Masyarakat Papua : “Anak cucu kita yang akan menikmati jalan Trans Papua”

oleh
Kontribusi Masyarakat membantu pekerjaan jalan Trans Papua (Dok. PU)

Manokwari – Tujuan pemerintah membangun Jalan Trans Papua sepanjang 4.330,07 km yang menghubungkan Sorong di Provinsi Papua Barat hingga Merauke di ujung Indonesia bagian Timur disambut baik oleh masyarakat, khususnya yang selama ini jauh dari hingar bingar keramaian kota.

Seperti Demianus Jopari yang selama ini bertempat tinggal di distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Kondama, Kota Wasior, mengatakan, sebelum ada Jalan Trans Papua transportasi menuju pusat kota hanya dengan kapal.

Menurut dia, transportasi kapal juga tidak selalu menjadi andalan. Sebab, kapal yang biasa ditumpanginya ini tergantung kondisi alam. Jika ombak besar, maka perjalanan menuju pusat kota tidak dapat dilakukan.

“Kita kalau mau belanja ke Kota Wasior pakai transportasi laut,” kata dia kepada wartawan yang tengah melakukan peninjauan Jalan Trans Papua, Manokwari, Selasa (17/5/2017).

Demianus mengaku, sehari-hari aktivitas warga Distrik Wamesa merupakan nelayan dan hanya menjadi petani musiman.

Dia mengaku, adanya Jalan Trans Papua akan memudahkan mobilitas masyarakat Papua, khususnya saat ingin membeli bahan baku atau pokok maupun menjual hasil perkebunan.

Adanya jalan Trans Papua mempermudah mobilitas masyarakat Papua (Dok. PU)

“Kedepannya anak cucu kami menikmati. Kami terimakasih program Jokowi, baik pembangunan, Kami dukung sekali, kalau tembus ya bisa pakai mobil,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Yohan Sayori, salah satu warga Distrik Kamiani, Kecamatan Mowi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan.

Dia mengungkapkan, jalan Trans Papua secara langsung mampu mengurangi beban masyarakat. Pasalnya, selama ini warga Distrik Kamiani, selalu jalan kaki menuju pusat kota Manokwari.

“Kami terimakasih kepada pemerintah sehingga jalan kami dibangun, jalan sangat baik mengurangi beban kita,” kata Yohan.

Dia berharap, jalan Trans Papua khususnya di Papua Barat segera dirampungkan, agaran banyak transportasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

“Sekarang sudah ada jalan menjangkau mobil ke kota, kalau dulu belum ada jalan. Dulu jalan kaki, dari sini sekitar 20 km. Satu hari dari pagi sore sampe. Mobil itu cepat tidak sampai berjam-jam, setengah jam sudah sampai,” ungkapnya. (Dees)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *