oleh

Herman Yoku : Keajaiban 10 Jari dan Cucuran Keringat untuk Papua yang Sejahtera

-Artikel, Sosial-2.026 views

Keerom – Barisan Merah Putih adalah salah satu Organisasi Pemuda Papua yang peduli dengan masa depan Papua menggelar Konferensi Pers. Konfrensi Pers yang dilakukan oleh Herman Yoku, Ketua Barisan Merah Putih Kab. Keerom (Mantan OPM) dalam rangka Mengingatkan Kembali Generasi Muda Soal Fakta Sejarah 01 Juli, pada Selasa (20/06) di Distrik Arso Barat.

Menurut Herman, sejarah ini sangat penting bagi seluruh warga bangsa yang ada di muka bumi secara khusus di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), “kalau berbicara sejarah, sejarah itu tidak bisa diulang, oleh karena itu Saya mengajak kita semua untuk mengangkat kembali sejarah perjuangan bangsa Indonesia mulai dari proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai dengan kembalinya Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia,” tuturnya.

Ia pun menegaskan bahwa para pejuang Anak Asli papua yaitu Silas Papare dan Frans Keisepo, Marthen Indey, Korlinus Krey, Raja Rumagesang, Petrus Warribossy, Lukas Rumkorem, Abraham Koromat, Stefanus Rumbewas dan Elias Paprindey, ini adalah tokoh-tokoh pejuang Irian Barat dikala itu, Sejarah itu perlu kita ingat dan tidak bisa dilupakan, karena sejarah itu adalah bagian daripada pengontrol yang Tuhan Allah berikan kepada seluruh bangsa di muka bumi ini.

Silas Papare dan Frans Keisepo meninggalkan jejak yang cukup besar bagi generasi bangsa di tanah air secara khusus generasi muda Papua, mereka merupakan anak-anak pejuang asli Irian yang berjuang tanpa pamrih, tanpa digaji, tanpa diajak oleh siapapun, tetapi sampai dengan hari ini generasi Papua bisa merasakan kenikmatan diatas tanah ini, itu semua karena adanya sejarah, maka sejarah jangan sampai dilupakan.

Herman menyampaikan bahwa dirinya merupakan Salah Satu anak dari pejuang yang selalu menyuarakan sejarah, dan ia pun berharap bahwa sejarah harus selalu didengungkan setiap saat untuk hari-hari kebesaran yang selalu dibanggakan, seperti pada tanggal 01 Mei 1963 merupakan tonggak sejarah Kembalinya Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi, itulah sejarah yang harus dicatat oleh kita generasi-generasi Papua masa kini.

Hal-hal yang lain bisa  dilihat didalam Undang-undang Otonomi Khusus Tahun 2001 yang telah jelas disana makna-maknanya, Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang melahirkan Undang-undang Nomor 21 untuk menuju kepada arah kesejahteraan Orang Asli Papua.

Sehingga tidak ada lagi suara sumbang tentang tanggal 1 Juli itu, karena sudah jelas bahwa 1 Juli adalah hari dimana para pejuang tersebut bersatu untuk berjuang mempertahankan NKRI di Tanah Papua dari Penjajahan Belanda. Herman pun mengajak untuk meninggalkan meninggalkan segala bentuk, pikiran yang tertutup. Ia mengajak untuk lebih terbuka terhadap perubahan, “Mari kita masukkan ke 10 (sepuluh) Jari tangan kita ke dalam tanah agar menghasilkan keringat dan dengan hasil keringat itu bisa kita makan sesuai dengan ajaran orang Kristen yang diajarkan kepada kita umat nasrani di Tanah Papua,” katanya. (Dees)

News Feed