OPINI – NASIONALISME PEMUDA, ‘TIDAK ADA NEGARA DI DALAM NEGARA’

oleh

Jayapura, Kitorang Papua – Melihat adanya upaya rongrongan kepada  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui opini pembenaran tentang pemahaman yang salah terhadap tata bahasa dan istilah, “Merdeka”, “Bendera”, ”Ospek Penentangan Terhadap Negara”, ”Penentangan Terhadap Aturan/Peraturan Pemda”, yang dilakukan pada beberapa kota yang terdapat mahasiswa dari suatu daerah di Indonesia, menunjukan adanya pemahaman yang salah dalam memberikan pendidikan, pengetahuan tentang suatu Negara kepada generasi penerus, hal tersebut menjadikan pola pikir yang salah menjadi hal yang dianggap biasa, wajar, yang sesungguhya akan merusak pola pikir generasi muda dalam mengartikan sebuah kemerdekaan pada situasi sekarang ini, ditambah lagi dengan isu HAM, sara, ras selalu dikaitkan sebagai upaya pendorong meledaknya emosi generasi muda sehingga terpancing dan terprovokasi.

Rasa Nasionalisme pemuda, pelajar dan Mahasiswa Indonesia tidak boleh luntur hanya karena provokasi murahan pihak yang mau mengambil keuntungan dari kericuhan di negeri ini. Sumpah Pemuda yang dideklarasikan 28 Oktober 1928, merupakan sejarah yang menjadi bukti akan tingginya nasionalisme pemuda. Rasa nasionalisme yang dilahirkan dalam sumpah tersebut merupakan sejarah yang menunjukkan begitu dominannya peran pemuda, Mulai era Kebangkitan Nasional tahun 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga Kemerdekaan Republik Indonesia 1945, pemuda selalu menduduki peranan penting.

Akan tetapi dewasa ini, peran nasionalisme pemuda sebagai agent of change seolah mulai pudar dan luntur. Jangankan menjadi pendorong reformasi di negara ini, mencari para pemuda yang mengerti akan butir-butir sila dari Pancasila begitu sulit, sebuah survei yang dilakukan oleh salah satu media terhadap pemuda yang mengerti butir-butir Pancasila, hanya menemukan 3 dari sepuluh pemuda. Ini sungguh sebuah kenyataan yang mengiris hati kita. Malah terkadang eksistensi pemuda selalu memperburuk keadaan Indonesia. Survei itu juga menyebutkan, tawuran maupun kekisruhan yang terjadi di Indonesia saat ini, 75% didalangi oleh pemuda-pemuda bangsa.

Ironisnya lagi, saat ini tingkat perhatian para pemuda terhadap bangsa sangatlah rendah, mereka sangat oportunis terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut bangsa Indonesia, dengan lebih mementingkan suku, ras maupun kelompok tertentu. Inilah beberapa bukti bahwa nasionalisme yang dahulu begitu tinggi, sekarang ini kian memudar dari benak para generasi bangsa. Bila demikian, apalagi yang kita harapkan dari generasi yang diharap harapkan dapat memajukan bangsa ini?

Seperti kejadian yang terjadi baru baru ini di provinsi timur Indonesia, Papua. Ada calon mahasiswa sebuah perguruan tinggi diberi persyaratan oleh oknum mahasiswa yang berniat mempengaruhi mahasiswa lain untuk membawa dan mengenakan gelang bintang fajar (bintang kejora), dan juga membawa papan 30 x 20 cm yang bertuliskan identitas diri ditambah dengan kata “Referendum” walaupun persayaratan ini dibantah pihak rektor bahwa persyaratan itu bukan dikeluarkan oleh pihak kampus karena tidak dibubuhi stempel dan tanda tangan anggota dewan Kampus.

Kejadian berulang di salah satu Sekolah Tinggi, yaitu kegiatan pengenalan kampus atau ospek bagi mahasiswa baru dengan membawa tas noken beratribut ‘bintang kejora’ yang dikenal sebagai simbol gerakan Organisasi Papua Merdeka dari pihak kampus menyatakan kegiatan pengenalan kampus itu telah memenuhi persyaratan memang ada aturan untuk menggunakan noken, noken itu harus asli Papua yang terbuat dari rajutan benang, sebagian besar mahasiswa datang dengan noken biasa, tapi ada 25 orang ini datang menggunakan noken motif bintang kejora.

Pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru hendaknya dilakukan secara sistematis dan terencana dengan baik. Keterlibatan pihak dewan kampus sangat penting sebagai sarana pengawasan guna pencapaian sasaran, makna yang tepat bagi calon mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa. Awal masuk kampus adalah momen penting bagi seorang mahasiswa. Karena adanya pihak yang berusaha mempengaruhi, memprovokasi para pemuda dengan memberikan pemahaman yang salah tentang sejarah bangsa, sejarah yang dibiaskan, ditambah lagi pemuda saat ini tidak mengalaminya secara langsung, hanya mendengar cerita belaka yang kebenaranya tidak jelas.

Upaya pihak tertentu yang mempunyai kepentingan memecah belah bangsa sudah mencoba masuk melalui oknum mahasiswa di beberapa kampus. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan garis pantai nomor dua di dunia juga luas laut yang mencapai 5,8 juta km2 ditambah kekayaan suku, bangsa, dan bahasa, dengan kekayaan alam yang melimpah banyak Negara yang mulai melirik energi alternatif yang memanfaatkan sumber alam nabati. Indonesia, yang menjadi salah satu negara yang kaya akan alam.

Bhineka Tunggal Ika hampir seluruh Rakyat Indonesia tahu makna semboyan Bangsa Indonesia Bhinneka Tunggal Ika berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Mungkin sebagian besar Rakyat Indonesia juga tahu bahwa kata-kata aslinya diambil dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, namun ada keindahan sejarah yang sering kita lupakan terkait pengambilan kata Bhinneka Tunggal Ika sampai menjadi semboyan bangsa Indonesia.

Keindahan toleransi, kata-kata “berbeda-berbeda tetap satu” merupakan sebuah ungkapan bagaimana agama, suku, warna kulit, yang merupakan suatu perbedaan adalah keindahan yang menyatukan, karena semua perbedaan itu berujung pada kebenaran yang tidak berbeda, ‘tan hana dharma mangrwa”. Sebuah ungkapan teoleransi yang sangat indah.

Jadi sangatlah tidak bermartabat jika saat ini di tahun 2018 masih ada segelintir orang yang menbawa bawa kearah perpecahan bangsa melalui kata kata berbeda suku, agama, warna kulit kebudayaan dan lain sebagainya, karena pada abad 14, di Nusantara  sudah diterapkan oleh leluhur leluhur kita sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi Mpu Tantular yang beragama Budha terhadap kerajaan Majapahit yang saat itu beragama Hindu Siwa.

Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, merupakan puncak perjuangan bangsa ini. Jadi, serangkaian perjuangan menentang kolonial akhirnya akan mencapai pada suatu puncak, yakni kemerdekaan. Dengan kemerdekaan, berarti bangsa Indonesia mendapatkan suatu kebebasan. Bebas dari segala bentuk penindasan dan penguasaan bangsa asing. Bebas menentukan nasib bangsa sendiri. Hal ini berarti bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berdaulat, bangsa yang harus memliki tanggung jawab sendiri dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Kemerdekaan adalah suatu jalan ”jembatan emas” atau merupakan pintu gerbang untuk menuju masyarakat  adil dan makmur. Jadi, dengan kemerdekaan itu bukan berarti perjuangan bangsa sudah selesai. Tetapi, justru muncul tantangan baru untuk mempertahankan dan mengisinya dengan berbagai kegiatan pembangunan.

Saat inilah upaya kita untuk terus membangun dan berupaya terus memajukan bangsa dari Sabang sampai Merauke, pulau Miangas sampai pulau Rote jangan kita ciderai dengan opini, provokasi segelintir orang yang mencari keuntungan dari perbedaan perbedaan yang ada di Indonesia dengan kata kata ‘Merdeka’, mari jangan jadikan diri kita terbelenggu dengan penjajahan yang kita buat sendiri, penjajahan diri sendiri karena tidak mau membuka diri, penjajahan karena tidak ingin bangkit maju membangun negeri.

Oleh karena itu, salah satu solusi untuk meningkatkan nasionalisme para pemuda adalah dengan membangunkan kembali ‘ide-ide’ nasionalisme baru secara manifestasi melalui berbagai teori dan praktik sehingga mampu menghasilkan sebuah paradigma yang lambat laun menjadi kenyataan yang universal. Dalam membangun ide nasionalisme secara utuh sangat diperlukan adanya pemahaman dan organisasi berbasis gerakan untuk berinteraksi secara sosial dengan masyarakat. Dengan demikian, pada akhirnya akan terjadi interaksi kuat antara organisasi dan massa dalam satu ide, yaitu nasionalisme.

Tentu, segala upaya ini tidak akan ada artinya bila tidak didukung oleh peran pemerintah pusat dan pemeritah daerah. Oleh karena itu, interaksi secara kontinyu antara pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan. Misalnya, interaksi berupa komunikasi dan diskusi-diskusi intensif dalam memandang pengaruh globalisasi maupun sosial budaya bangsa ini.

Tidak ada negara di dalam negara.

Mari bangun Papua……Papua Indonesia…..Papua NKRI !!! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *