oleh

HUT RI ke-74 Dinodai Insiden di Malang dan Surabaya

-News-644 views

kitorangpapuanews — Peringatan HUT RI ke-74 pada 17 Agustus 2019 dinodai dua insiden di Malang dan Surabaya, Jawa Timur, yang menjadi topik utama pemberitaan sejumlah media massa dalam beberapa hari terakhir. nsiden itu yakni bentrok antara demonstran mahasiswa asal Papua dengan sekelompok warga atau ormas di Malang, Kamis (15/08), dan pengepungan Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Surabaya oleh ormas dan aparat TNI/Polri, Jumat-Sabtu (16-17/08).

Bentrok terjadi di Malang ketika Aliansi Mahasiswa Papua dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua, menggelar demo damai mengecam penandatanganan New York Agreement antara Pemerintah Indonesia dan Belanda pada 15 Agustus 1962. Aksi demo yang mengecam perjanjian penyerahan Papua dari Belanda kepada Indonesia berakhir ricuh. Para mahasiswa Papua bentrok dengan sekelompok warga. Menyebabkan sedikitnya 23 mahasiswa Papua terluka dan terkena siraman air cabe.

Sehari setelahnya, pada Jumat-Sabtu (16-17/08), aparat TNI/Polri dan ormas mengepung Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Surabaya, Jawa Timur. Pengepungan terjadi karena mahasiswa Papua dicurigai mencopot bendera merah putih di tepi jalan, sementara para mahasiswa Papua menyatakan tidak tahu hal tersebut. Kejadian di Surabaya diwarnai sikap rasisme, represif dan persekusi. Terjadi penyerangan, pengrusakan, pelemparan batu dan puluhan kali tembakan gas air mata ke asrama mahasiswa Papua, diikuti teriakan rasisme.

Ketua Asosiasi DPRD Kabupaten seluruh Indonesia Komisariat Wilayah Provinsi Papua, Terius Yigibalom menyayangkan kejadian di Malang dan Surabaya. Ketua DPRD Kabupaten Jayawijaya, Papua itu mengatakan kecewa dan menyesalkan tindakan intimidasi oleh ormas dan oknum aparat keamanan TNI/Polri serta Satpol PP. Menurutnya, ormas dan TNI/Polri mestinya mengkokohkan dan merawat NKRI yang sudah berumur 74 tahun dengan sikap dewasa, persuasif dan dialogis. Apalagi, Indonesia kini memiliki misi seksi;, yakni ‘SDM Unggul, Indonesia Maju’.

“Apa artinya kalau perayaan HUT RI ke -74 diwarnai peristiwa kekejaman terhadap sesama anak bangsa. Terhadap Mahasiswa Papua yang dianggap sebagai orang pendatang (asing) di negeri ini,” kata Terinus Yigibalom dalam siaran persnya yang diterima redaksi Metro Merauke, Minggu sore (18/08). Katanya, negara mestinya memberikan jaminan keamanan dan perlindungan terhadap mahasiswa Papua yang melakukan demonstrasi di Malang. Bukan justru sebaliknya mengancam dan mengintimadasi mereka, karena itu bentuk sikap berlebihan, dan tidak bijaksana.

Ia mengatakan, sikap seperti ini sudah sering terjadi berulang kali di berbagai pelosok tanah air. Karenanya, ia minta Presiden Joko Widodo, Kapolri dan Panglima TNI mesti turun tangan menyelesaikan masalah ini secara persuasif. “Negara jangan diam dalam aksi teror yang dilakukan oleh ormas sesama anak bangsa di Malang dan Surabaya, sementara kasus konflik di negara Timur Tengah seperti Palestina, negara begitu cepat merespons. Peduli, bahkan turun tangan dan pasang badan menyelesaikannya,” ujarnya.

Penanganan dan tindaklanjut kata Terinus Yigibalom, mesti secepatnya dilakukan agar rakyat Papua bisa merasa nyaman dan damai. Ia khawatir, jika kejadian di Malang dan Surabaya dibiarkan, dapat mengundang reaksi dari seluruh masyarakat Papua.

“Rakyat Papua berpotensi marah dan bisa melakukan tindakan yang di luar kendali. Misalnya sweeping terhadap warga  Malang dan warga Surabaya yang ada di tanah Papua, bahkan berpotensi mengusir mereka keluar dari Tanah Papua,” ucapnya.

News Feed