MASYARAKAT PAPUA GELUTI UMKM TERUS TUMBUH

oleh

Jayapura, Kitorang Papua – Pertumbuhan ekonomi Papua yang terus tumbuh positif telah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Papua. Iklim positif ini dimanfaatkan sejumlah kalangan baik itu pendatang maupun orang Papua sendiri. Masyarakat Papua memanfaatkan kemajuan Papua dengan berdikari menciptakan lapangan usaha sencara mandiri, diantaranya melalui perdagangan mikro.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kota Jayapura, Robert L. N. Awi, mengatakan pelaku UMKM di Kota Jayapura khususnya orang asli Papua (OAP) terus tumbuh.

“Dari 80 persen pelaku UMKM di Kota Jayapura, OAP perempuan ada 60 persen dan 20 persen perempuan non-Papua, yang 60 persen tersebut umumnya bergerak di bidang hasil bumi, kios, kerajinan, dan industri rumahan,” kata Awi, Selasa (12/1).

Lanjutnya, 60 persen OAP yang menggeluti UMKM di Kota Jayapura paling dominan usia antara 30 hingga 50 tahun. Mereka tersebar di lima distrik, yaitu Distrik Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Heram, hingga Distrik Muara Tami.

Upaya masyarakat ini didukung penuh oleh pemerintah, melalui pembinaan dan pendampingan kepada seluruh pelaku UMKM yang diberikan setiap tahun. Tujuannya bila dianggap berhasil maka Pemerintah Kota Jayapura memberikan bantuan agar mereka lebih eksis di dunia usaha.

Awi mengaku sudah ada beberapa UMKM Papua yang usahanya mulai menonjol. Bahkan sudah berani mengajukan kredit ke bank, terutama dari industri ikan asar, industri minyak kelapa, dan kerajinan lainnya.

“Kami harapkan ke depan lebih banyak pelaku UMKM,” katanya.

Untuk pelaku UMKM yang belum berkembang, kata Awi, karena menyangkut kemampuan mengelola keuangan. Misalnya, kalau dapat Rp 100 ribu dipakai habis untuk kebutuhan sehari-hari tanpa menyisakan untuk ditabung, sehingga usahanya sulit berkembang.

Yang menjadi andalan dari sektor UMKM, katanya, adalah kaum perempuan karena sangat rajin, tekun, dan serius untuk menekuni bidang usaha. Karena itu sampai sekarang lebih banyak kaum perempuan yang menggeluti UMKM.

Meski begitu, kata Awi, pada 2019 jumlah penerima bantuan pelaku UMKM OAP menurun dibanding tahun sebelumnya. Dari 2011 hingga 2019 jumlah UMKM tercatat 18 ribu, baik kelompok maupun perorangan.

“Untuk tahun ini jumlah bantuan untuk UMKM asli Papua menurun menjadi 200 UMKM, menurun dari 2018 sebanyak 250, tapi bantuan keuangan meningkat, kalau tahun lalu Rp 1 juta maka tahun ini Rp 2 juta, sumbernya dari dana Otsus,” ujarnya.

Jumlah UMKM OAP yang dibantu menurun karena Dinas mulai mengutamakan kualitas produk dan kesungguhan pelaku. Berbeda dari tahun sebelumnya yang menginginkan sebanyak-banyaknya.

Tati Youwe, pelaku UMKM di Pasar Hamadi, mengatakan tahun ini mendapat bantuan dari Pemkot Jayapura berupa dana dan peralatan.

“Setiap Minggu pendamping dari Pemkot selalu cek usaha kami, saya sudah jalan lima tahun dengan satu kelompok lima orang,” katanya.

Berbagai jenis pernak-pernik aksesoris khas Papua ditampilkan dalam UMKM yang  digelutinya, seperti gelang, kalung, anting, gantungan kunci, bros, tas noken, kotak tisu, hiasan bunga, patung dan lain-lain.

Omset usaha Youwe bisa sampai Rp 5 juta bila sedang mengikuti pameran. Namun sehari-hari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. (*)