Konflik kekerasan di Nduga, banyak yang meninggal karena sakit dan mengungsi

oleh

 

 

 

 

 

 

 

 

kitorangpapuanews — Tim Kemanusiaan Kabupaten Nduga, Papua, telah merampungkan verifikasi korban meninggal pasca operasi keamanan di Nduga dan melaporkan bahwa konflik dan kekerasan di wilayah tersebut mengakibatkan 184 orang korban kemanusiaan. Tim Kemanusiaan Kabupaten Nduga telah menuliskan temuan detail terkait korban meninggal dan pengungsi Nduga dalam sebuah laporan yang disampaikan dalam konferensi pers di kantor Yayasan Amnesty Internasional di Jakarta, Rabu (14/8).

Berdasarkan laporan tersebut, sejak Desember 2018 hingga Juli 2019, tim tersebut berhasil mengonfirmasi setidaknya 184 korban meninggal di Nduga. Selain menyebutkan tentang jumlah korban kemanusiaan, tim kemanusiaan Kabupaten Nduga yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nduga juga menyampaikan mengenai kondisi memprihatinkan warga Nduga yang sekarang menjadi pengungsi di kabupaten tersebut.

“Korban terus bertambah dan pengungsi banyak yang meninggal. Mereka meninggal karena sakit, karena hidup lama di hutan. Ada juga yang melahirkan lalu meninggal. Ada juga yang meninggal akibat kedinginan,” ungkap Theo Hesegem, Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua. Theo mengatakan bahwa kondisi memprihatinkan yang dialami warga Nduga adalah akibat dari konflik berkepanjangan antara aparat keamanan dan anggota kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Tidak ada pertolongan medis di pengungsian. Ini dampak dari kekerasan yang terjadi sejak operasi keamanan. Ada tiga aktor dalam hal ini, yaitu masyarakat sipil, TNI/Polri dan OPM,” ujar dia. Theo menyebutkan bahwa dari total 184 orang korban kemanusiaan konflik Nduga itu, terdapat 21 perempuan dewasa meninggal, 69 laki-laki dewasa meninggal, 21 anak perempuan meninggal, 20 anak laki-laki meninggal, 14 balita perempuan meninggal, 12 balita laki-laki meninggal, delapan bayi laki-laki meninggal, 17 bayi perempuan meninggal.