Menguak Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak Dan Gizi Buruk Di Kabupaten Asmat

oleh -2.662 views

Kitorangpapuanews.com, Jayapura – Sekilas mendengar kata Asmat, seorang seniman pasti langsung teringat tentang salah satu hasil karya masyarakatnya yang mendunia, yaitu ukiran kayu. Ukiran kayu dari Kabupaten Asmat sangat diminati oleh pecinta seni terutama seni ukiran, bahkan sudah mendunia.

Dari potensi tersebut, tentunya Kabupaten Asmat merupakan daerah yang memiliki potensi pariwisata budaya yang sangat baik. Sampai saat ini, perekonomian Kabupaten Asmat saat ini didominasi oleh perdagangan dan usaha mandiri. Industri rumahan seperti ukiran kayu dan barang seni lainnya adalah ujung tombak perdagangan.

Masyarakat pendatang mendominasi usaha mandiri yang ada di Kabupaten Asmat, sedangkan roda perekonomian hanya terpusat didaerah perkotaan saja, sehingga pertumbuhan ekonomi belum merata. Kurangnya pelaku usaha mandiri dari warga asli papua adalah karena minimnya pembinaan dan pelatihan.

Potensi perekonomian yang dimiliki Asmat jika secara maksima dikembangkan dan dibimbing akan menghasilkan peningkatan kesejahteraan pada masyarakatnya sehingga diprediksikan tidak akan terjadi kasus gizi buruk karena kebutuhan dapat terpenuhi.

Namun demikian, kondisi geografis Kabupaten Asmat memang khas daripada daerah lainnya di Papua, Kabupaten Asmat memiliki luas wilayah 23.746 kilometer persegi. Sumber daya hutan termasuk potensial bagi pembangunan perekonomian daerah. Sumberdaya hutan merupakan sumberdaya terbesar yaitu hutan lindung 149.400 ha, hutan PPA 4866.200, hutan produksi 1.464.000 dan hutan produksi yang dapat dikonversi 686.000 ha.

Di samping itu, Kabupaten Asmat juga memiliki tipe hutan yang sangat khas dan sangat lengkap antara lain hutan payau, pantai, rawa/gambut, hujan tropis tanah kering dan basah, hutan musim, hutan sagu, nipa, fungsi dan tipe hutan tersebut memiliki komoditi yaitu kayu dan non kayu, satwa liar dan berbagai ragam biota yang ada didalamnya. Apabila dilihat dari aspek jasa hutan, maka merupakan sarana pendukung lingkungan hidup yang sangat penting dan utama.

Sampai saat ini hutan-hutan tersebut masih terjada dengan baik, sekalipun terdapat hutan yang dapat dikonversi namun tetap memperhatikan keseimbangan ekologi, konversi dilakukan agar Asmat memiliki ragam komoditi yang dapat meningkatkan taraf ekonominya.

Asmat umumnya berdataran rendah, dengan kemiringan 0-8 persen, pesisir pantainya berawa-rawa tergenang air, daerah bagian utara dan timur lebih tinggi dibandingkan pesisir tinggi. Sepanjang tahun, sebagian besar wilayah di Asmat tergenang air, sehingga satu-satunya transportasi masyarakat adalah dengan menggunakan perahu melewati genangan-genangan air.

Hal tersebut juga yang menjadi alasan lambatnya penanganan kesehatan di Asmat karena medan yang ditempuh cukup sulit dengan jarak yang sangat jauh dan hanya dapat ditempuh menggunakan perahu kecil. Kondisi ini juga berakibat kepada kurangnya sumber pengetahuan yang masuk ke daerah-daerah terpencil di Asmat.

Seperti yang dikabarkan, bahwa kasus-kasus wabah penyakit campak dan gizi buruk terjadi di daerah-daerah yang terpencil dan sulit termonitor.

Pertumbuhan pendidikan di Asmat belum menunjukan kemajuan yang berarti, kurangnya pelayanan pendidikan yaitu jumlah tenaga pendidik dan fasilitas sekolah tidak memadai. Sehingga generasi penerus bangsa dari Kabupaten Asmat dapat dikatakan kurang maksimal dalam aspek pendidikan.

Kurangnya kemajuan dalam aspek pendidikan menjadikan generasi Asmat kurang dapat mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia untuk mendukung pengembangan potensi wilayah.

Penanganan permasalahn kesehatan di Asmat sampai saat ini masih belum maksimal, ketersediaan tenaga medis dan fasilitas kesehatan menjadi kendala terbesar. Padahal masalah kesehatan di Kabupaten Asmat cukup serius, sebagian besar masyarakat menderita penyakit malaria, diare, kulit, asma, saluran pernapasan dan cacar air. Beberapa bulan terakhir ini justru ditambah dengan wabah penyakit campak dan kasus gizi buruk yang dialami oleh anak-anak dan balita.

Terbasatasnya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan berakibat terhadap kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bagaimana merealisasikan hidup sehat, menjaga kebersihan dan pengetahuan tentang resiko-resiko penyakit, hal tersebut dikarenakan banyaknya daerah-daerah terpencil di Kabupaten Asmat yang sulit dijangkau.

Kurangnya pengetahuan warga Asmat tentang kesehatan pun diakui oleh Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (purn) Moeldoko, “Kebiasaan masyarakat yang hidupnya kurang care dengan kesehatan. Ini perlu edukasi ya,” ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, seperti dikutip dari tirto.id, Jumat (19/1/2018).

Prasarana dan sarana memegang peranan dalam mendukung pengembangan wilayah, seperti perhubungan, air bersih, listrik dan sebagainya. Prasarana dan sarana yang dibangun masih dirasakan belum dapat memenuhi kebutuhan minimum masyarakat, terutama yang ada pada daerah terpencil, pedalaman. Untuk prasarana dan sarana transportasi diprioritaskan mendukung pengembangan antar wilayah, antar distrik dengan model transportasi terpadu yang dapat melayani permintaan kebutuhan pelayanan.

Berdasarkan potensi, hambatan dan peluang yang ada di Kabupaten Asmat, jelas terlihat bahwa Sumber Daya Manusia memang harus didahulukan, selain sebagai pendukung pembangunan dan pemanfaatan potensi wilayah, juga pengetahuan tentang kesehatan pun perlu di galakkan agar kesejahteraan dalam aspek kesehatan dapat diraih dengan baik.

Perlu adanya perhatian yang lebih dari pemerintah untuk segera merumuskan metode dan mekanisme yang efektif untuk melengkapi warga Asmat dengan pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat dan membangun.

Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko dan Menkes RI, Nila F Moeloek juga mengklaim akan segera merampungkan pembahasan aturan untuk mengangkat para tenaga medis yang berstatus pegawai tidak tetap (PTT) menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Moeldoko mengungkap ada sekitar 4 ribu tenaga medis PTT yang akan diangkat menjadi CPNS.

“(Keputusan Presiden) keluar secepatnya. Ini sudah bulat dari sisi MenPAN tidak ada masalah, keuangan tidak ada masalah, Menkes tidak ada masalah,” kata Moeldoko.

Menurut Nila, tenaga medis tidak tetap yang akan diangkat menjadi CPNS nanti tak hanya dokter. Mereka yang terkena dampak Keppres nantinya mencakup dokter, bidan, dan dokter gigi.

Nila mengklaim ada sekitar 4.100 tenaga medis tidak tetap yang akan diangkat menjadi CPNS setelah Keppres diterbitkan. Ia menjamin penerbitan Keppres dilakukan tahun ini. “Biasanya cepat, yang penting sudah ada keputusan,” kata Nila. (**)

#SaveAsmat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *