oleh

Kisah maniis Michael Edoway, sang Penjual Sapu yang rela Berjalanan Kaki untuk Membiayai Kuliah

-Artikel-47 views

kitorangpapuanews.com —  Masing-masing orang punya cara tersendiri untuk bertahan hidup di situasi apapun, termasuk Michael seorang mahasiswa Semester 6 Jurusan Penyiaran, Kampus Stikom Muhammadiyah yang usaha sapu lidi untuk biaya hidup sehari-hari dan kuliah. Bagaimana penjualannya di Masa Pandemi Corona ini?

Udara pagi terasa sejuk dibalik bukit tanjung Ria, Pasir II Distrik Jayapura Utara, Kelurahan Tanjung Ria. Matahari belum terlalu terik di atas kepala, sedang Michael Edoway, sudah menempatkan diri di belakang halaman rumah berukuran 8 kali 16 untuk kembali beraktivitas seperti biasa.

Usai mempersilakan duduk, pelan namun pasti. Michael Edoway, mahasiswa Semester 6 Jurusan Penyiaran, Kampus Stikom Muhammadiyah itu menguraikan secara detail ketika ditanya mengenai usaha sapu lidi yang digelutinya saat pertama dirinya menjadi mahasiswa baru sejak tahun 2017 silam.

Seperti air mengalir, pemuda asal Kabupaten Dogiyai ini menceritakan kisahnya, berjualan sapu lidi untuk biaya kuliah. Namun tangannya tetap bergerak, memilih setiap lidi dan kayu. Begitu lihai dan penuh kehati-hatian ia dalam bekerja. Ditemani es sirup yang baru sja dibelinya, ia lantas bercerita tentang pekerjaannya sebagai pengrajin sapu ini sudah dijalankan sejak 2017 silam. Ia melihat realitas bahwa salah satu aktivitas yang hampir dijalankan orang setiap harinya adalah menyapu yang sudah pasti membutuhkan sapu lidi.

“Sedikitpun tidak merasa malu menjalankan usaha ini, selagi pekerjaan itu halal dan menghasilkan uang untuk saya. Semua orang butuh hidup, walau beda dalam menjalankannya,” ucap pemuda memiliki impian besar untuk menjadi penyiar ini. Sapu-sapu yang dibuat Maikel dipasarkannya di Pasar Mama Papua, Pasar Hamadi, Pasar Pagi hingga Pasar Youtefa. Maikel sendiri yang menjualnya, sering sekali Maikel jalan kaki sembari memikul sapu lidi dari rumahnya Pasir II hingga ke pasar.

Sepanjang perjalanan, ketika menemui orang. Ia kerap kali menawarkan sapu lidi buatannya yang dijual dengan harga Rp 40 Ribu itu.“Sambil jalan, saya teriak “sapu lidi, sapu lidi. Ketemu orang di jalan saya tawarkan, kalau mereka tidak mau beli ya saja jalan lagi,” kisahnya sembari sesekali menyeka keringat di dahinya.

Nasib baik bagi Maikel ketika ia ketemu pejabat, terkadang saat melihat Maikel memikul sapu yang dijualnya langsung diberikan uang. Namun, Maikel tidak mau bergantung pada siapapun. Apa yang menurutnya halal, maka akan ia lakukan meski harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk menghasilkan uang dari sapu lidi yang dijualnya itu.

Dari berjualan sapu lidi itu, Maikel membiayai hidupnya, mulai dari baya uang semester yang terkadang ia mencicilnya, hingga biaya hidup sehari-hari. Ia tidak lagi bergantung pada orang tuanya yang berada di Dogiyai, apalagi di tengah  pandemi Covid-19 saat ini.“Saya sadar ekonomi orang tua saya lemah, sehingga saya luangkan waktu untuk cari uang dengan membuat sapu lidi. Ini tidak sebatas meringankan beban orang tua, namun belajar untuk mandiri, ketika saya selesai diwisuda nantinya, saya sudah bisa mandiri tidak lagi bergantung pada orang lain,” tutur Pemuda yang juga sebagai Ketua BEM di Stikom ini.

Maikel beberapa kali mengalami kendala dengan bahan, namun beruntung ada orang-orang baik di sekitarnya yang kerap mau menolongnya. Sekalipun itu hanya membeli sedotan atau nilon untuk bahan dasar pembuatan sapu lidi tersebut.Untuk bahan seperti kayu dan daun kelapa, Maikel tidak kesulitan mendapatkannya. Sebab, tak jauh dari rumah Maikel bahan-bahan itu tersedia. Maikel hanya mengambil seperlunya saja. “Tapi saat ini sepi pembeli, dulu sebelum wabah ini ada. Sehari saya bisa menjual 50 sapu lidi. Sekarang, hanya 7 hingga 10 sapu lidi yang terjual,” keluhnya, Sepinya pembeli di tengah pandemi Covid-19, membuat Maikel berinisiatif menjual sapu lidi melalui Online. Dimana teman-teman bisa membelinya di akun Facebook bernama Michael Edowai

News Feed