oleh

Kepala Suku Lembah Baliem (Wamena) Angkat Bicara, dan Detik-detik 500-an Warga Disandera Perusuh

-News, Publik-606 views
Kepala Suku Lembah Baliem (Wamena) Angkat Bicara, dan Detik-detik 500-an Warga Disandera Perusuh. Warga asli Wamena membantu warga pendatang mengungsi saat kerusuhan meletus Senin (23/9/2019)

Kitorangpapuanews.com – Berdasarkan hasil penyelidikan sekaligus pemetaan yang dilakukan Polri diketahui yang melakukan pembakaran dan tindak pidana kekerasan di Wamena, Jayawijaya bukan orang asli atau penduduk Lembah Baliem.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan justru penduduk asli Wamena ikut melindung para pendatang saat terjadi kerusuhan.

“Pelaku pembakaran bukan penduduk asli Wamena (orang Lembah Baliem).

Mereka justru banyak membantu memberi perlindungan kepada para pendatang dengan mengamankan di rumah warga maupun gereja,” kata Dedi Prasetyo kepada wartawan, Minggu (29/9/2019).

Menurut Dedi, kepala suku Lembah Baliem (Wamena) Agus Hubi Lapago secara khusus meminta para pendatang untuk tidak mengungsi karena yakin masyarakat asli Wamena sangat mencintai masyarakat Papua pendatang.

“Karena mereka yakin para perusuh adalah kelompok diluar Wamena,” ujarnya.

Mantan Wakapolda Kalimantan Tengah tersebut meluruskan, sasaran kekerasan tidak hanya ditujukan kepada etnis tertentu saja yang tinggal disana.

Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto mengkonfirmasi jumlah total korban tewas akibat ketusuhan tersebut sebanyak 33 orang.

Namun tidak semua korban tewas karena aksi kekerasan.

“Korban kekerasan 31 orang tewas, tapi yang dua lagi korban karena medis.

Jadi ada satu orang saat kejadian dia jantungan dan meninggal, sementara yang satu karena keracunan asap genset,” tuturnya saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Sabtu (28/9/2019).

“Saat kejadian dia lagi di dalam ruang genset, kemudian bersembunyi di dalam ruang itu sampai keracunan dan meninggal,” sambungnya.

Menurut dia, kini masyarakat di Wamena mulai kembali menjalankan aktifitasnya, namun mereka masih trauma atas kejadian tersebut.

Selain itu, pemerintah sudah mulai menurunkan tim untuk mendata jumlah kerugian yang disebabkan kerusuhan pada 23 September 2019.

“Sudah 100 persen yang disisir, hari ini ada kegiatan pendataan dari PU terkait berapa jumlah rumah yang rusak,” kata Candra.

Diberitakan sebelumnya, dampak kerusuhan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, masih terus berkembang.

“224 mobil roda 6 dan 4 hangus, 150 motor, 465 ruko hangus, dan 165 rumah dibakar,” kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes AM Kamal . Sementara korban luka-luka mencapai 76 orang.

500-an Warga Disandera Perusuh

Akun facebook Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi mengungkap fakta kerusuhan Wamena yang tak banyak diketahui publik.

Ternyata saat kerusuhan meletus, massa perusuh sempat menyandera 500-an warga di pinggiran Wamena, kawasan Pike.

Massa perusuh meminta TNI/Polri membebaskan 6 kawan mereka dibarter dengan pembebasan 500-an warga yang mereka sandera.

500-an warga terdiri balita, anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak ditahan dalam Gereja Kibaid dan Honai.

Sekitar pkl 12.00 WIT negosiasi dilakukan oleh 2 orang negosiator perwakilan TNI/POLRI tanpa membawa senjata berlangsung alot.

Pihak aparat keamanan tidak diizinkan masuk ke wilayah tersebut oleh massa perusuh karena sudah diblokade dan mengancam pihak aparat keamanan apabila melintasi wilayah yang di blokade tersebut maka keselamatan 500-an orang yang tersandera jadi taruhannya.

Proses penyerahan pada pkl 16.30 masih saja berlangsung alot meskipun 6 tersangka massa perusuh sudah dihadirkan untuk ditukarkan dengan 500 warga koban sandera.

Tahap pembebasan warga tersebut belangsung dalam 2 gelombang.

Gelombang pertama penyerahan sandera pukul 19.00 sekitar 400 orang terdiri balita, anak-anak, ibu-ibu dan bapak- bapak yang disandera dihadirkan untuk diserahkan ke aparat keamanan.

Setelah penyerahan gelombang I selesai dilaksanakan, proses penyerahan gelombang ke dua dengan 100 warga yang masih tersandera di Gereja Kibaid dan Honai dilaksanakan pada pkl 22.00 WIT.

Setelah 500 warga berhasil dibebaskan, satu persatu warga koban sandera melintasi blokade disambut haru oleh keluarga yang menunggu di seberang blokade.

Para korban sandera tersebut langsung dievakuasi untuk dibawa ke tempat pengungsian, terlihat pancaran raut muka bahagia, tangis ketakutan dan trauma yang mendalam terpancar dari raut wajah mereka.

5 Tersangka

Hingga Senin (30/9/2019), pihak kepolisian sudah menetapkan sebanyak 5 tersangka terkait kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, Senin (23/9/2019).

“Dari hasil pemeriksaan, 5 tersangka yang sudah ditetapkan oleh polres Wamena,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo di Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan,

Ia belum merinci lebih jauh mengenai peran kelima tersangka.

Namun, Dedi menuturkan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan para pelaku bukan berasal dari Wamena.

Saat ini, Dedi mengatakan bahwa secara umum situasi di Wamena sudah kondusif.

Saat ini, aparat fokus melakukan perbaikan pada fasilitas publik yang rusak.

Nantinya, jika situasi sudah kondusif dan kondisi psikologis para korban membaik, mereka yang mengungsi akan dikembalikan ke rumah masing-masing.

Kepala Suku Lembah Baliem (Wamena) Angkat Bicara, dan Detik-detik 500-an Warga Disandera Perusuh

News Feed