menlu Marise Payne dimintai tanggapan soal kerusuhan terbaru di Papua.

Namun, PM Morrison mengalihkan pertanyaan itu ke Menlu Payne yang meminta semua pihak untuk “menahan diri” agar tidak menambah panas situasi.

“Kami tentu saja sangat prihatin dengan laporan mengenai kekerasa di Papua dan Papua Barat,” ucap Menlu Payne.

“Hal ini merupakan permasalahan yang terus dipantau oleh perwakilan kami di Jakarta bersama pihak berwenang di sana,” katanya.

“Kami meminta kedua pihak yang terlibat untuk menahan diri,” tambahnya.

Pentolan OPM Kembali ke NKRI

Kehadiran Benny Wenda di Sidang Umum PBB juga disaksikan Nicolas Meset, mantan petinggi OPM yang lama bermukim di Eropa dan kini kembali ke pangkuan NKRI masuk di delegasi Sidang Majelis Umum PBB ke-74.

Sidang Majelis Umum PBB ke-74 saat ini sedang berlangsung di New York Amerika Serikat dihadiri pemimpin berbagai negara berkumpul di Markas PBB itu.

Delegasi Indonesia di Sidang Majelis Umum PBB dipimpin oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan dihadiri sejumlah menteri Kabinet Kerja.

“Benny Wenda Cs juga sudah tidak aktif seperti di tahun-tahun lalu. BW datang sendiri tanpa membawa senior-seniornya yakni Rex Rumakiek atau Jacob Rumbiak.

Kali ini BW bawa anak-anak muda yakni Oridek Ap, John Anari dan Herman Wanggai,” jelasnya.

Menurut Nicolas Meset, kehadiran Benny Wenda juga tidak jelas kapasitasnya.

“Mereka tidak ada kegiatan, hanya ikut-ikut Delegasi Vanuatu saja dan Gubernur Powes Parkop dari Port Moresby. Jadi kegiatan mereka tidak jelas,” tutur Nicolas Meset.

Lalu bagaimana perhatian negara-negara di dunia terhadap Papua?

Nicolas Meset, tidak banyak negara yang memberikan perhatian secara khusus untuk Papua.

“Mengenai situasi di SU PBB terkait nasib Papua dan apa yang terjadi di Tanah Papua akhir-akhir ini, menurut apa yang saya lihat dan dengar selama beberapa hari ikut kegiatan SU PBB, kelihatan tidak banyak negara yang menaruh perhatian khusus terkait soal Papua terkini,” ujar Nick Messet melalui pesan WA, Rabu (25/9/2019).

Meski negara-negara peserta Sidang Umum PBB mengikuti perkembangan situasi dan kondisi Papua melalui media, tapi tidak ada yang menanggapi.

“Mereka nonton di TV dan baca di surat-surat kabar mengenai situasi dan kondisi di Papua, tetapi mereka tidak beri komentar, apalagi mau angkat isu itu dalam SU PBB,” ungkap Nicolas Meset.

Dalam Sidang Umum PBB, setiap negara yang hadir, menyampaikan masalah yang dialami, dengan harapan menjadi perhatian.

“Setiap negara punya persoalannya masing-masing yang harus mendapat perhatian dari SU PBB dan waktu untuk bicara di atas mimbar SU PBB juga sangat terbatas hanya 10 menit,” terangnya.

Sehingga, banyak negara besar tidak ingin mencampuri negara lain, mereka lebih fokus menyampaikan persoalan di negaranya sendiri.

“Jadi negara-negara besar tidak mau campur soal-soal kecil yang terjadi di Papua dewasa ini. They can only say, Sorry and have sympathi to the Papuans! Apart from that, nothing else (Mereka hanya bisa berkata, maaf dan bersimpati pada orang Papua! Selain itu, tidak ada yang lain),” ucap Nicolas Meset.

Menurutnya, hanya negara-negara kecil yang selalu ingin mengangkat permasalahan Papua di SU PBB.

“Hanya negara-negara kecil di Pacific yang selalu mau angkat soal Papua di SU PBB tahun ganti tahun. Tetapi tidak pernah ada perubahan, jalan di tempat terus,” kata Nicolas Meset.

Nicolas Messet yakin, pada saatnya negara-negara itu bakal bosan membawa isu Papua di dalam SU PBB.

“Negara-negara seperti, Vanuatu, Palau, Marshall Island yang selalu mengangkat isu Papua di dalam SU PBB pasti satu waktu akan jadi bosan sendiri.

Soalnya topik yang mereka bawakan sudah kedaluwarsa untuk negara-negara anggota PBB. Bosan untuk mendengar, the same old story again and again, self determination and freedom for West Papua (Kisah lama yang sama berulang kali, penentuan nasib sendiri dan kebebasan untuk Papua Barat),” tandas Nicolas Meset.