oleh

Mahasiswa Eksodus Papua Terancam Tidak Bisa Kembali ke Kota Studi

Kitorangpapuanews.com — Ratusan mahasiswa eksodus Papua terancam tidak bisa kembali ke kota studi. Hal ini dikarenakan adanya intimidasi dari sekelompok pemuda yang juga mahasiswa eksodus

Ketua Tim Pemulangan Mahasiswa Eksodus Papua, Pendeta Alexander Mauri, mengemukakan ratusan mahasiswa eksodus saat ini masih tertahan di Wamena, Jayapura dan sejumlah daerah di Provinsi Papua, karena adanya intimidasi tersebut.

Mauri menyebutkan, telah mendaftar sebanyak 620 mahasiswa eksodus yang tersebar di Jayapura dan Wamena, sedangkan Yahukimo sekitar 30 mahasiswa. Sementara, dari kabupaten lain belum terdata.

“Tapi dari 620 mahasiswa eksodus, ternyata baru 62 mahasiswa yang berhasil diberangkatkan ke kota studinya di sejumlah daerah di Tanah Air sejak akhir tahun 2019 hingga bulan ini,” ungkap Mauri yang dalam jumpa pers didampingi Direktur Perhimpunan Advokasi Kebijakan Hak Asasi Manusia (PAK HAM) Papua Matius Murib dan Ketua Umum DPN Pemuda Adat Papua (PAP) Yan Christian Arebo di Hotel Mercure, Jayapura, Minggu (12/1) kemarin.

Diakui Mauri, terkait pemulangan mahasiswa eksodus ini, pihaknya mendapat tugas dari Polda Papua dan Kodam XVII/Cenderawasih, untuk mengkoordinir

Sementara itu terkait adanya intimidasi, Mauri mengaku, timnya telah menempuh upaya hukum.

“Kami telah membuat laporan Polisi, karena tindakan mereka telah merugikan mahasiswa yang ingin kembali ke kota studi, untuk melanjutkan kuliah. Bahkan ada mahasiswa yang terpaksa batal wisuda,” tegas Mauri.

Di tempat yang sama, Matius Murib mengaku karena keterlibatannya dalam tim pemulangan mahasiswa eksodus, dirinya juga mendapat intimidasi dan di demo sekelompok pemuda tersebut sejak September 20109 lalu.

Masing-masing di Kantor PAK HAM Papua di Padang Bulan, Distrik Abepura, Kota Jayapura. Bahkan di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, ketika sejumlah mahasiswa hendak kembali ke sejumlah kota studinya.

Matius mengaku, total sebanyak empat kali adanya aksi intimidasi, untuk menghentikan pemulangan mahasiswa eksodus ke sejumlah derah di Indonesia.

“Mereka memaksa saya menghentikan pemulangan mahasiswa eksodus ke kota studinya, sebelum mereka bertemu Gubernur Papua dan Ketua MRP,” bebernya

Sementara itu, Yan Christian Arebo menyesalkan tindakan intimidasi yang menghalangi pemulangan ratusan mahasiswa eksodus ke kota studinya.

“Tindakan mereka telah merugikan masing-masing orang tua yang telah bersusah –payah membiayai kuliah anak-anaknya di luar Papua,” tegas Arebo.

Ribuan mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di sejumlah kota studi di pulau jawa, Bali dan Sulawesi terpaksa kembali ke Papua, menyusul tindakan ujaran kebencian/ rasisme terhadap mahasiswa Papua di Asrama Kalasan, Surabaya, pertengahan Agustus 2019 lalu.

News Feed