Papua Harus Dibangun Melalui Pendidikan

oleh

Kitorangpapuanews.com, Jakarta – Persoalan yang dihadapi para pemuda Papua, khususnya para pelajar, bukan kebodohan melainkan kesempatan, motivasi, dan guru-guru berkualitas yang masih sangat kurang. Oleh karena itu, pembangunan Papua dilakukan dari sisi pendidikan.

Hal itu dikatakan Koordinator Simposium Internasional Pemuda dan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia Korinus Waimbo dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (1/8). Pada 24-27 Juli lalu, PPI Dunia menggelar Indonesian Scholars International Convention (ISIC-SI) 2017 di Universitas Warwick, Inggris.

Salah satu acara di konvensi itu adalah diskusi bertema pendidikan di Papua. Diskusi digelar oleh PPI Inggris Raya (PPI UK) yang tergabung dalam Lingkar Studi Papua (LSP). Acara dihadiri sekitar 40 peserta dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma.

Korinus Waimbo, yang juga mahasiswa S3 di Universitas Exeter, mengungkapkan ada banyak contoh keberhasilan dalam pendidikan sains dan matematika di masyarakat Papua. Hal itu membuktikan bahwa putra daerah asli Papua memiliki bakat di bidang sains dan matematika. Persoalannya terletak pada kesempatan, motivasi, dan kualitas guru yang perlu ditingkatkan lagi.

Yanuar Muhammad Najih dari Tim Kajian PPI Dunia mengungkapkan, keterlibatan para sarjana Indonesia di PPI Dunia tidak hanya bersifat konseptual. Keterliatan itu juga dalam pengabdian masyarakat yang langsung menyentuh masyarakat Papua, khususnya untuk para pelajar.

Dia mencontohkan program “Adik Papuaku”. Inti dari program tersebut adalah memberikan dorongan kepada para pelajar asal Papua yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Terkait dengan itu, Dubes Rizal Sukma menyarankan agar kegiatan PPI Dunia dalam pengabdian masyarakat di Papua dikelola secara lebih terencana serta tidak hanya berdasarkan kesiapan PPI di suatu negara.

Mahasiswa S3 pada Universitas Birmingham, Arie Ruhyanto mengungkapkan peran para “Guru Penggerak” di Kabupaten Puncak dan Intan Jaya, Papua. Hal itu membuktikan adanya nilai-nilai persaudaran di Indonesia.

“Itu membuktikan ada gotong royong dalam mencerdaskan saudara-saudara kita yang kesulitan memperoleh pendidikan yang baik,” ujarnya. Menurut Arie, persoalan mendasar yang masih terus membayangi masa depan pendidikan di Papua adalah memastikan agar program-program pendidikan oleh guru pendatang dapat berkelanjutan. Hal itu termasuk upaya mempersiapkan putra dan putri Papua untuk menjadi guru yang baik dalam hal mengajar dan manajemen pendidikan.

Kandidat PhD dari Universitas Oxford, Willem Burung mengungkapkan, kebanyakan program pendidikan di Papua kurang memperhatikan hakekat dari pendidikan, yaitu pendidikan moral. Menurutnya, perbandingan antara pendidikan moral dan akademis belum seimbang dan lebih menekankan pada sisi akademis.

Sementara itu, simposium merekomendasikan perlunya disusun sebuah buku tentang ide-ide dan pemikiran terkait pendidikan di Papua. LSP juga perlu menjalin kerja sama dengan media yang dapat dipercaya dalam menyebarluaskan gagasan tentang pendidikan di Papua.

Perlu juga dilakukan sebuah proyek percontohan tentang pemberian motivasi kepada para pelajar di Papua agar termotivasi untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Putra dan putri Papua yang berhasil di luar diharapkan kembali untuk membangun daerahnya. Rekomendasi itu diserahkan kepada Dubes Rizal Sukma untuk disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *