oleh

Menelisik “Pernyataan” Forum Oikumenis Papua yang Provokatif dan tidak Mendidik

-Artikel, Sosial-4.712 views

Jayapura – Sebagai masyarakat yang cerdas dalam menyikapi fenomena sosial dan politik yang terjadi saat ini, seyogyanya masyarakat memiliki analisa yang kuat dalam menyikapi fenomena yang terjadi.

Seperti fenomena yang terjadi baru-baru ini di Jayapura, Forum Kerja Oikumenis Gereja-gereja di Papua mengeluarkan surat Gembala yang berjudul “Minum dari Air Sumur Sendiri”, isi dari surat gembala tersebut menengarai beberapa pointer antara lain : Negara mendesain kekerasan secara khusus di Papua, Berdiri bersama jemaat dan Minum dari sumur sendiri.

Saat ini banyak jemaat yang menganalisa secara singkat 3 poin pernyataan, yang di sampaikan oleh Pdt. Dorman Wandikmbo S.Th, Ketua Sinode GIDI di Tanah Papua, Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA, Ketua Badan Pelayanan Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua dan Pdt Dr. Benny Giay, Ketua Sinode KINGMI di Tanah Papua dan pengacara HAM Papua, Frederika Korain SH MPA.

Jika kita lihat dan baca sekilas ketiga poin pernyataan ini, ada satu poin yang dianggap ganjil oleh masyarakat yang membaca, yang disampaikan melalui beberapa media sosial.

Tidak ada masalah dengan pernyataan poin kedua dan ketiga yaitu Berdiri bersama jemaat dan Minum dari sumur sendiri. Kedua poin tersebut mengajak jemaat pada kebaikan dan pembangunan Papua.

Namun sangat disayangkan, tokoh-tokoh yang dihormati oleh jemaatnya ini membuat kesalahan besar dengan memberikan pernyataan “Negara mendesain kekerasan secara khusus di Papua”. Dalam penjabarannya, point kesatu ini berisikan pesan-pesan yang provokatif dan melawan kebijakan pemerintah.

Sehingga para tokoh agama yang seharusnya memberikan ketenangan dan kedamaian malah memberikan provokasi terhadap jemaat sehingga saat ini masyarakat dibuat resah oleh pernyataan yang tidak pantas oleh para tokoh tersebut.

Beberapa keresahan yang dirasakan oleh masyarakat yang diakibatkan oleh pernyataan para pendeta tersebut antara lain : Para tokoh tersebut mendukung secara terang-terangan kelompok KNPB/ULMWP, padahal kelompok tersebut sudah dinyatakan sebagai kelompok anti pemerintah dengan kegiatan-kegiatan yang sudah jelas melanggar Undang-Undang tentang Makar.

Kelompok ini juga terbukti beberapa kali terlibat kasus-kasus kekerasan, perampokan, pembunuhan dan yang terbaru adalah kasus pembegalan dengan kekerasan yang terjadi di Jayapura baru-baru ini.

Sebagai tokoh agama, seharusnya mereka memberikan pemahaman yang damai dan menyejukan, namun ini bertolak belakang, mereka malah menghasut jemaat untuk secara tidak langsung melakukan Makar melawan Pemerintah, hal tersebut membuat banyak jemaat menjadi resah dan khawatir.

Sehingga saat ini banyak jemaat yang sudah tidak simpati dengan para tokoh tersebut, bahkan saat ini beberapa jemaat merasa khawatir dan resah serta merasa tidak nyaman karena kegiatan ibadah seringkali di isi dengan pesan-pesan yang bersifat politik dan provokatif, bukan pesan-pesan yang menyejukkan dan damai. (Dees)

 

News Feed