oleh

Negara-negara Pasifik Semakin Tahu Kebobrokan ULMWP

-Artikel, Sosial-1.746 views

Kitorangpapuanews.com, Jakarta – Negara-negara di kawasan Pasifik secara geografis memang relatif kecil, begitu pun jumlah penduduknya cuma ratusan ribu jiwa. Tapi dalam percaturan diplomatis internasional suara mereka tetap potensial menggangu Indonesia, khususnya dalam isu Papua. Sebab dari sekitar 10 negara Pasifik mayoritas punya sentimen khusus terhadap Papua.

Kondisi tersebut diperparah oleh isu-isu negatif yang beredar, yang disebar oleh Kelompok Separatis Papua (KSP). KSP memiliki juru kampanye diluar negeri (ULMWP), sehingga isu tersebut sangat cepat menyebar di Negara-negara tetangga.

Perdana Menteri Tonga, Akilisi Pohiva, misalnya kerap menyuarakan isu Papua di berbagai forum regional dan internasional bersama beberapa pemimpin negara kepulauan di Pasifik seperti Vanuatu, Solomon Island, Nauru, Tuvalu, dan Marshal Islands.

“Khusus Vanuatu, konstitusinya itu ada menyebutkan bahwa mereka belum merasa merdeka jika semua bangsa Melanesia (termasuk Papua) belum merdeka dari Indonesia,” kata Tantowi saat bertemu dengan beberapa tokoh media di Indonesia.

Sayangnya selama ini, nyaris tak pernah ada pejabat tinggi Indonesia yang mengunjungi negara-negara tersebut. Kalau pun ada paling hanya setingkat duta besar pada saat menyerahkan surat penugasan.

Karena itu, dia berharap para politisi di DPR mau membentuk Kaukus Papua dan berkunjung ke negara-negara di Pasifik untuk merangkul mereka dan mengcounter berbagai isu terkait Papua. “Kunjungan ke Eropa dan negara-negara maju lainnya cukup lah, coba sekarang tengok ke Pasifik,” kata Tantowi.

Ia mengungkapkan, Kelompok Separatis Papua (KSP) atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) sangat gencar melakukan upaya penggalangan ke tokoh-tokoh di Pasifik, parlemen, kampus, gereja, budayawan, dan lain-lain termasuk di Selandia Baru.

Tema-tema yang kerap diusung dalam kampanye KSP adalah isu pelanggaran HAM oleh aparat keamanan RI, rasisme terhadap etnik keturunan Melanesia dan diskriminasi, genosida, serta gugatan terhadap proses Pepera 1969, dan hak menentukan nasib sendiri. “Mereka kerap menyebarkan hoax dan memutarbalikkan fakta-fakta terkait Papua,” ujar Tantowi.

Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, telah berusaha keras memberikan informasi yang sesungguhnya terjadi di Papua, bahwa selama ini di Papua semuanya baik-baik saja, isu-isu yang beredar saat ini hanya bentuk pemberitaan yang palsu (hoax) dan kejadian-kejadian yang diputar balikkan faktanya oleh KSP.

Kendatipun ada kerusuhan dan konflik yang terjadi di Papua, itu semua disebabkan oleh ulah atau aksi-aksi yang dilakukan oleh KSP dan KSB. Kelompok-kelompok tersebut seringkali membuat gangguan-gangguan keamanan, sehingga memancing aparat untuk bertindak, namun saat aparat bertindak mengamankan situasi tersebut selalu di putarbalikkan fakta oleh kelompok tersebut bahwa masyarakat papua terintimidasi.(**)

News Feed