KITORANG PAPUA MENOLAK EGIANUS KOGOYA

oleh

Jayapura, Kitorang Papua – Kitong tra akan lupa. Ulah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Egianus Kogoya yang tidak manusiawi. Egianus Kogoya bukanlah cermin atas perjuangan kemerdekaan Papua. Mereka hanya mencari kepuasan dan tujuan atas kelompok mereka sendiri.

Orang Papua sangat menjungjung tinggi kemanusiaan dan rasa toleransi yang tinggi. Hal ini tampak pada aksi sejumlah tokoh agama muslim, kristen, hindu dan budha yang berunjuk rasa di kantor Gubernur Papua, pada 4 s.d. 5 Maret 2019, menolak segala bentuk intoleransi. (baca)

Bertolak belakang dengan KKB Egianus, orang Papua sejatinya sangat menjungjung kemanusiaan. Lihatlah bagaimana rangkaian aksi kebiadaban Egianus Kogoya.

  1. 22 dan 25 Juni 2018 di Kenyam terjadi penembakan terhadap pesawat sipil. Akibat ulah ini, masyarakat Papua di pegunungan kesulitan mendapat bahan pokok. Karena pesawat pengangkut logistik enggan terbang.
  2. Juni 2018 di Kenyam terjadi pembantaian terhadap satu keluarga, serta membacok anak kecil tak berdosa. Akibat ulah ini, menimbulkan kebencian dan dendam. Masyarakat menuntut keadilan atas kejadian ini.
  3. 3 s.d. 17 Oktober 2018 di Mapenduma terjadi penyanderaan terhadap tenaga kesehatan dan pengajar. Akibat ini, masyarakat pegunungan yang sakit tidak bisa berobat dan anak-anak tidak bisa bersekolah. (baca)
  4. Salah satu korban penyanderaan, yaitu seorang Guru SD diperkosa secara bergilir oleh 6 (enam) orang KKB Egianus Kogoya. Akibat ulah ini, Guru tersebut menerima tekanan psikis yang hebat. Juga terindikasi terkena virus HIV. (baca)
  5. 2 Desember 2018 di Nduga, terjadi pembantaian terhadap para pekerja Trans Papua. Akibat ulah ini, 22 orang tewas.

Rangkaian peristiwa kejahatan ini menunjukan Egianus bukanlah bagian masyarakat Papua. KKB Egianus biadab dan tidak manusiawi. Mereka hanya mencari keuntungan untuk kelompok nya sendiri.

Para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) harusnya membuka mata, melihat bahwa ini adalah pelanggaran berat. Pelaku kejahatan ini harus ditangkap segera, hidup maupun mati.

Kitorang sangat resah, Egianus telah mencoreng kedamaian tanah Injil Papua yang terkenal akan kedamaian dan penuh toleransi. (*)