oleh

Pendeta Socrates Sebarkan Berita Provokatif dan Hoax, Ancaman Hukuman Pidana Penjara Enam Tahun

Kitorangpapuanews.com – Pendeta Socrates Sofyan Yoman telah ‘diundang’ oleh polisi Indonesia untuk ‘mengklarifikasi’ sebuah artikel yang ditulisnya tentang insiden penembakan seorang warga Selandia Baru terbunuh di Kuala Kencana.

Penembakan itu terjadi di kantor pertambangan Freeport di Kabupaten Mimika Papua, mengakibatkan kematian Graeme Wall, warga New Zealand dan melukai beberapa karyawan lainnya.

Sebuah faksi Organisasi Papua Merdeka (OPM), Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengakui bertanggungjawab atas serangan itu, sebagai bagian dari kampanye gerilyawan pro-kemerdekaan yang sedang berlangsung untuk menargetkan operasi pertambangan PT. Freeport.

Presiden Gereja-Gereja Baptis Papua Barat, Pendeta Socrates Yoman dalam sebuah artikelnya bulan lalu menjelaskan bahwa militer Indonesia merekayasa serangan di Timika itu untuk membantu agenda keamanannya di daerah tersebut.

Dia juga mengatakan dalam artikelnya itu bahwa polisi dan militer Indonesia berusaha untuk mendiskreditkan gerakan kemerdekaan Papua.

Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan Pendeta Yoman diundang untuk mengklarifikasi pernyataannya, yang menurutnya telah melibatkan polisi dalam serangan penembakan.

Jenderal Waterpauw menjelaskan bahwa jika pemimpin gereja tidak mengklarifikasi atau meminta maaf atas tuduhan itu, berarti jelas bahwa dia mungkin harus bertanggungjawab atas menyebarkan berita palsu.

Di bawah hukum pidana Indonesia, orang dapat dipenjara selama enam tahun karena menerbitkan atau menyiarkan “berita palsu atau tipuan yang mengakibatkan kerusuhan atau gangguan”.

Pemanggilan itu diakui Pdt.Yoman bahwa pertemuan itu dilakukan di Markas Kepolisian di polda Papua, di Jayapura.

 

News Feed