NO POLITIC ISSUES IN CAMPUS AREA!

oleh

Jayapura, Kitorang PapuaHendrik Yanca Udam (Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Rakyat Cinta NKRI) didampingi Ali Kabiay (Ketua Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Papua), Andri Ireuw (Korwil Kota Jayapura) dan Jimmy Hamadi (Korwil Kabupaten Jayapura) memberikan statement keras, terkait dengan munculnya fenomena panitia Ospek BEM Uncen yang melakukan tindakan  mengarah separatis dan pendoktrin ideologi yang salah pada mahasiswa baru.

Hendrik Yance Udam dengan tegas menyatakan bahwa hal itu sebagai tindakan yang memprihatinkan. Universitas sebagai institusi pendidikan merupakan tempat mahasiswa menuntut ilmu, harus terlepas dari politik praktis. BEM seharusnya pada kegiatan ospek memberikan pengenalan bagaimana pengenalan pola belajar dan memberikan gambaran awal kurikulum di perguruan tinggi. Selain itu pembekalan pengembangan kompetensi berdasarkan kearifan lokal pada mahasiswa baru.

“Kalau Uncen tidak mampu membina generasi muda dalam hal ini mahasiswa baru yang mencintai NKRI, lebih baik ditutup saja,” tegas pria yang akrab dipangil HYU kepada awak media di Kota Jayapura, Selasa (14/8).

Menurutnya, apa yang dilakukan panitia Ospek dengan mendoktrin ideologi Papua merdeka tidak boleh terjadi di perguruan tinggi seperti Uncen yang notabene dibiayai oleh Negara.

“Uncen kan bukan dibiayai OPM, melainkan dibiayai oleh Negara Republik Indonesia. Itu berarti Uncen harus bisa tegas untuk memfilter masuknya mahasiswa yang membawa ideologi separatis ke dalam aktifitas kampus,” jelasnya.

Ia pun merasa terkejut dengan fenomena yang terekam melalui video, yang mana mahasiswa baru Uncen didoktrin dengan lagu “kami bukan merah putih, tapi kami bintang kejora” dan juga memakai simbol bintang kejora di gelang tangannya.

Karena itu, ia mendesak Rektor Uncen untuk mengusut, termasuk mengevaluasi kinerja dekan di tiga fakultas, yaitu Fakultas MIPA, Teknik dan Fakultas FISIP. Bila perlu ganti dekan yang bersangkutan dan harus mengganti pengurus BEM yang  menyelenggarakan kegiatan tersebut. Sangat bodoh dan tidak bertanggung jawab sekali jiga para dekan tersebut tidak tahu apalagi sampai membiarkan kegiatan tersebut berlangsung

“Karena di tiga fakultas ini yang muncul kelompok yang membawa ideologi separatis,” ungkapnya.

Ia pun mendesak aparat keamanan, dalam hal ini kepolisian untuk mengusut dan memeriksa para panitia Ospek yang teribat dalam upaya memasukkan ideologi Papua merdeka (separatis) pada aktifitas di Kampus Uncen.

“Kami minta panitia Ospek mahasiswa baru dipanggil untuk mempertanggungjawabkan. Aktor-aktornya kami minta diproses hukum,” tegasnya.

HYU juga meminta agar asrama-asrama Uncen ditertibkan, sehingga benar-benar dihuni mahasiswa, serta menginventarisir sehingga tidak disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk memasukkan idelogi separatis ke dalam kampus.

Di kesempatan sama, Ali Kabiay (Ketua Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Papua) dengan lantang menyatakan mengutuk keras adanya gerakan dengan ideologi Papua merdeka di kampus Uncen.

“Kami menduga ada elit politik yang bermain atas masuknya idelogi separatis tersebut di Kampus Uncen,” tegasnya. Apabila ada mahasiwa yang nermain politik praktis maka tindakan aparat keamanan massuk ke dalam kampus adalah benar. Karena di semua institusi pendidikan melarang tegas adanya politik praktis di lingkungan kampus. Apabila ada oknum mahasiswa melakukan politik praktis harus di tangkap dan di pidana sesuai UU yang berlaku karena mengganggu ketertiban belajar mengajar di institusi pendidikan. NO POLITIC ISSUES IN CAMPUS AREA !!! tegasnya dengan lantang.

Karena itu, ia meminta agar Polda Papua dan Polres Jayapura Kota untuk bertindak tegas dan memanggil panitia Ospek yang terlibat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *