Kelompok Separatis Papua LANGGAR HAM INTERNASIONAL, Gunakan TENTARA ANAK

oleh -78 views

Kitorangpapuanews.com – Nduga – Aksi brutal yang dilakukan kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya ini menjadi sorotan sejak melakukan pembantaian sedikitnya 16 pekerja jalan Trans Papua di Nduga.

KKSB mengambil foto anak-anak usia remaja yang memegang senjata lengkap dengan amunisinya dan muka dicat hitam ala militer. Foto tersebut diambil di suatu tempat terpencil di atas bukit pedalaman Papua pada bulan Mei.

Kelompok Krimnal Separatis Bersenjata  secara terbuka jadikan anak-anak remaja sebagai tentara untuk melakukan tindakan kekerasan, kriminal dan  melawan pemerintahan. Jelas tindakan tersebut melanggar HAM dan konvensi internasional.

Sebby Sambom, yang berbasis di Papua Nugini, mengaku menyadari bahwa perekrutan anak-anak sebagai tentara perang merupakan pelanggaran HAM dan konvensi internasional. Ia juga mengatakan ada lusinan tentara anak berusia 15-18 tahun yang bergabung dengan kelompoknya di berbagai daerah di Papua.

Meski mengetahui perekrutan anak-anak sebagai tentara merupakan pelanggaran konvensi internasional. Namun, dirinya tidak ambil pusing dengan mengatakan hal itu diperlukan untuk melawan pemerintah.

Menurut Kelompok Kerja PBB untuk Anak-anak dan Konflik Bersenjata, dalam hukum Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional, 18 tahun adalah usia legal minimum untuk perekrutan dan penggunaan anak-anak dalam permusuhan.

Hipolitus Wangge seorang peneliti Indonesia yang melakukan wawancara pada orang-orang yang dipindahkan dari Nduga mengatakan penggunaan tentara anak di Papua adalah bagian tindakan melanggar HAM, anak-anak direkrut secara paksa untuk bergabung dengan kelompok separatis  di mana orangtua mereka telah jadi korban dari tindakan kriminal kelompok separatis .