Papua Bebas Malaria dan HIV/AIDS 2027

oleh

Kitorangpapuanews.com, Manokwari – Kegelisahan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan soal kondisi kesehatan masyarakatnya tak bisa dibendung lagi. Penyakit malaria dan HIV/AIDS terus terjadi,belum lagi banyaknya petugas kesehatan yang tak berada ditempat tugasnya. Dominggus pun menceritakan kisah seorang ibu yang rela berjalan kaki 8 jam lamanya, untuk tembus ke tempat pelayanan kesehatan terdekat, guna membawa anaknya yang sedang sakit malaria.

“Ini kisah nyata, sang ibu membawa serta anaknya yang berusia 8 bulan karena terserang malaria. Setelah berjalan 8 jam lamanya dari tempat tinggalnya, ternyata puskesmas yang dituju tak didapati satu orang pun petugas kesehatan disana. Kadang kala, banyak puskesmas yang juga kehabisan stok obat malaria. Beruntung si anak dapat dirujuk ke rumah sakit terdekat dan Puji Tuhan sampai hari ini si anak itu sehat,” kata Dominggus dihadapan ratusan  peserta Workshop Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS dan  Gerakan Percepatan Eliminasi Malaria di Papua Barat yang dilaksanakan, 9-10 Agustus 2017 di Manokwari, ibukota Provinsi Papua Barat.

Kisah sang ibu diatas, membuat Pemerintah Provinsi Papua Barat melakukan sejumlah aksi terobosan,  agar kisah sang ibu t tak lagi terulang kepada warga di kampung lainnya di Provinsi Papua Barat. 

“Bayangkan jika ada keluarga kita yang sakit, berapa banyak waktu, tenaga, bahkan biaya yang harus dihabiskan untuk pengobatannya?” Kata Dominggus yang baru 2 bulan lamanya dilantik oleh Mendagri sebagai Gubernur Papua Barat periode 2017- 2021.

Penyakit malaria di Papua Barat mencapai 18,1% pada 2016. Saat ini, 4 kabupaten dinyatakan bebas dari malaria yakni Kabupaten Raja Ampat 1,8%, lalu Kabupaten Sorong 1,3%, Kabupaten Maybrat 0,7% dan Pegunungan Arfak 0,0%.

Sementara angka tertinggi malaria terdapat di Kabupaten Manokwari Selatan 77,5% disusul Manokwari 48,8% dan Teluk Wondama 47,7%. “Target kami, bebas malaria pada 2027. Kita pasti bisa, jika semua pihak harus bergerak untuk memberantas penyakit ini,” kata Dominggus.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat mencanangkan Bebas Malaria Kampung atau disingkat dengan Bela Kampung, guna memberantas  bebas malaria 2027. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Otto Parrorongan menyebutkan aksi Bela Kampung melibatkan masyarakat dan petugas kesehatan, untuk saling mengingatkan bahaya malaria.

Masyarakat kampung juga akan terus menerus diingatkan untuk menjaga lingkungannya, memakai kelambu disaat tidur, melakukan penyemprotan hingga pelatihan kader kampung.

Jaga Pintu Rumah

Tak hanya itu saja, Pemerintah Provinsi Papua Barat bekerja sama dengan Kemitraan Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK) dan Yayasan BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) melalui Program KOMPAK-BaKTI LANDASAN II dan stakeholder terkait, membantu pemerintah setempat melalui program yang mengintegrasikan HIV-AIDS di dalam unit layanan dan kerja kampung, sebagai pusat yang menggerakkan pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS. 

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan menyebutkan sampai saat ini hanya ada 2 provinsi yakni Provinsi Papua dan Papua Barat berdasarkan Survey Terpadu Biologis dan Perilaku tahun 2013, dikategorikan sebagai daerah dengan epidemi meluas dengan prevalensi 2,3%. 

Ini berarti setiap 100 penduduk di Tanah Papua diprediksi akan ada 2-3 penderita HIV.  Angka prevalensi yang sangat tinggi ini masih sangat jauh dari target nasional yaitu  0,5% pada tahun 2019.

Kata Dominggus, tingkat prevalensi setinggi 2,3% menunjukkan bahwa penyebaran HIV sudah sampai ke masyarakat umum. Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat menyebutkan kasus HIV-AIDS mencapai 6.369 kasus. Sebanyak 838 diantaranya sudah meninggal. Bila estimasi penemuan kasus HIV sebesar 20 ribu, berarti baru sekitar 30% kasus yang berhasil ditemukan dan lebih kurang 70% kasus belum berhasil ditemukan.

Untuk mengatasi penyakit HIV-AIDS, Provinsi Papua Barat juga mencanangkan bebas HIV/AIDS pada 2027 dengan pola “Jaga Pintu Rumah” yang artinya, semua orang di lingkungan rumah masing-masing, saling meningatkan kepada penghuni rumah, untuk selalu kembali pulang ke rumah.

“Aksi ini dilakukan antar kelompok rumah masing-masing, agar misalnya si bapak ke kantor, harus melapor kepada ibu atau kepada seisi rumah, agar selalu kembali ke rumah, bukan ke tempat lainnya, begitupun penghuni rumah lainnya” kata Otto, ditemui di tempat yang sama. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *