oleh

“Gila!!“ OPM Merekrut & Doktrinisasi Anak Dibawah Umur Melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak

Kitorangpapuanews.com – Pelanggaran undang-undang perlindungan anak di Papua yang dilakukan oleh OPM untuk perekrutan dan doktrinisasi anak di bawah umur kembali terjadi. Foto ini ditemukan pada markas salah satu tokoh OPM, Egianus Kogoya di Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga Papua yang berhasil ditaklukkan Aparat Keamanan minggu lalu. Pada barang bukti yang ditemukan dalam markas OPM tersebut salah satunya ditemukan adanya dokumentasi seorang anak di bawah umur yang sedang memegang senjata otomatis berkaliber besar dengan munisi tergantung di lehernya.

Dokumentasi OPM Dari Barang Bukti Kelompok Egianus Kogoya

Hal tersebut melanggar undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Dalam Bab XIA pasal 76H disebutkan bahwa “Setiap orang dilarang merekrut atau memperalat anak untuk kepentingan militer dan/atau lainnya dan membiarkan anak tanpa perlindungan jiwa“. Selain itu dalam pasal 15 undang-undang perlindungan anak disebutkan bahwa “Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari; penyalahgunaan dalam kegiatan politik, pelibatan dalam sengketa bersenjata, pelibatan dalam kerusuhan sosial, pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur Kekerasan, pelibatan dalam peperangan, dan kejahatan seksual.“

Konvensi Genewa mengenai International Humanitarian Law jelas tertulis bahwa anak-anak harus mendapat perlindungan khusus dalam perang dan tidak boleh dilibatkan dalam kekerasan serta perang. UNICEF yang merupakan organisasi khusus PBB menangani anak-anak menyatakan bahwa mengecam dengan keras keterlibatan anak-anak dalam berperang.

Berdasarkan bukti tersebut,jelas tertulis dan berdasar hukum yang kuat baik nasional dan internasional, bahwa apa yang dilakukan OPM serta seperti yang ditemukan dalam barang bukti yang ditemukan di Camp Lama, markas Egianus Kogoya di Kenyam, Nduga, Papua, adalah suatu tindakan pelanggaran hukum internasional berat yang harus mendapat tindakan tegas.

 

News Feed