Kerja Keras Generasi Papua Menyatukan Dan Menguatkan Semangat Keindonesiaan

oleh

Jayapura – Berbagai kekawatiran akan masa depan Pancasila, kebinekaan dan NKRI kian membesar dan kegelisahan massal terasa di seantero negeri ini. Namun demikian, Masyarakat Papua saat ini sedang bekerja keras menyatukan dan menguatkan semangat keindonesiaan melawan kelompok separatis di Papua.

Dengan memperhatikan situasi yang amat memprihatinkan tersebut, tokoh-tokoh pemuda Papua yang di awaki oleh Yanto Eluay (Putra Theys Eluay) dan Nulce Monim (selaku Ondoafi Putali Sentani Tengah) Bapk Martinus Maware, SH Ketua LMA Kab. Jayapura menyataan sikap dalam jumpa pers (29/06), bertempat di Pendopo Theys Kp. Sereh  jl. Sentani – Kemiri Distrik Sentani Kota Kab. Jayapura.

Pada jumpa pers tersebut juga di hadiri oleh awak media, baik media massa maupun televise. Adapun pernyataan sikap dari ketiga tokoh Pemuda Papua tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, menolak dengan tegas tanggal 1 Juli sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Papua atau hari TPN-OPM, dan mendeklarasikan bahwa tanggal 1 Mei 1963 sebagai hari kembalinya Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi NKRI dan hendaklah tanggal tersebut diberlakukan sebagai hari libur untuk seluruh Papua.

Kedua, mengajak seluruh masyarakat Papua untuk menengok sejarah dan belajar hidup berbangsa dengan para pendiri bangsa ini. Bangsa Indonesia diperjuangkan dan didirikan oleh tetesan darah dan pengorbanan jiwa para pahlawan dari berbagai agama, suku dan bahasa. Mereka menanggalkan berbagai perbedaan, apalagi egoisme kelompok demi membela dan merebut bumi pertiwi dari tangan para penjajah.

Ketiga, menyerukan kepada semua pihak separatis mulai dari kelompok bersenjata maupun kelompok Politik seperti NFRPB dan KNPB agar menghentikan semua aksi atau demo yang menyerukan kemerdekaan Papua, karena kegiatan aksi makar ini tidak dapat mensejahterakan orang Papua dan hanya menimbulkan perpecahan bagi Bangsa Indonesia sekaligus rakyat Papua yang ada di Tanah Damai ini, sudah bukan saatnya lagi kita bicara Papua Merdeka, kita sudah merdeka dan sekarang waktunya membangun tanah Papua ini demi anak cucu.

Keempat, mengutuk segala bentuk politisasi agama. Dinamika politik yang terjadi cenderung menggunakan agama sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik jangka pendek. Keagungan agama sebagai sumber kedamaian dan ketentraman, inspirasi dan pencerahan dalam hidup telah tereduksi sebagai pengumpul suara dan legitimasi kekuasaan. Politisasi agama telah merusak agama sebagai ranah yang suci, baik, adil dan damai.

Kelima, mendesak kepada pemerintah untuk bertindak tegas terhadap semua pihak yang ditengarai akan merongrong Pancasila, kebinekaan, UUD 1945 dan memecah belah masyarakat dengan berbagai isu. Pemerintah, TNI/Polri tidak boleh takut, apalagi kalah dengan kelompok-kelompok yang membawa ideologi, ajaran, dan doktrin yang bertujuan untuk menghancurkan bangsa.

Keenam, mengajak kepada kepada para mantan pejuang, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemangku adat, Pemuda dan perempuan Papua untuk menerima dan mengakui paguyuban-paguyuban masyarakat asli nusantara yang ada di tanah Papua sebagai masyarakat asli Papua dan orang asli Papua di kampung-kampung seluruh tanah Papua serta jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu murahan dari kelompok-kelompok separatis. (Dees)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *