oleh

Kebohongan Benny Wenda sudah keterlaluan, PBB Blacklist Negara-negara Melanesia

-Artikel, Sosial-1.272 views

Kitorangpapuanews.com, Jayapura – Tokoh separatis Benny Wenda mengaku telah menyerahkan petisi 1,8 juta warga Papua yang menyetujui referendum kemerdekaan Papua dari Indonesia. Belakangan dikonfirmasi, petisi itu tidak pernah diserahkan Benny Wenda dan ini bukan kali pertama dia berbohong.

Kepada The Guardian pada Rabu lalu, Benny Wenda mengaku telah menyerahkan petisi tersebut ke Komite Khusus Dekolonisasi PBB. Wenda mengatakan, petisi itu diselundupkan dari desa-desa di Papua untuk menghindari penangkapan aparat.

Namun Ketua Komite Khusus Dekolonisasi PBB (C-24) Rafael Ramirez mengaku tidak pernah menerima petisi dari siapa pun terkait kemerdekaan Papua.

“Sebagai Ketua Komite Khusus Dekolonisasi PBB, saya maupun Sekretariat Komite, tidak pernah menerima, secara formal maupun informal, petisi atau siapapun mengenai Papua seperti yang diberitakan dalam koran Guardian,” kata Ramirez kepada wartawan pada Kamis (28/9), seperti disampaikan dalam pernyataan Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk PBB (PTRI), Jumat (29/9).

Menurut Ramirez isu Papua tidak termasuk dalam agenda C-24. Oleh karena itu dia menegaskan tidak pernah berkomunikasi dengan Benny Wenda, pihak di luar agenda C-24.

Dia menjelaskan, mandat dari Komite Dekolonisasi terbatas kepada 17 Non-Self-Governing Territories. Lebih lanjut ditegaskan fakta bahwa Papua tidak termasuk dalam 17 teritori tersebut. “Saya sedikit resah karena ada yang menggunakan nama saya sebagai propaganda,” ujar Ramirez yang juga menjabat sebagai Duta Besar Venezuela untuk PBB.

Menurut Duta Besar RI untuk PBB, Triansyah Djani, ini bukan kali pertama kelompok separatis Benny Wenda menyebarkan hoax dan kebohongan kepada publik. Kebohongan selalu disampaikan separatis setiap kali ada pertemuan besar yang dihadiri para pejabat tinggi PBB.

“Tahun lalu Benny Wenda pernah menyebutkan bahwa telah menyerahkan dokumen mengenai Papua kepada Sekjen PBB, namun setelah dikonfirmasi ke kantor Sekjen PBB ternyata bohong,” tegas Triansyah.

Triansyah pun menjelaskan bahwa secara faktual, hasil perhitungan pemilu di Papua saja tidak pernah sampai pada hitungan 1,3 juta pemilih, sehingga bagaimana bisa petisi yang di umbar Benny Wenda bisa mencapai 1,8 juta? Sungguh kebohongan publik yang dangkal. (**)

 

News Feed