oleh

Ketulusan Hati Guru Pedalaman Papua, Curahan Hati Siswa “Saya Papua, Saya Indonesia”

-Artikel-1.044 views

Kitorangpapuanews.com – Pendidikan, khususnya di daerah pedalaman Papua, masih mengalami banyak ketertinggalan. Hal inilah dialami langsung seorang guru, Diana Cristian Da Costa Ati (23). Saat berada di pedalaman Kabupaten Mappi, Provinsi Papua, dia mengaku prihatin dengan anak-anak usia sekolah yang kurang mendapatkan perhatian di bidang pendidikan dasar.

Ia bersama rekan-rekannya coba merubah nasib pendidikan anak-anak pedalaman tersebut. “Dulunya, sekitar November 2018, anak-anak SD Inpres Kaibusene, Distrik Haju, Kabupaten Mappi sama sekali tidak bisa menyebutkan identitas negara Indonesia. Mereka menyebutkan warna bendera Indonesia adalah Bintang Kejora,” katanya 


Dulu tak bisa lagu Indonesia Raya

Menurut dia, siswa kelas 6 juga tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bahkan lebih fatal lagi Pancasila tidak bisa dihafalkan. Karena itulah Diana termotivasi untuk mengajarkan lagu Indonesia Raya dan Pancasila pada murid-muridnya itu. 

“Saya menangis pertama kalinya, mau dibawa kemana nasib anak-anak ini? Mau salahkan siapa? Kondisi sekolah yang terbatas dengan segala fasilitasnya. Ruangan kelas cuma tiga, sehingga anak-anak yang belajar harus bercampur,” ujarnya. Diana berpandangan, apakah karena kurangnya tenaga pendidik, atau karena malasnya pendidik untuk turun tinggal di daerah sejuta rawa dan ikan betik itu. 

Namun yang pasti bukan salah dari anak didik Diana. “Hal kecil tapi sangat miris ketika di dengar,” imbuhnya. Akan tetapi, hal itu mulai berbeda setelah dia dan rekan-rekannya memberikan perhatian soal pendidikan di SD Inpres Kaibusane. Sebagai guru, ia dan rekannya menyiapkan perpustakaan mini dengan jumlah buku sebanyak 500 buah untuk dibaca setiap pukul 16.00 WIT. 

Hal itu dia rasakan ada perbedaan sejak Februari 2019. Siswanya mengalami perubahan dan punya mimpi besar.

Ingin tidur di kasur empuk

Dari curahan hati siswanya itu, ada yang mengatakan mulai bosan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Anak-anak itu ingin tidur di kasur yang empuk, naik mobil serta ingin naik pesawat. “Mereka berkata,..Ibu sa su capai ka begini terus, saya mau naik pesawat kayak bapak-bapak dorang di Jakarta sana. Naik mobil mewah, sa tra pernah naik mobil Ibu guru? Sa mau tidur di atas spon, sa mau minum air bersih, sa mau jadi orang hebat ibu…,” katanya mengutip curahan hati para muridnya.

Untuk itulah Diana sangat termotivasi ingin memacu anak didiknya agar giat belajar meski dengan segala keterbatasan buku. Namun setidaknya siswanya telah latihan membaca dan menulis. Menurut Diana, mereka mau melakukan semua karena mulai paham pendidikan adalah pedoman menuju kehidupan yang layak. Mereka tidak lagi ingin tinggal di hutan. “Kami guru bersikeras berkata kepada orangtua agar tidak mengajak anaknya untuk meramu di hutan,” katanya.

Berharap ada perhatian Pemerintah 

Sekarang, semua lagu nasional sudah bisa dinyanyikan. Bahkan bahasa Inggris ajaran dasar juga sudah mereka sebutkan dan pahami. “Saya percaya ketika seorang guru bekerja dengan niat baik, leluhur dan nenek moyang orang Papua merestui bahkan Tuhan melihat semua ketulusan kita maka diberkati semua usaha kita,” ujarnya. Untuk itulah Diana berharap ada perhatian lebih soal pendidikan di pedalaman Papua oleh pemerintah daerah, provinsi dan pusat, sehingga anak-anak yang berada di ujung timur Indonesia itu bisa berdiri sejajar dengan saudara lainnya di Indonesia. 

“Saya Papua, Saya Indonesia. Begitu kata anak didik saya yang bermimpi suatu saat nanti seiring matahari terbit di ufuk timur ini, mereka yang kulitnya hitam dan rambutnya keriting bisa menjadi orang nomor 1,” ujar Diana.

 

News Feed