oleh

Inilah “kelucuan” dari NFRPB

-Artikel, Sosial-1.964 views

Gejolak politik di Papua sudah sejak lama, memunculkan beberapa kelompok yang memiliki kepentingan untuk memenuhi hasrat politiknya. Tak terkecuali Forkorus Yaboisembut yang membentuk NFRPB, manuver-manuver politik yang ia lakukan cukup aktif melalui kampanye-kampanye hitam baik didalam maupun diluar negeri.

Pemerintah telah menentukan sikap dan menetapkan bahwa NFRPB adalah kelompok illegal, karena berusaha mengganggu stabilitas keamanan dan mengganggu kedaulatan bangsa.

Sepantasnya NFRPB ditentukan sebagai kelompok illegal, karena banyak kejanggalan yang menjadi “kelucuan” tersendiri jika kita tahu sepak terjangnya NFRPB, berikut dua hal “kelucuan” NFRPB :

NFRPB Sebar amplop ke masyarakat minta sumbangan

“Presiden” Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB), Forkorus Yaboisembut melaksanakan rapat bersama para aktivis NFRPB (23/5/2017) di Kampung Sabron Yaru Distrik Sentani Barat Kabupaten Jayapura. Dalam rapat tersebut di hadiri oleh beberapa aktivis NFRPB antara lain Eliyas Ayakeding, Marten Samonsabra, Kores Demitouw, Titus Maraesian, Thomas Nasendi, Yosapat Satto, Obni Youw, Jems Tabuni dan beberapa simpatisan NFRPB.

Dalam pertemuan itu, Forkorus meminta kepada para simpatisan dan pengikutnya untuk membagikan dan meyebar 1000 amplop untuk disebar kepada simpatisan dan masyarakat untuk meminta sumbangan dengan target Rp 300.000,00/orang. Dana yang didapatkan nantinya akan digunakan sebagai dana operasional NFRPB.

Ada yang “lucu” dalam tubuh NFRPB, berkeinginan membentuk sebuah Negara dengan meminta sumbangan dari para simpatisannya. Pertanyaannya, sampai kapan simpatisan akan terus dimintai sumbangan??

Beberapa simpatisan perlahan sudah mulai meninggalkan dan keluar dari NFRPB, alasan yang logis karena tujuan mereka bergabung dengan NFRPB

Simpatisan NFRPB diwajibkan membayar iuran

Pada pertemuan itu pun Forkorus mewajibkan para simpatisan untuk membayar iuran sebesar Rp 20.000,00/bulan. Ini merupakan sesuatu yang sangat lucu, karena Forkorus yang membentuk NFRPB dengan tujuan membentuk Negara baru, namun bukannya memberikan kesejahteraan simpatisan malah menarik iuran/upeti kepada para simpatisannya.

Sehari yang lalu NFRPB mengadakan pertemuan ini, saat ini sudah banyak simpatisan yang hendak keluar dari NFRPB. Keluarnya simpatisan NFRPB dikarenakan merasa sudah terlalu banyak di pungut biaya, dan merasa diperas oleh pengurus NFRPB.

Seperti yang disampaikan oleh Boni Wandikbo “Saya mau kelaur saja, karena saya sudah habis uang, saya sudah tidak tahan lagi selalu dimintai uang. Sampai saat ini, kami simpatisan hanya diperas uang, sedangkan pengurus hidup enak saja” tegasnya.

Begitulah “kelucuan” NFRPB, silahkan anda yang pikirkan dan analisa serta putuskan apakah kelompok ini benar-benar membela kepentingan masyarakat Papua atau hanya mencari keuntungan sesaat dengan memanfaatkan kondisi dan situasi politik di Papua. (DS)

News Feed