MERATANYA PEMBANGUNAN INDONESIA, PAPUA MENJADI CONTOH

oleh

Jakarta, Kitorang Papua – Tulisan ini sangat bagus untuk dibaca dan dipahami lebih mendalam, terutama generasi muda Papua. Artikel yang ditulis oleh Pilar Wirotama, pegawai di Kementerian Keuangan.

Bertahun-tahun kita sering dengar ungkapan yang mengatakan bahwa pembangunan Indonesia hanya berpusat di Pulau Jawa, dan tampaknya hal itu memang benar adanya. Bandingkan saja infrastruktur yang ada di Jawa dengan pulau lain, dan kita bisa melihat bahwa pulau-pulau lain seakan menjadi “anak tiri” di rumah sendiri. Infrastruktur di pulau lain kalah jauh baik dari segi kuantitas maupun kualitas dengan yang ada di Jawa.

Kini, melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) pembangunan infrastruktur merambah ke wilayah-wilayah yang selama ini jarang disentuh. Di dalam PSN, ada 6 kelompok pulau yang memperoleh sebaran alokasi pembangunan infrastruktur, yaitu Sumatera (61 proyek, Rp 638 triliun), Kalimantan (24 Proyek, Rp 564 triliun), Jawa (93 proyek, Rp 1065 triliun), Bali dan Nusa Tenggara (15 proyek, Rp 11 triliun), Sulawesi (27 proyek, Rp 150 triliun), serta Papua dan Maluku (13 proyek, Rp 444 triliun).

Dari sebaran tersebut, terlihat bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia, dari barat hingga timur mendapat jatah pembangunan infrastruktur. Bahkan, Papua yang berada di ujung timur memperoleh alokasi yang cukup besar. Jalan Trans Papua adalah contoh hasil pembangunan infrastruktur melalui PSN. Jalan Trans Papua tembus 908,8 km selama 2015-2018. Terdiri dari 761,57 km di Papua dan 147,23 km di Papua Barat.

Menteri Perumahan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, pembangunan jalan di Papua bertujuan membuka isolasi daerah terpencil, mengurangi biaya tinggi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ia mencontohkan, ruas Merauke-Boven Digoel sepanjang 424 kilometer bisa ditempuh dalam waktu 8 jam. Sebelum diperbaiki, butuh berminggu-minggu untuk menempuh jalur tersebut.

Yang tidak kalah penting, dengan jalan Trans Papua ini masyarakat Papua akhirnya bisa merasakan fasilitas yang hampir setara dengan pulau lain. Jalan di tanah mereka kini beraspal sama dengan di Jawa dan pulau lainnya. Mereka pun merasa diperhatikan dan melihat bahwa negara hadir di tanah mereka untuk memastikan keadilan sosial benar ada bagi rakyatnya. Bukankah itu yang diinginkan oleh pendiri bangsa saat meletakkan Pancasila bagi fondasi negara kita?

Ekonom Emil Salim pun dalam satu kesempatan mengemukakan, “Pembangunan infrastruktur tidak bisa hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga equality, khususnya antara Indonesia Timur dan Barat. Pembangunan (infrastruktur) ini bukan hanya pembangunan ekonomi, tapi juga untuk menyatukan bangsa.”

Selain itu, renovasi yang dilakukan pemerintah di beberapa Pos Lintas Batas Negara (PLBN) seperti Mota Ain, Motamasin, Entikong, Nanga Badau, Aruk, dan Skouw perlu diapresiasi. Bangunan PLBN yang sebelumnya kurang terawat tersebut kini telah direnovasi menjadi bangunan yang lebih besar dan megah. PLBN kini menjadi “among tamu” yang gagah, rapi, dan ramah bagi negara Indonesia, tidak kalah dengan dengan pos perbatasan negara tetangga. Tahun depan, giliran PLBN Sota di Papua yang akan dipercantik. Hal ini tentu sangat membanggakan.

Dan, rakyat perlu terus merasakan kebanggaan atas Indonesia. Rakyat perlu ingat bahwa Indonesia adalah satu bangsa yang besar, dan rakyat perlu bangga bahwa di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan, Indonesia mampu terus membangun infrastruktur. Tak hanya di Pulau Jawa yang secara potensi ekonomi sangat besar, namun juga di wilayah-wilayah lainnya, termasuk Papua. (*)