Pasar Tani Jayapura, Tawarkan Komoditas Segar dan Harga Murah

oleh

kitorangpapuanews — Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Papua mengklaim omzet Pasar Tani setiap bulan terus meningkat. Pasar Tani sengaja digelar oleh BI untuk menekan inflasi di Papua. Caranya, BI mengundang petani lokal di Papua, untuk menjual dagangan dari hasil kebunnya.  Omzet Pasar Tani sejak dibuka Juni 2019 terus naik. Catatn BI, omzet Juni 2019, berkisar Rp 20-22 juta, kemudian pada Juli naik menjadi Rp 25 juta dan untuk bulan ini diperkirakan masih naik karena pengunjung bertambah banyak.

Pasar Tani digelar setiap bulan. Agustus 2019 menjadi bulan ketiga bagi pelaksanaan Pasar Tani yang dilaksanakan olehh BI. Petani yang didatangkan BI kebanyakan dari Koya Kota Jayapura dan  Arso, Kabupaten Keerom. Pasar Tani dibuka sejak pagi pukul 06.00 WIT hingga 15.00 WIT di Taman Imbi, Kota Jayapura, mulai 15-16 Agustus. Tak hanya komoditas sayur dan buah-buahan, Pasar Tani juga menjual daging sapi, telur, keripik, sambal yang sudah diolah, beras, bakso dan kebutuhan harian lainnya.

Ketua Penyelenggara Pasar Tani Kantor BI Perwakilan Papua, Luki Riyaningrum mengatakan Pasar Tani digelar untuk menstabilkan harga komoditas, karena harga di pasar bisa berubah cepat. ‘’Pasar Tani bertujuan untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok di pasaran. Kita tahu komoditas seperti cabai, bawang merah, bawang putih pemicu inflasi, hargnya berubah-ubah. Dalam hitungan hari saja harganya bisa setinggi langit,’’ ujar Luki yang ditemui di Pasar Tani Taman Imbi, Kamis sore, 15 Agustus 2018.

Kata Luki, berbelanja di Pasar Tani mendatangkan minimal dua keuntungan, harga murah, sayur dan buah segar atau komoditas yang dijual tanpa pengawet. “Komoditas di Pasar Tani dari orang prtama loh, petani langsung, makanya harganya lebih murah dibandingkan di pasaran,” ujar Luki. Satu kilo tomat segar seharga Rp 5000, telur 1 krak 55 ribu – 60 ribu, cabe keriting Rp 10 ribu untuk 2/3 kilogram, daging Rp 120 ribu/kilogram, bawang merah Rp 40.000/kg dan banyak lagi komoditas yang dijual.

Mirna, petani asal Arso mengaku senang diajak BI untuk menjual hasil kebunnya di Pasar Petani. Meski baru pertama kali mendapatkan kesempatan ini, Mirna mengaku, walaupun menjual hasil kebunnya dengan harga murah, ia masih tetap mendapatkan keuntungan. Yosephina, warga Dok V Jayapura mengaku terbantukan dengan harga murah yang ditawarkan Pasar Tani yang rutin digelar setiap bulan. “Komoditas yang dijual masih segar dan tentunya murah. Kita tak perlu lagi jauh ke Pasar Hamadi atau Youtefa, untuk mendapatkan kebutuhan dapur di rumah,” jelasnya.