oleh

ORGANISASI PAPUA MERDEKA (OPM) ADALAH TERORIS, DEMI SIAPA TERORIS OPM INI BERJUANG?

-Artikel-704 views

Kitorangpapuanews.com – Terorisme menurut Wilkinson adalah aksi teror yang sistematis, rapi dan dilakukan oleh organisasi tertentu. Disamping itu menurut Konvensi PB tahun 1937 menyatakan bahwa terorisme adalah segala bentuk tindakan kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas .

Sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menyebutkan bahwa terorisme merupakan tindak pidana yang didefinisikan sebagai kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas umum atau fasilitas internasional.

Pengertian terorisme untuk pertama kali dibahas dalam European Convention On The Suppression Of Terrorism (ECST) di eropa tahun 1977 terjadi perluasan paradigma arti dari Crimes Against State menjadi Crimes Againt Humanity.

Crimes Againt Humanity meliputi tindak pidana untuk menciptakan suatu keadaan yang mengakibatkan individu, golongan, dan masyarakat umum ada dalam suasana teror.  Dalam kaitan HAM, Crimes Againt Humanity masuk kategori Gross Violation Of Human Rights yang dilakukan sebagai bagian serangan yang meluas atau sistematik yang diketahui serangan itu ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, lebih-lebih diarahkan kepada jiwa yang tidak bersalah.

Dalam Pasal 1 Perpu No. 01 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme ( sekarang sudah disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme), bahwa terorisme adalah perbuatan melawan hukum secara sistematis dengan maksud untuk menghancurkan kedaulatan bangsa dan Negara dengan membahayakan bagi badan, nyawa, moral, harta benda dan kemerdekaan orang atau menimbulkan kerusakan umum atau suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, sehingga terjadi kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, kebutuhan pokok rakyat, lingkungan hidup, moral, peradaban, rahasia Negara, kebudayaan, pendidikan, perekonomian, teknologi, perindustrian, fasilitas umum, atau fasilitas nasional.

Dari segi Historis dan yuridis sudah tidak ada celah lagi untuk mengungkit – ungkit bahwa Papua merupakan wilayah yang tak terpisahkan dari NKRI yang diakui secara de facto dan de jure, disahkan oleh Majelis Umum PBB melalui resolusi 2505 pada 19 November 1969, yang artinya Papua telah kembali ke Pangkuan Indonesia dan sudah didukung penuh oleh masyarakat Internasional PBB.

Selama ini Teroris Organisasi Papua Merdeka (OPM)  terus menyebarkan ideologi separatis guna memisahkan diri dari Indonesia. Padahal Teroris OPM selalu menyengsarakan masyarakat Papua dan Papua Barat karena melakukan intimidasi tak berprikemanusian dan menghambat Pembangunan.

Bukan tak mungkin kiprah Teroris OPM yang gencar menyuarakan kemerdekaan atas nama Papua memiliki tujuan lain?, Untuk Kepentingan kelompoknya dengan membawa nama masyarkat papua.  

Jika kasus-kasus Pelanggaran HAM Yang dilakukan Teroris OPM dibiarkan maka yang rugi  bukan masyarakat, melainkan bangsa ini sendiri.

Kemerdekaan yang sesungguhnya berakar dari rasa aman, nyaman dan damai yang mampu didapatkan oleh seluruh warga negara, termasuk Papua. Bagi mereka tak ada yang lebih diinginkan selain menjalani kehidupan dengan tenang tanpa gangguan pihak manapun, termasuk kelompok Teroris OPM.

Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Masyarakat harus tegas dalam memberantas Teroris OPM agar rasa aman rakyat dapat terwujud

Jika rakyat Papua saja sudah menyatakan kemerdekaannya dengan tetap bersama NKRI, Teroris OPM berjuang untuk kepentingan siapa lagi?

 

News Feed